Browse By

Mencintai tidak Harus Memiliki

Hampir dua tahun yang lalu sejak saya menuliskan sebuah refleksi pengalaman saya di Nusa Penida Bali mengenai mengasihi tidak harus memiliki. Kisah tersebut adalah kisah bagaimana keluarga Pak Mahmudin dengan tulus menjaga Abdul setiap hari saat kedua orangtuanya bekerja (baca di sini: Mengasihi Tidak Harus Memiliki).

Apa Maksudnya Mencintai tidak Harus Memiliki?

Mengasihi memiliki kata dasar kasih. Bila ditelusuri penambahan imbuhan pada kata dasar ini, mengasihi berarti memberikan atau melakukan kasih. Mengasihi adalah perintah Allah bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Alasannya bukan untuk memperoleh berkat karena sudah berbuat baik atau supaya masuk sorga, semata-mata adalah sebagai rasa syukur kita karena kita sudah begitu dikasihi oleh Allah sebelumnya. Kasih yang begitu agung dan mulia yang seakan-akan membuat kita tidak akan tega untuk membagikan kasih itu kepada orang-orang di sekitar kita. Ah, terlalu picik rasanya jika kasih itu saya simpan sendiri tanpa ada keinginan untuk membagikannya.

Mengasihi orang lain memang menjadi keharusan bagi setiap kita, namun tak dapat dipungkiri, sejujurnya mengasihi menuntut banyak pengorbanan dan kerelaan hati dari yang melakukannya. Dan itu sangat sulit dilakukan.

Sejujurnya, tulisan itu merupakan refleksi dari pengalaman pribadi saya yang juga dialami oleh dua orang sahabat saya. Menjelang kepergian mereka ke tempat KP kami banyak bertukar cerita dan baru menyadari bahwa mereka berdua menyukai cewek yang sama. Sudah sama-sama pendekatan dan berdoa, namun akhirnya, cewek ini memilih orang lain. Orang ketiga yang kami sama-sama kenal. Beruntung, kedua orang teman saya berada jauh dari Bandung dan tidak langsung menyaksikan cewek ini jadian. Hari-hari itu saya berada di persimpangan, berada di tengah, diantara empat orang teman dan sahabat yang sama-sama saling menyukai. Dua bulan kemudian, saat kami semua dipertemukan kembali di tahun terakhir perkuliahan, semuanya sudah berubah. Persahabatan kami memang baik-baik saja, namun tidak lagi sedekat dulu.

“Mengasihi tidak harus memiliki” menjadi kalimat mantra yang saya pikir dapat memperbaiki semua hal. Memperbaiki hubungan atau mengembalikan semua seperti sedia kala. Seperti dulu lagi. Namun, mantra ini tidak cukup kuat. Saya butuh satu dimensi lain, dimensi waktu. Waktulah yang perlahan memulihkan hati yang terluka. Hati yang merasa dikhianati dan disakiti. Dan saya menjadi saksinya. Setahun setelah kejadian itu, semua kembali seperti semula.

Hampir setahun juga sejak saya menuliskan refleksi lanjutan mengenai kebahagiaan (baca juga: Apakah Aku Bisa Bahagia?). Tulisan yang didasari dari pengalaman pribadi saya di malam sebelumnya: berjalan kaki bersama dengan seorang teman cewek setelah pulang nonton bersama. Cewek ini adalah cewek yang setahun lalu menjadi perebutan tiga orang teman saya. Beberapa hari sebelumnya, ada cewek lain yang saya kenal juga putus dari pacarnya. Sudah hampir dua tahun mereka berpacaran. Saya tidak tahu mengapa kedua cewek ini akhirnya memutuskan hal tersebut, namun yang saya tahu keduanya cukup terpukul. Kebahagiaan seharusnya menjadi milik kedua cewek ini: Dua orang wanita yang begitu setia dan tulus dan sangat layak untuk diperjuangkan.

Itulah yang saya rasakan saat saya mengadakan makan bersama di Gelap Nyawang sore itu sebelum saya diwisuda. Kami duduk bersanding dan berbicara banyak hal: masa depan, pekerjaan, teman hidup, hingga undangan menikah. Hari itu saya bersyukur semuanya “kelihatan” sudah pulih. Saya tidak memiliki waktu lagi untuk berupaya memperbaiki persahabatan ini ke arah yang lebih baik lagi. Saya memohon maaf atas kesalahan ucapan dan tindakan saya kepada mereka selama empat tahun ini. Walaupun saya harus meninggalkan mereka semua lebih dahulu dari ITB, saya akan terus berdoa untuk kebaikan mereka semua. Entah kalau akhirnya diantara mereka ditakdirkan untuk menjadi pasangan.

Saya bersyukur di masa-masa akhir saya ada di Bandung saya juga dapat terus menyatakan kasih saya kepada teman-teman dan sahabat. Hari-hari itu saya juga sadar bahwa sebenarnya saya juga menaruh perasaan kepada seorang wanita yang mungkin tidak dapat saya miliki, setidaknya untuk saat itu. Masa-masa pendekatan akhirnya berakhir begitu saja. Entah apa alasannya, namun hati ini mengatakan tidak untuk hal tersebut.

Mencintai tidak Harus Memiliki

Tulisan saya mengenai “Mengasihi tidak harus memiliki” dua tahun lalu hanyalah sebuah refleksi saya untuk “menyindir” diri saya sendiri dan teman-teman saya. Judulnya pun saya plesetkan untuk menyambung refleksi kasih yang saya temukan di Nusa Penida hari-hari itu. Namun, tulisan ini adalah tulisan penebus kesalahan saya. Kesalahan yang saya lakukan bagi teman dan juga bagi diri saya sendiri. Sebuah refleksi yang mencoba “untuk menjadi ikhlas dan tulus” bahwa memang, “mencintai tidak harus memiliki”. Mencintai seseorang tidak melulu harus berakhir di mana “saya” dan “dia” menjadi pasangan, berpacaran, menikah, dan hidup bersama. Mencintai seseorang juga adalah saat kita mampu melihat dan mendoakan yang terbaik bagi dia, meskipun itu bukanlah dengan kita. Bukan sebuah bentuk pelarian atau bentuk tindakan pengecut: yang tidak mampu mengatakan perasaan yang sebenarnya. “Mencintai tidak harus memiliki” juga bukan mantra yang dapat membuat semuanya kembali menjadi baik seperti semula saat hati begitu sakit melihat orang yang kita cintai akhirnya memilih orang lain. “Mencintai tidak harus memiliki” adalah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan: bahwa Ia memiliki rencana yang baik bagi Anda dan bagi dia yang Anda cintai. Kebahagiaan tidak selalu terjadi dengan menjadi sepasang kekasih bukan? Kebahagiaan adalah saat kita mampu turut serta dalam kebahagiaan orang yang kita cintai.

Mencintai tidak Harus Memiliki

Mencintai tidak Harus Memiliki

Saya cukup tergugah saat menonton film komedi romantis yang diberikan oleh seorang teman di kantor. Film ini bercerita mengenai beberapa anak remaja cowok di Taipei. Menjalani kehidupan sekolah dengan berbagai keunikan dan kisahnya masing-masing. Mereka sama-sama menyukai seorang gadis yang paling pintar di sekolah. Paling cantik juga. Seorang cowok akhirnya memiliki kesempatan untuk mendekati gadis ini dengan sama-sama belajar. Hubungan mereka akhirnya menjadi dekat dan benih-benih cinta itu mulai tumbuh. Cowok yang awalnya malas belajar ini akahirnya dapat lulus dan masuk ke universitas. Di masa kuliah, si cowok selalu menelepon gadis dan sempat mengajaknya untuk liburan musim dingin bersama. Mereka menghabiskan waktu bersama dan menanyakan perasaan satu sama lain. Setelah menjalani proses pendekatan yang sangat lama: di mana si cowok terus berusaha mendekati dan mengejar si gadis, mereka berdua akhirnya menyadari bahwa mereka tidak diciptakan untuk menjadi pasangan kekasih. Pada akhirnya memang mereka tidak pernah menjadi sepasang kekasih dan hanya sebagai sahabat.

Di akhir cerita, akhirnya si gadis menelepon cowok ini dan teman-temannya satu geng di sekolah dulu. Ia akan segera menikah. Mereka berkumpul bersama dan mengenang masa-masa sekolah dulu. Kini, masing-masing dari mereka sudah memilik pekerjaan dan sukses di bidangnya masing-masing. Akhirnya pengantin masuk ke dalam ruangan. Si cowok teringat akan masa-masa saat ia “dekat” dengan si gadis. Ia begitu bahagia melihat gadis yang ia kejar selama bertahun-tahun ini akhirnya berbahagia. Kata-katanya di dalam hati saya kutip menjadi penutup bagi tulisan ini…

Ketika kamu sangat-sangat menyukai seorang wanita…
Ketika ada seseorang yang mengasihi dan mencintainya dengan tulus…
Maka kamu akan benar-benar mendoakan dia dari hati terdalam agar dia bahagia selamanya

Sumber gambar: pinimg.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.