Browse By

More About Copenhagen Interpretation

Keempat ide mekanika kuantum-wave functions, allowed states, probability, dan measurement– adalah yang elemen sentral dari teori kuantum telah selesai disusun. Kemudian, pola interferensi yang didapat dari percobaan foton juga telah memastikan adanya beberapa kondisi pada partikel di waktu bersamaan. Jadi, kita bisa sedikit tenang, karena prinsip-prinsip dasar dan bukti penelitian ilmiah sudah membuktikan keabsahan dari teori kuantum dan mekanika kuantum.

Tapi di lain pihak, kita juga masih punya masalah lain. Kita masih belum menemukan proses matematika yang bisa mendeskripsikan cara penentuan hasil pengamatan. Kita bisa menggunakan persamaan Schrodinger untuk menghitung wave functions dan juga allowed states bagi sebuah objek. Setelah itu kita juga bisa menghitung probability memanfaatkan fungsi gelombang. Tapi setelah itu kita tidak punya cara untuk memprediksi hasil akurat dari sebuah pengukuran. Ada sesuatu yang tidak kita ketahui terjadi saat proses pengamatan dan pengukuran. Dengan kata lain, kita tidak mengetahui aturan yang menjelaskan mengapa sebuah objek menyusut memilih sebuah kondisi dari banyak kondisi yang ada.

Copenhagen Interpretation

Masalah measurement (pengukuran dan pengamatan) ini adalah pusat masalah dari mekanika kuantum, sekaligus yang memaksa fisika kuantum jadi bersifat filosofis (bermain dengan logika dan pikiran). Mengapa dikatakan bersifat filosofis? Fisika kuantum selalu menggunakan interpretasi yang erat sekali dengan pikiran untuk dapat menghubungkan hasil penghitungan dan pengamatan.

Pada dasarnya semua interpretasi yang ada menggunakan metode serupa untuk menghitung probabilitas dari beberapa hasil percobaan. Bedanya terdapat pada bagaimana menjelaskan penyusutan kondisi sebuah objek. Dari kondisi superposisi (tumpukan dari banyak kondisi) menjadi hanya satu kondisi (kondisi spesial), seperti yang lazim dalam pengamatan Fisika Klasik.

Copenhagen Interpretation

Gambar sebelah kiri menunjukkan keadaan superposisi dari wave function. Karena pengamatan (measurement) dilakukan, kondisi superposisi runtuh dan menyusut, menjadi hanya sebuah kondisi (gambar kanan)

Interpretasi pertama dibentuk oleh Niels Bohr dan murid-muridnya di Copenhagen. Interpretasi ini kemudian disebut Copenhagen Interpretation atau Interpretasi Copenhagen. Interpretasi ini yang disebut-sebut paling tepat dalam menyelesaikan masalah pengamatan dan pengukuran dalam teori kuantum.

Yang perlu diperhatikan dari Copenhagen Interpretation adalah pandangan interpretasi ini terhadap dunia makro dan dunia mikro. Interpretasi ini jelas-jelas membedakan dan memisahkan dunia makro dan mikro. Objek-objek dalam dunia mikro (foton, elektron, atom, dan molekul) semuanya diatur oleh mekanika kuantum. Tapi objek dunia makro (bola, anjing, alat penelitian, fisikawan) diatur oleh hukum fisika klasik. Ada pemisahan yang jelas dan pasti. Jadi, interpretasi ini berpendapat bahwa objek dalam dunia makro tidak mungkin berperilaku seperti objek dalam dunia mikro.

Sumber Gambar : afriedman.org

Perjalanan Sejarah Teori Kuantum 2

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.