Browse By

Madu Terbaik dari Tuhan

Bulan Juni. Kalau di Jepang, ini adalah permulaan musim panas. Di saat-saat inilah, sekelompok lebah mulai aktif. Mereka keluar dari sarangnya dan mencari madu dari bunga-bunga bermekaran. Karena bunga-bunga banyak bermekaran, maka madu pada bulan Juni dikenal sebagai madu terbaik. Madu memang enak dan bergizi, bermanfaat bagi kita. Tapi tidak jarang juga si lebah kecil ini menyerang manusia, khususnya orang yang tinggal di dekat gunung.

Madu Terbaik

Kemarin di acara televisi Jepang, dimuat berita khusus mengenai para pencari sarang lebah. Mereka bukannya mencari madu, tapi mencari sarang lebah Suzumebachi yang ukurannya besar sekali. Mereka ingin mencari dan menumpas sarang beserta lebah yang jadi ancaman buat manusia. Para pencari sarang lebah itu naik ke bukit dan gunung tinggi, tempat dimana Suzumebachi sering membuat sarang.

Lebah biasa membuat sarang dan menyimpan madunya di tanah, di bawah gunung batu, atau di celah-celah gunung batu yang tinggi. Tujuannya adalah menghindari pemangsa maupun manusia. Fakta ini juga yang ditulis oleh Pemazmur dalam Mazmur 81:17. Pemazmur memuji Tuhan yang memberi makan umat-Nya gandum terbaik dan madu dari gunung batu.

madu terbaik dari gunung

madu terbaik dari gunung

Madu dari gunung batu. Mengapa Tuhan menjadikan “madu dari gunung batu” sebagai salah satu janji bagi kita? Madu dari gunung batu adalah madu dari lebah liar, bukan lebah yang diternakkan untuk diambil madunya. Dan rasa madu itu jauh lebih manis dan nikmat, kandungan gizinya pun berlipat dibanding dengan madu hasil ternakkan.

Madu dari gunung batu mewakili produk madu terbaik. Metafora dari sesuatu yang manis, yang timbul dari situasi yang keras atau sulit, dari gunung tinggi.

Ya, “gunung batu” mengacu pada tempat yang curam, terjal, tinggi, dan keras. Ini salah satu gambaran perjalanan iman kita. Sepanjang hidup ini, kita akan banyak menghadapi tempat-tempat yang keras, banyak tantangan, dan perkara-perkara yang sulit diatasi.

Mungkin kita sering bertanya, berteriak, menjerit, mengapa Tuhan tidak menyingkirkan saja gunung batu yang keras itu dari hidup kita? Namun, kita percaya bahwa Tuhan mengetahui hal terbaik yang kita perlukan. Tempat-tempat yang curam, terjal, keras itulah yang malah mengencangkan otot iman kita dan mendewasakan kerohanian kita. Jangan pernah menyerah, sebab di tempat yang keras sekalipun, Tuhan selalu menyertai kita. Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita sendirian. Dan pada akhirnya, kita akan mengalami berkat termanis dan ternikmat, bagai madu terbaik dari gunung batu.

sumber gambar: blogspot

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.