Browse By

Teori Dunia Pararel 1

Dalam “Schrodinger Cat” kita sudah membahas panjang lebar percobaan logika yang diajukan oleh Erwin Schrodinger. Hidup atau matinya kucing itu tergantung pada zat radioaktif, apakah zat radioaktif itu meluruh atau tidak. Keadaan zat radioaktif itu kemudian dikatakan dalam keadaan superposisi, 50% meluruh dan 50% tidak meluruh. Karena keduanya berhubungan erat, maka hidup matinya kucing persentasenya pun sama 50% dan 50%.

Tapi benarkah seperti itu kenyataannya? Bagaimana mungkin seekor kucing berada dalam keadaan yang sama sekali kontradiksi? Bagaimana mungkin seekor kucing bisa hidup dan dalam waktu yang bersamaan mati? Inilah yang membingungkan banyak fisikawan pada jaman itu. Banyak yang coba menjelaskannya, tapi rasanya perlu waktu lama untuk sampai pada titik terangnya.

Ilustrasi teori dunia pararel

Ilustrasi teori dunia pararel

Teori Dunia Pararel

Untuk dapat menjelaskan dan memacahkan masalah ini, fisikawan harus berpikir “gila”. Apa maksudnya? Mereka harus tampil dan menciptakan pandangan baru akan dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia ini. Prinsip inilah yang kemudian menuntun para fisikawan sampai pada Teori Dunia Pararel. Dunia majemuk (lebih dari satu) yang tersusun atas kemungkinan-kemungkinan yang ada. Misalnya “dunia saat kucing hidup” dan “dunia saat kucing mati”. Keduanya berdiri sendiri-sendiri, tidak berhubungan, namun berjalan pararel dan bersamaan. Kita akan membahasnya lebih dalam lagi kemudian.

Sebelum masuk ke penjelasan Teori Dunia Pararel, mari kita membahas sedikit mengenai John von Neumann, seorang matematikawan asal Hungaria. Dia adalah salah satu matematikawan besar abad 20, dan berhasil menjelaskan Game Theory dan banyak teori matematika lainnya. Dia juga ikut dalam pengembangan dan penelitian bom nuklir. Von Neumann juga dikenal sebagai orang yang menggagas prinsip kerja komputer.

Von Neumann juga memberi dampak besar bagi Fisika Kuantum. Pada 1932 dia mempublikasikan buku “Matematika Dasar untuk Mekanika Kuantum” dan turut menyertakan pendapatnya dalam buku itu. Isinya adalah penyusutan fungsi gelombang (yang menjadi acuan dasar Interpretasi Copenhagen) tidak dapat dijelaskan secara matematika. Pada akhirnya dia menyimpulkan, secara matematis “penyusutan fungsi gelombang itu tidak nyata.”

Dalam pemikiran kita, saat elektron yang bersifat gelombang melewati dua celah dan kemudian sampai di layar pada satu posisi (sifat partikel), inilah saat penyusutan fungsi gelombang itu terjadi. Tapi seperti yang tertulis di atas, penyusutan fungsi gelombang itu tidaklah nyata, kata Von Neumann. Jadi bagaimana yang sebenarnya terjadi?

Recommended for you

Baca Halaman Selanjutnya — 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.