Browse By

Homestay di Jepang Hari 1

Ini lanjutan kisah pengalaman saya saat homestay di Jepang musim dingin 2010. Saya melihat ayah untuk pertama kalinya. Pria berkacamata dan rambutnya sudah mulai putih. Dia seorang yang ramah, dari caranya menyambut saya. Dari obrolan selanjutnya, saya mengetahui kalau ayah sudah berumur 59 tahun, dan ibu 58 tahun. Ayah bekerja di kantor di bidang listrik, sedangkan ibu bekerja sebagai perawat khusus anak kecil. Pertama kali saya masuk ke rumahnya, kesan yang saya dapatkan kalau rumah ini sangat tertata rapi, dari segi arsitekturnya, ornamen, perabotan, dan lainnya. Saya kagum melihatnya.
bersama dengan orangtua asuh

bersama dengan orangtua asuh

Ruangan tidur ditunjukkan kepada saya. Saya meletakkan 鞄(tas) dan おみやげ(oleh-oleh) di dalam kamar, kemudian melepaskan jaket tebal, syal, dan sarung tangan (ini tidak lazim dipakai di dalam rumah orang Jepang). Ibu kemudian menunjukkan di mana トイレ(toilet) dan お風呂(ruang mandi) Saya mengangguk tanda mengerti dan kemudian melangkah ke ruang tamu. Disana ayah sedang mendengarkan radio kecil dengan suara yang cukup besar. Ruangan terasa sangat hangat karena 暖房(pemanas ruangan) yang besar dinyalakan. Saya duduk di sofa. Di sofa saya teringat akan oleh-oleh yang sudah dibungkus dan saya bawa. Saya masuk ke kamar dan mengambilnya. Kemudian saya memberikan oleh-oleh itu di depan ayah dan ibu. Saya mempersilakan ibu membuka bungkus dan kotak tersebut. これは「ウロス」といいます。(Ini adalah ulos dari Indonesia), begitu kata saya saat ibu mengangkat hadiahnya. ああ、ありがとうございます(Terimakasih) balas ibu. Ibu kemudian menyimpan ulos tersebut, dan saya kembali duduk di sofa, untuk melepaskan letih sambil merasakan hangatnya pemanas ruangan.

Ayah kemudian datang sambil membawa beberapa album foto. Ayah kemudian menunjukkan foto tersebut sambil menjelaskan siap yang ada di dalamnya. Dia menjelaskan bahwa sebelum ini ada 3 orang yang pernah homestay di sana. Orang dari Jerman, Kanada, dan Laos. Rata-rata mereka tinggal 6 bulan sampai 1 tahun. Waktu yang sangat lama bagi saya. Saat saya melihat-lihat, ayah kemudian membawa juga laptop dan memasukkan CD ke dalamnya. Saya melihat lebih banyak foto. Ada foto ayah saat di Hakone, foto ibu dan Yuuka, dan foto saat berwisata ke 原爆ドーム(Genbaku Dome) di 広島(Hiroshima). Saya sangat terkesan dengan kebaikan keluarga ini kepada siswa sebelumnya.

Kemudian ibu memanggil saya dan ayah untuk makan siang. Saya merapikan album foto dan ayah merapikan laptop. Kira-kira jam setengah 3 kami makan siang. Menu makan siangnya adalah さしみ(sashimi), dengan ikan mentah, ikan teri mentah dan telur ikan. Apel juga tersedia sebagai pencuci mulut. Saya makan dengan lahapnya, karena memang saya sudah terbiasa dengan makanan mentah. Setelah selesai makan, saya kembali duduk di sofa, beristirahat. (karena saya tidak tahu harus melakukan apa) Ayah kemudian mengeluarkan sebuah kotak besar dan beberapa buku yang sudah dijilid. Dari dalam kotak itu, ayah mengeluarkan pra-model pesawat. Sangat keren! Dari buku juga dapat dilihat cara-cara merakitnya. Walaupun saya tidak mengerti semua kanji, namun saya bisa sedikit mengerti dari gambarnya. Sambil melihat buku, saya mengecek pada pra-model yang asli, dan sungguh sangat keren. Ketelitian, keseriusan, dan kesabaran mutlak diperlukan untuk dapat menyelesaikannya.

Ayah kemudian pergi ke luar, dan saya tetap melanjutkan membaca buku tersebut. Tidak di sengaja, saya tertidur di sofa sambil memegang buku. Kemudian saya merasakan ada orang yang mengambil buku tersebut dan meletakkan selimut tebal di badan saya. Saat terbangun saya lihat keadaan sekitar, sangat gelap, walaupun baru jam 5 sore. Baru saja saya berdiri, lampu menyala. Ternyata anak perempuan ayah sudah pulang dari sekolah Saya memperkenalkan diri kepadanya. Kemudian dia mengambil jaket tebal dan pergi ke luar rumah. Ternyata dia harus bekerja sambilan. Saya kembali beristirahat sejenak di sofa dan ibu datang dengan membawa belanjaan yang cukup banyak. Saya bertanya, adakah yang bisa saya bantu.

Ibu bilang agar saya memotong-motong daging 鶏肉(daging ayam), 長ネギ(daun bawang), dan beberapa sayuran. Saat ayah datang, ayah segera mengambil panggangan dari atas lemari dan meletakkannya di tengah-tengah meja. Rupanya makan malamnya adalah バーベキュー(barbeque). Saya semua bahan sudah siap, kami bersama-sama duduk di meja makan bertiga. Yuuka tidak ikut karena harus bekerja sambilan hingga pukul 11 malam. Saya makan daging dan sayuran dengan lahapnya. Sungguh enak!

Setelah itu saya dan ayah menonton televisi. Saat itu ada acara mengenai  persiapan menyambut tahun baru esok hari. Para artis berkumpul dan semua berlatih bersama. Saat waktu menunjukkan pukul 9 malam, ibu menanyakan pada saya, apakah mau お風呂(ofuro) atau シャワー(shower) saja. Saya menjawab shower saja. Saya mandi malam dengan air hangat. Setelah mandi, mata ini terasa sangat berat, saya memilih untuk tidur malam saja. Saat ibu gantian ofuro, saya sudah masuk ke kamar tidur. Sebelum tidur, saya mengatakan おやすみなさい(selamat malam) kepada ayah. Selang beberapa waktu, ibu yang telah selesai ofuro juga mengatakan hal yang sama, dan saya juga membalasnya.

Sesaat sebelum tidur, ayah menjelaskan kepada saya mengenai 布団(alas tidur orang Jepang). Bagaimana cara meletakkan dan merapikannya. Setelah semuanya selesai, saya memakai semuanya, namun masih merasa kedinginan. Tapi beberapa saat kemudian, sudah mulai menghangat. Ya, saya tertidur pulas hari itu.

*******
(Satu pelajaran yang saya dapatkan: orang Jepang sangat hemat dalam menggunakan listrik. Kalau tidak perlu, mereka tidak akan menggunakan listrik. Tata ruang rumah juga ditata sedemikian rumah agar terang saat siang hari. Tidak lupa, di bagian luar jendela dibuat semacam penghalang agar udara dingin tidak masuk ke dalam rumah saat malam tiba. Orang Jepang juga selalu memeriksa peralatan listrik sebelum keluar rumah, dan sebelum tidur. Untuk di rumah homestay saya, saya selalu membantu mereka. Saya mengecek pemanas ruangan, televisi, dan humidifier sebelum tidur).

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.