Browse By

Allah Hadir di Tengah-Tengah Keluarga (15): Parsadaan Toga Marbun

Ibadah ucapan syukur ini telah usai sekitar pukul 11.15, yang ditutup dengan lagu “Hari ini Kurasa Bahagia” yang dinyanyikan oleh kami semua sambil bergandengan tangan. Sungguh indahnya melihat kami saling bergandengan dna bersatu hati. Selanjutnya kami saling bergandengan tangan dimulai dari Tulang, Bapatua, Uda, yang terus berlanjut membentuk struktur ular di dalam rumah. Acara mangullosi kemudian menjadi acara selanjutnya. Mangullosi? Mungkin masih banyak yang belum tahu, ijinkan saya untuk menjelaskannya terlebih dahulu.

Pihak Tulang

Pihak Tulang/ Laki-laki bermarga Banjarnahor

Pihak Boru

Pihak Boru/ perempuan bermarga Banjarnahor

Jadi, mangullosi adalah salah satu istiadat orang Batak yang secara harafiah berarti “memberi Ullos” kepada orang yang kedudukan di dalam adatnya lebih rendah. Dari tulang/ hula-hula/ seluruh laki-laki yang bermarga Banjarnahor memberikan Ullos kepada boru Banjarnahor/ seluruh perempuan bermarga Banjarnahor. “Mangullosi” juga tidak hanya berarti memberikan Ullos saja, melainkan memiliki makna yang dalam, yaitu: Si pemberi memberikan restu, kasih sayang, dan berkat kepada yang diberikan Ullos. Sebelum prosesi “pemberian Ullos” ini dilakukan, masing-masing saling bertukar makanan. Pihak Tulang memberikan Dekke kepada borunya. Dekke biasanya ikan mas. Selanjutnya, pihak boru memberikan timbal balik berupa jagal/ daging yang biasanya berupa daging babi.

Setelah acara ini berakhir, kami makan siang bersama. Hemm, enak sekali menu makan siang ini. Ada ikan mas arsik, ada saksang, sup, dan juga daging goreng. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian kado kepada seluruh anggota keluarga yang masih bersekolah. Saya juga memperoleh sebuah jam tangan berwarna hitam sebagai hadiah. Acara pembagian hadiah ini kemudian dilanjutkan dengan permainan bagi para pasutri. Diberikan beberapa pertanyaan untuk mengecek kedekatan suami dengan istri yang akhirnya dimenangkan oleh Tulang dan Nantulang Iren.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.00, di mana kami semua akan berziarah ke Makam Ompung di Parmonangan. Bersama-sama kami menuju ke Parmonangan yang tidak begitu jauh, 15 menit perjalanan dari rumah Ompung. Ini adalah pengalaman pertama bagi saya melihat makam Ompung dari pihak mama. Setelah itu, kami juga berkeliling ke rumah mama saat kecil yang masih berada di satu kompleks.

Sambil berkeliling dan bernostalgia dengan kenangan-kenangan masa lampau, kami juga menikmati kelapa muda langsung dari pohon yang ada di kompleks rumah tersebut. Sungguh enak dan menyegarkan, langsung dari pohon, looh…! This is the first time for me.

Kami kemudian juga mengunjungi rumah Nantulang Mama yang kebetulan juga sedang ramai dengan anak-anaknya yang berkumpul di sana juga. Jarak rumah yang berdekatan membuat mereka dapat saling bermain bersama. Sungguh asyik rasanya dapat bertemu dan bermain dengan saudara-saudara, hanya dalam hitungan langkah saja. Mantaap! Dan yang luar biasanya, mereka tetap akrab dan dekat meskipun waktu terus berjalan selama lebih dari 40 tahun, hemmm…

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.