Browse By

Gereja yang Teguh

Apa yang bisa dilakukan Gereja dalam masa tidak menentu sekarang ini? Perang, perpecahan, kekerasan, penganiayaan terjadi di mana-mana, bahkan tidak jarang “melukai” gereja itu sendiri. Apa yang mesti dilakukan oleh Gereja?

Jawabannya satu, Gereja harus bersatu teguh. Tantangan sudah datang dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tinggal bagaimana menjadi Gereja yang teguh menghadapi semua hal tersebut. Dalam kehidupan jemaat mula-mula kita bisa dengan jelas melihat bagaimana mereka hidup dengan rukun, bersatu, dan saling membagi hidup. Satu rahasianya adalah karena mereka hidup dengan kasih karunia berlimpah-limpah. Dalam ayat 33, mengatakan bahwa, “Mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah,” dalam bahasa Inggris tertulis, “much grace was upon them all.” Kasih karunia itu berlimpah-limpah dan menguasai hidup mereka. Kasih karunia ini yang membuat mereka hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk Tuhan dan sesamanya. Mereka menjadi gereja yang teguh.

Langkah Menjadi Gereja yang Teguh

Gereja yang teguh

Gereja yang teguh

Yang pertama, Jemaat yang belajar untuk bersatu. Dalam Kisah Para Rasul 4 dikatakan, jemaat mula-mula belajar bersatu (maklum saja mereka berasal dari berbagai latar belakang, campuran orang Yunani dan Yahudi). Apalagi jumlah mereka terus bertambah, dari 120 orang menjadi sekitar 3000 orang. Bisa dibayangkan jumlah orang sebanyak itu. Pastinya perlu waktu lebih banyak lagi untuk belajar bersatu. Tapi mereka membuktikannya kepada kita, mereka dapat bersatu karena hidup dalam kasih karunia berlimpah-limpah.

Yang kedua adalah mempertahankan persatuan. Dalam Kisah Para Rasul 4:32-37, jemaat mula-mula sudah semakin dewasa dan mempertahankan persekutuan. Dalam keadaan tertekan dan terancam sekalipun (ayat 23-31), mereka malah makin bersungguh dalam iman. Mereka sama-sama berseru dan berdoa kepada Allah untuk melindungi dan menjaga mereka dari segala ancaman. Pada akhirnya karena kesatuan hati mereka, Allah bertindak. Roh Kudus memenuhi semua orang-orang tadi, dan mereka pun memberitakan Firman Allah dengan berani.

Yang ketiga, menjaga persatuan yang terikat dengan Kristus. Kebersamaan dan persatuan jemaat mula-mula didasari oleh pemikiran bahwa milik mereka adalah milik Tuhan. Artinya segala apa yang mereka miliki harus kembali ke asalnya, yaitu Kristus sendiri. Mereka tidak terikat dengan harta-harta pribadi, tidak mementingkan diri sendiri, dan sebaliknya menyerahkan segal miliknya kepada Allah. Milik kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Mereka saling memberi dan menerima dalam Kristus.

Di tengah tantangan dan ancaman yang kian serius melanda Gereja, Gereja harus tetap kuat, Tetap jadi Gereja yang teguh. Jemaat harus hidup dalam kasih karunia Allah dan bersatu menghadapi aniaya, bersatu dalam bersaksi dan memuji Tuhan, bersatu untuk bertumbuh bersama.

Sumber Gambar : regansravings.blogspot.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.