Browse By

Pergi ke Agen Rumah di Jepang

Tibalah hari itu tanggal 24 Januari 2015, sejak pagi saya telah menyiapkan keperluan sepanjang hari ini. Selain membeli nasi kepal atau onigiri dan botol minum untuk makan siang, saya juga menyiapkan beberapa dokumen dan surat yang mungkin diperlukan saat membuat perjanjian menyewa rumah. Pergilah saya pukul 7 pagi menuju ke Chiba Station mengunjungi agen rumah Appaman Shop dan Chintaizu.

Pengalaman Pergi ke Agen Rumah di Jepang

Suasana agen rumah di Jepang

Suasana agen rumah di Jepang

Sempat mencari-cari kaunter agen ruma yang berada di lantai atas pusat perbelanjaan Yodobashi Camera Chiba, akhirnya saya menemukan kaunter agen rumah/ fudosan. Pertama kali tiba, suasana kaunter masih sangat sepi. Hanya ada satu petugas yang menjaga sambil memeriksa dokumen-dokumen. Namun, saat saya datang, dia langsung dan menyambut saya “Nugroho-san desu ne..” Ternyata dialah petugas yang kepadanya saya mengirimkan email janji berkunjung. Dia menyuruh saya duduk sambil menyiapkan dokumen-dokumen lain.

Beberapa pertanyaan diajukan oleh petugas yang namanya Ogino-san. Pertama kali pindahan rumahkah, sudah berapa lama tinggal di Jepang, asal dan riwayat tinggal di Jepang. Saya juga disuruh mengisi informasi data diri, dan kondisi serta persyaratan rumah yang hendak ditinggali. Berbekal kertas itu, dia kemudian mencari di database fudosan yang katanya jauh lebih lengkap dibanding yang ada di homepage. Katanya, sebetulnya ada begitu banyak data dan informasi rumah yang ada di agen rumah, namun yang dicek kebenarannya dengan mata sendiri, diringkas informasi dan denah rumahnya saja yang ditampilkan di homepage. Jadi untung sekali datang langsung ke kaunternya. Selain mendapatkan data teraktual dan terlengkap, saya juga bisa langsung mengunjungi rumah yang diinginkan. Kalau deal, maka bisa langsung membuat surat perjanjian dan rumah itu bisa ditempati. Begitu penjelasan dia, sambil mencari dan mencetak beberapa informasi rumah yang sesuai dengan kondisi dan syarat yang saya tuliskan.

Ada sekitar 30 lembar informasi rumah yang dicetak dan diberikan kepada saya. Saya pun langsung membacanya dan membandingkan satu dengan yang lainnya. Maka mulailah saya memisahkan rumah-rumah yang harga sewanya mahal (lebih dari 27 ribu yen) dan yang letaknya jauh dari Chiba University. Ada sekitar 8 rumah yang pas menurut saya. Maka mulailah Ogino-san menelepon dan memastikan keadaan rumah serta menanyakan apakah boleh mengunjungi rumah itu pada hari ini. Ada beberapa rumah yang ternyata sudah disewa terlebih dahulu. Ada juga rumah-rumah yang tidak menerima mahasiswa asing. Hasilnya hanya tersisa 1 rumah saja waktu itu. Letaknya sekitar 30 kilometer atau 2 stasiun dari Chiba University, dan agak tua rumahnya. Harga sewanya lumayan mahal menurut saya yakni 27 ribu yen sebulan. Namun, karena tidak ada pilihan lain, saya akhirnya mengiyakan dan menuruti. Ketika dia menanyakan apakah langsung teken perjanjiannya, saya berkata jujur akan pergi ke agen rumah yang lain dan melihat informasi rumah. Kalau tidak ada rumah yang pas, saya janji akan kembali lagi.

Pengalaman di Agen Rumah yang Kedua

Pergi ke kaunter agen rumah yang kedua, mirip-mirip dengan yang pertama. Namun ketika saya tiba di kaunternya, suasana sudah ramai sekali. Ada banyak pemuda-pemudi bersama dengan orangtuanya yang berdiskusi tentang pilihan rumah. Rupanya sudah banyak calon mahasiswa baru yang juga sudah mulai mencari rumah. Padahal tanggal 24 Januari itu masih 2 minggu sebelum ujian penerimaan mahasiswa baru. Baru belakangan saya tahu, ada banyak orangtua yang menyewa rumah barang 1 bulan dulu. Kalau misalnya sang anak diterima, maka sewa akan dilanjutkan. Namun jika sang anak tidak diterima maka sewa akan diputus.

Melihat suasana itu, saya jadi kecil hati. Selain karena saya tidak begitu paham tentang syarat/kondisi rumah di Jepang, tidak ada juga orangtua atau oranglain yang dapat memberikan masukan atau pendapat. Jadilah saya hanya berdoa memohon hikmat dan bimbingan Tuhan, untuk dapat menemukan dan memilih rumah yang paling pas.

Proses di kaunter yang kedua hampir sama dengan yang saya alami di kaunter pertama. Setelah diberikan beberapa lembar informasi rumah-rumah yang menurut syarat yang saya ajukan, saya kembali memeriksa dan menyortirnya. Alhasil ada sekitar 5 rumah yang paling pas. Memang tidak sebaik yang pertama, jarak ke universitas juga sedikit lebih jauh. Namun karena riuhnya pembicaraan petugas dan orangtua di sekitar saya, saya jadi sedikit takut dan panik. Jangan-jangan rumah yang diinginkan sudah terambil duluan. Perasaan takut itu memenuhi pikiran saya.

Setelah menelepon dan memastikan rumah siap ditinggali, jatuhlah pilihan saya pada satu rumah. Petugas pun langsung bersiap dan memberikan hitung-hitungan biaya awal penyewaan rumah. Alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui biaya mukanya mencapai 200 ribu yen atau sekitar 20 juta rupiah. Biaya itu meliputi asuransi rumah, perjanjian jasa agen ketiga, biaya pembersihan, penggantian kunci, dan yang lainnya. Khusus untuk biaya asuransi dan perjanjian jasa orang ketika, ini jenis biaya yang baru saya tahu. Ternyata ketika mahasiswa atau orang asing menyewa rumah atau kamar di Jepang, perlu satu orang sebagai penjamin dan mesti orang Jepang. Saya waktu itu sempat menelepon Kak Mie Sihombing supaya mau menjadi penjamin saya, namun ternyata pemilik kamar itu hanya mau menerima jasa agen penjamin. Makanya saya mesti membuat perjanjian dengan perusahaan itu sekaligus membayar asuransi rumah seharga 2 bulan sewa. Wahh, habislah uangku untuk bayar rumah…, pikir saya.

Semangat saya sudah patah dan sudah hampir menyerah untuk menemukan rumah tempat tinggal di bulan April nanti. Ditambah teman saya yang sama-sama masuk ke Chiba University dan mencari rumah juga katanya sudah di jalan pulang menuju ke Tokyo karena tidak menemukan rumah yang pas. Wah, bagaimana ini. Saya bertambah panik dan takut di hari Sabtu yang mendung itu.

Meskipun begitu, Tuhan tetap membimbing dan menenangkan saya. “Tenang saja Nugroho, masih ada satu lagi agen rumah yang belum dilihat,” seperti ada yang menghibur hati saya waktu itu. Saya pun meminta ijin untuk pergi sebentar ke agen rumah lainnya, dan menyuruh petugasnya untuk tetap menyimpan kamar tersebut bagi saya.

Sumber gambar : http://iriyama.es-cms.com/file/P1010019.jpg

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.