Browse By

Ketika Allah Menyuruhku Pergi ke Tempat Baru

Kita pada umumnya menyukai tempat-tempat lama yang sudah dikenal, susah sekali untuk pergi dan mengunjungi daerah baru. Takut untuk pergi keluar, melangkah jauh ke lingkungan yang sama sekali baru. Kita sering kuatir akan hal-hal atau masalah-masalah baru yang mungkin muncul kemudian. Ini juga yang saya alami ketika harus pergi selama sebulan kerja praktek di Saga pada 2013 dan ke Osaka pada 2014. Rasa-rasanya berat sekali tempat dimana kita sudah PW dan mesti mempersiapkan barang-barang untuk pergi ke daerah yang jauh dan asing. Hari ini, saya kembali merasakan hal tersebut ketika mencari rumah untuk pindahan pada bulan April nanti.

Sebetulnya rencana untuk mencari rumah sudah saya lakukan semenjak awal bulan Januari. Saya mencari informasi-informasi di website dan mengirimkan pesan ke beberapa kantor penyewaan rumah. Dalam 3 minggu ini juga, saya menerima puluhan telepon dari kantor tersebut menanyakan kondisi atau persyaratan rumah, rentang harga sewa bulanan, seberapa jauh jarak rumah dari universitas dan masih banyak pertanyaan lainnya. Lalu hampir tiap minggu, perusahaan penyedia layanan pindah rumah datang dan melihat barang-barang. Untuk itulah saya mesti merapikan barang-barang, memisahkan mana yang hendak dibawa ke Indonesia, dibawa ke rumah yang baru, mana yang dibuang, dan menjumlah semuanya serta membuat perkiraan jumlah barang. Tidak hanya itu, saya juga disuguhkan dengan angka-angka fantastis, biaya yang diperlukan untuk pindah rumah dan biaya sewa rumah. Ditambah dengan kekuatiran tidak mendapatkan rumah, kepala saya makin penuh. Sungguh pergi ke tempat yang baru itu sungguh sangat merepotkan.

Saya betul-betul merasakan bagaimana repotnya persiapan pergi ke tempat yang baru. Kita mesti mencari informasi dan kondisi tujuan, mempersiapkan cara pergi, apa saja yang mesti dibawa dan ditinggalkan, biaya pindah ke tempat yang baru, dan lain-lain. Dalam perjalanan pulang dari kantor penyewaan rumah, saya berpikir dalam hati. “Semuanya ini buat diri sendiri kok. Masakan buat diri sendiri saja bersungut-sungut!” “Bagaimana kalau Allah menyuruhku pergi ke tempat yang baru, tempat yang sama sekali jauh dan terasing? Adakah saya mau pergi mengikuti rencana Tuhan? Atau saya menolak mentah-mentah dengan alasan repot?”

Ketika Allah Menyuruhku Pergi ke Tempat Baru

Ketika Allah menyuruhku pergi ke tempat baru

Ketika Allah menyuruhku pergi ke tempat baru

Saya belajar satu hal di hari Sabtu mendung ini. Bagaimana responku ketika Allah menyuruhku pergi.

Pergi ke tempat baru, ini mungkin rangkuman seluruh isi Alkitab. Sebagaimana yang dikatakan dalam Amanat Agung di Matius 28:19-20. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu…”

Tujuan utama hidup kita di dunia ini seharusnya ialah pergi memberitakan Injil keselamatan dari Allah. Kita mesti pergi, memberitakan Injil dan membimbing orang menemukan Yesus Kristus. Lebih lanjut lagi, kalau kita memperhatikan Amanat Agung Yesus, kata pergilah ditempatkan mendahului kata kerja utama “jadikanlah murid”. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menjadikan murid kita harus bergerak dan pergi. Kita perlu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ini tidak cuma sekedar lokasi, tapi lebih daripada itu menyangkut hidup. Ketika kita ingin memberitakan karya penyelamatan Allah, kita harus pergi meninggalkan kehidupan lama ke hidup yang baru. Pergi dari kebiasaan mementingkan diri sendiri pada keinginan untuk lebih mendahulukan kepentingan orang lain. Kita harus pergi meninggalkan kebiasaan lama yang jelek, kepada kebiasaan baru yang seturut dengan kehendak Allah. Dan akhirnya pergi ke tempat dan daerah-daerah yang membutuhkan pemberitaan Injil.

Ketika Allah menyuruh kita pergi apakah kita telah siap menyambut perintah Tuhan ini? Atau apakah kita bersungut-sungut dan menolak panggilan Tuhan? Semuanya itu tergantung pada kita masing-masing. Siap pergi ke tempat baru, berarti siap meninggalkan kesenangan dan ego pribadi. Siap meninggalkan kepuasan dan kepentingan diri. Siap repot, siap susah, siap menderita.

Ketika Allah menyuruhku pergi ke tempat yang baru. Semoga saya siap kapan saja Tuhan mengatakannya. Sama seperti lirik lagu di bawah ini.

Kerinduanku slalu berada di tempat Kau berada
Kerinduanku slalu bekerja seperti Bapaku bekerja
Kudengarkan Tuhan isi hatiMu
saat Kau panggil ku siap

Ini aku utuslah Tuhan
Ini aku utuslah Tuhan
kemana pun Kau pimpin
ke negri yang Kau pilih
Ini aku utuslah Tuhan
dan ku kan pergi

Sumber gambar : www.cotrquitman.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.