Browse By

Allah tidak lahir atau dilahirkan?

Membaca atau mendengarkan kisah Natal tidak semudah yang kita duga. Beberapa informasi tentu sudah kita ketahui, seperti bahwa Yesus lahir di Betlehem dan di atas palungan. Lalu datang para gembala. Selain itu dituliskan juga, bahwa yang menjadi ayah dan ibunya adalah Yusuf dan Maria. Secara garis keturunan dikatakan bahwa Yesus adalah keturunan Yusuf, sekaligus membuat nubuat Nabi Yesaya menjadi kenyataan, yakni kelahiran Mesias dari keturunan Daud.

Fakta mengenai kelahiran Yesus dicatat oleh Alkitab dan Alquran dengan makna yang hampir sama. Dalam Alkitab, “Sesungguhnya enkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki danhendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebuat Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”  (Lukas 1:31-34). Dalam Al-Quran, juga dicatat mengenai kelahiran Al-Masih atau Isa putra Maryam (yakni Yesus),  “Ingatlah, ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al-Masih, Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat . . . . ”. (QS. 3:45).

Sampai di sini, kita tahu bahwa baik umat Islam maupun umat Kristiani mengakui bahwa Yesus lahir ke dunia, dan Ia adalah Isa Al-Masih, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan Mesias, Anak Allah yang Mahatinggi.

Allah tidak lahir atau dilahirkan?

Namun, umat Islam tidak mempercayai bahwa Yesus lahir sebagai anak Allah. Dalam Alquran,  dikatakan “Dia tidak beranak, dan tiada pula diperanakkan,” – (QS.112:3). Bahwa Allah dapat “dilahirkan” atau “melahirkan“, “diperanakkan oleh seorang anak manusia” inilah yang menjadi alasan utama bagi orang-orang di luar kepercayaan kristiani menolak mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Bagi mereka, tidak mungkin Allah beranak. Atau seorang manusia dapat dianggap sebagai Tuhan. Mengapa? Ya, karena tidak sesuai dengan logika pikiran mereka. Tidak dapat dicerna oleh pikiran manusia.

Sebenarnya gagal paham umat Islam ini muncul sebagai akibat dari penerjemahan langsung makna Anak Allah. Frasa Anak Allah bukan berarti Allah memiliki anak, Allah melahirkan Anak, atau Allah dilahirkan dari rahim seorang wanita. Frasa Anak Allah itu seperti frasa anak kota atau anak Medan. Anak kota bukan berarti kota memiliki anak kan? Atau Anak Medan berarti Medan memiliki anak. Baik Anak Allah, anak kota, dan anak Medan memiliki makna simbolik atau denotatif, yang berarti seseorang yang berasal dari-, entah dari kota atau Medan (nama kota di Sumatera Utara). Yesus disebut sebagai Anak Allah pun bukan berarti Ia dilahirkan atau diperanakkan Allah. Yesus disebut sebagai Anak Allah karena Ia berasal dari Allah.

Mengapa kita harus percaya bahwa Yesus adalah Allah?

Banyak pertanyaan yang masuk melalui email kami atau melalui komentar ke website danielnugroho.com ini, khususnya mengenai Yesus bukanlah Allah. Bahwa Yesus hanyalah manusia biasa. Alasan mereka terutama, karena Alkitab tidak mencatat pernyataan Yesus: bahwa Ia adalah Allah dan Ia layak atau harus disembah. Seorang pembaca bahkan berani bertaruh, jika ada ayat di Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, Ia akan segera masuk kristen.

Yesus bukanlah Nabi atau pembawa agama, seperti Muhammad atau Buddha. Ia tidak pernah menyuruh siapapun untuk menjadi pengikut-Nya. Tidak, buat apa? Tuhan ataupun Allah tidak perlu manusia kok untuk menyembah atau berdoa kepada-Nya. Kok arogan sekali kita manusia, seakan-akan bahwa kita ini penting. Bahwa kalau ada ayat di Alkitab yang berkata bahwa Yesus adalah Allah, maka saya akan menyembah Yesus. Yesus tidak butuh kamu. Yesus tidak butuh kita untuk menyembah Dia.

Jika Allah tidak dilahirkan, bagaimana Ia datang ke dunia?

Allah datang ke dunia melalui Yesus dalam wujud seorang bayi mungil dari rahim seorang perempuan. Pernah saya bertanya kepada seorang teman saya yang muslim semasa berkuliah di Bandung dahulu. Apakah Allah ada di dalam ruangan kuliah ini? Ia menjawab, ya tentu. Lalu, apakah Allah bisa masuk ke dalam rumah kita? Tentu bisa, Allah Mahakuasa. Ia bisa melakukan apa saja. Masuk ke dalam hati kita? Bisa saja. Kan Allah Mahakuasa. Masuk ke dalam rahim seorang wanita? Ia kemudian terdiam. Kalau Allah mau masuk ke ruangan kuliah, ke rumah kita, ke hati kita, atau bahkan ke rahim seorang wanita, Ia tentu saja bisa melakukan semuanya itu. Lantas, yang jadi pertanyaan, Jika Allah tidak dilahirkan, bagaimana Ia datang ke dunia? Apakah ada yang bisa menjawabnya?

Ah, mengapa Allah perlu datang ke dunia?

Allah datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Umat Islam, Kristiani, dan seluruh agama percaya bahwa suatu saat kelak kita akan dihakimi menurut apa yang kita lakukan selama hidup. Apakah lebih banyak baiknya? Atau lebih banyak jahatnya. Kalau lebih banyak yang jahat ya sudah pasti masuk neraka. Jika lebih banyak baiknya, ya bisa masuk sorga.

Pertanyaannya, apakah sesederhana itu? Apakah perbuatan baik kita kepada sesama atua dengan menyembah dan memberi persembahan bisa menggantikan dosa kita kepada Allah?

Itulah yang terjadi dalam peristiwa Natal. Allah mau menjadi manusia. Firman Allah atau perkataan Allah itu berinkarnasi (hadir menjadi wujud lainnya) yakni Yesus. Maka umat Kristiani mempercayai bahwa Yesus adalah Allah. Jika tanpa kelahiran Yesus, atau inkarnasi Allah dalam wujud Yesus menjadi manusia, bagaimana Allah bisa menyelamatkan manusia dari dosa? Jika Ia hanya berfirman dan berfirman, apakah kita manusia mau mendengarkan Firman-Nya? Tidak cukup mendengarkan, apakah kita mau melakukan Firman-Nya? Hidup suci dan tidak berdosa selama kita hidup? Rasanya tidak mungkin dan mustahil. Tidak akan pernah bisa manusia tidak melakukan dosa sama sekali. Dan jangan berharap, amal atau perbuatan  baik bisa menggantikan dosa atau kesalahan kita.

Mengapa Allah mau mengunjungi manusia di dunia, adalah karena Ia ingin menyelamatkan manusia. Menyelamatkan manusia dengan apa? Ya satu-satunya cara adalah dengan merelakan Diri-Nya sendiri untuk menanggung hukuman atas dosa dan kesalahan yang manusia telah lakukan.

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Yesus], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Rasul 4:12).

Bacaan selanjutnya:

  1. Misteri terbesar bernama Natal
  2. Siapakah Yesus sebenarnya? Yang ada di Alquran atau Alkitab
  3. Apakah Yesus Berkata Dia Adalah Allah?
  4. Paskah: Apa Makna Keselamatan?

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.