Browse By

Homestay–Background

Homestay sudah menjadi bagian dari program beasiswa yang saya dapatkan. Setelah pelajaran bahasa Jepang untuk tahun 2010 usai pada 24 Desember lalu, maka tibalah liburan musim dingin. Liburannya cukup panjang, seminggu lebih, namun untuk para 留学生liburan ini terasa lebih pendek. Ini disebabkan karena adanya homestay. Jadwal homestay adalah dari tanggal 30 Desember hingga 2 Januari. 三泊四日3 malam, 4 hari. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman homestay di Jepang pertama kalinya.
Menurut kakak kelas, homestay itu menyenangkan. Pertama, karena bisa belajar langsung bahasa jepang. Yang kedua, bisa belajar kebiasaan dan budaya orang Jepang. Dan terakhir, juga bisa mendapatkan makanan-makanan yang enak. Saya berpikir, enak juga ya ada homestay. Tapi di lain pihak, saya sendiri cemas dan kuatir, apakah saya bisa berkomunikasi dengan baik atau tidak? Bisakah saya beradaptasi dengan semuanya?
Tanggal 30 Desember pagi, itu saat program homestay dimulai. Paginya, semua barang bawaan sudah saya siapkan. Baju tebal untuk antisipasi suhu yang turun sudah saya disiapkan. Uang untuk keadaan mendesak pun sudah. Setelah itu, kenang-kenangan untuk keluarga itu juga sudah. Semua baju kotor ataupun piring kotor sudah saya cuci bersih. Pokoknya semua sudah beres. Sebelum keluar dari kamar menuju ke Departemen Kerjasama Internasional, saya terlebiih dulu berdoa pagi. Saya berdoa, dan menceritakan semua kekuatiran kepada Tuhan. Setelah itu saya lebih tenang dan keluar dari kamar menuju gedung itu.
Saat sampai, saya melihat beberapa teman sudah sampai. Beberapa lagi sedang pergi ke ATM untuk mengambil uang. Selang beberapa waktu, masuklah beberapa orang Jepang ke dalam ruangan itu. Mereka menjemput teman yang akan homestay. Karena jaraknya dekat, 7 orang teman bisa langsung pergi bersama dengan keluarga itu. Sedangkan 5 orang lagi, termasuk saya, harus pergi dulu ke 橋本駅(Hashimoto Eki), dan naik 電車(densha), karena jaraknya yang cukup jauh. Di sinilah hati saya mulai cemas lagi. Apakah saya bisa bertemu dengan keluarga itu? Apakah saya bisa berkomunikasi dengan mereka?
bersama dengan orangtua asuh

Bersama dengan orangtua asuh homestay di Jepang

Jam 10.30, di 橋本駅(Hashimoto Eki), saya berjumpa dengan “orangtua” homestay saya. Awalnya saya sedikit canggung, tapi setelah itu saya dapat berkomunikasi dengan baik. 4 orang teman lain menggunakan JR Line ke arah 町田(Machida), sedangkan saya menggunakan 相模線(Sagami Line.) Jalur kereta yang belum pernah saya lewati sebelumnya. Cukup lama berbicara, saya mulai akrab dengan ibu itu. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena semua kecemasan saya sebelumnya, sama sekali tidak terjadi. Saya mengerti semua perkataan ibu, dan bisa menjawabnya dengan baik. Saya menceritakan bahwa saya orang Indonesia, tepatnya dari Jakarta. Saya juga punya saudara kembar dan berkuliah di Indonesia. Ibu terkejut dan tertawa. Di dalam kereta, kami terus berbincang-bincang. Saya mengetahui kalau ibu sudah menjadi Katolik, juga anak perempuannya yang ada di tahun kedua universitas., sudah menjadi Katolik juga. Tapi suaminya belum percaya kepada Tuhan Yesus. Kemudian, saya juga bertanya mengenai gerejanya, pendetanya, dan rumahnya.

Tidak terasa waktu berjalan cepat. Setelah naik di 橋本駅(Hashimoto Eki), melewati 南橋本駅(Minami-Hashimoto Eki), kami sampai di 上溝(Kamimizo Eki,) dan turun di sana. Saya kaget, karena rel keretanya hanya satu. Biasanya rel kereta di Jepang lebih dari 2 buah, tapi ini hanya 1. Berarti daerah ini masih sepi dong, pikir saya. Kami turun bersama-sama, melewati pintu karcis, dan berjalan ke rumah ibu.
Di sepanjang jalan, udara sangat dingin. Saya keluarkan syal (マフら) dan sarung tangan (手袋)dan mengenakannya. Kami berjalan 10 menit, dan akhirnya sampai di rumah ibu. Keluarga ibu bernama 高橋 (Takahashi). Dari luar rumahnya sangat bersih dan semua tanaman hias tertata rapi. O ya, keluarga ibu juga memiliki mobil yang diparkir di garasi yang tidak berpagar. Saya menelusuri jalan setapak dari batu ke arah samping rumah. Ternyata, pintu masuknya ada di samping, dan bukan di depan. Saya melihat keadaan sekeliling taman dan melihat bahwa taman itu benar-benar bersih. Ibu membuka pintu dan mempersilahkan saya masuk. Saya masuk dan melepas sepatu. Sembari ibu mencari surippa untu saya kenakan, ibu memangil ayah. ”お父さん”(Otousan)。 Ayah pun keluar dan bertemu dengan saya.

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.