Browse By

Jika Yesus adalah Allah, Mengapa Ia Dikendalikan Bapa?

Dalam forum Kompasiana, pada artikel yang berjudul “Siapakah Yesus yang sebenarnya? Yesus dalam Al-Quran atau Alkitab?” yang saya tulis beberapa waktu lalu, ada sebuah pertanyaan datang. Ada juga pertanyaan kedua seperti ini.

Pertanyaan:

Jika Yesus adalah Allah, Mengapa Ia Dikendalikan Bapa?

Jika Yesus adalah Allah, mengapa ia dikendalikan oleh Bapa? Bandingkan dengan ini:

Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yag Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5:30)

Jika Yesus adalah Tuhan Semesta Alam, mengapa ia dikendalikan oleh Bapa? Bandingkan dengan ini:

Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, (Yohanes 7:16-17)

Jawaban:

Untuk Yohanes 5:30, Yohanes 7:16-1 yang saudara kutip:

Saudara sepertinya menitikberatkan “dikendalikan oleh Bapa” ya? Yesus tidak mengatakan DIKENDALIKAN. Tidak sama sekali.

Yang Yesus ucapkan adalah “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” dan “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku”.

Adakah teman-teman merasa aneh dengan jawaban Yesus? Bagaimana mungkin dua pribadi punya kesamaan kehendak dan kesamaan ajaran? Bagaimana mungkin Yesus yang sering dikatakan “manusia biasa” bisa punya kehendak sama seperti Allah? Apakah tidak kepikiran kenapa Yesus berkata demikian?

Muhammad bisa saja berkata ajarannya datang dari Allah, tapi apakah kehendaknya sama dengan kehendak Allah? Apakah apa yang diajarkannya betul-betul bisa dia lakukan? Teman-teman pasti tahu jawabannya. Muhammad gagal dalam melakukan kehendak Allah dan melakukan apa yang dia ucapkan. Dia gagal. Kenapa? Dia cuma nabi, cuma manusia biasa. Tidak lebih.

Sekarang, bagaimana dengan Yesus? Yesus tidak seperti Muhammad, Yesus berhasil melakukan semua kehendak Bapa, bahkan hingga matinya di salib. Tidak ada cela, tidak ada noda, tidak ada yang gagal. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorang manusia melakukan hal sesempurna itu? Bagaimana bisa “seorang manusia biasa” bisa melakukan seluruh kehendak Allah?

Kalau teman-teman pakai logika, jelaslah Yesus lebih unggul daripada Muhammad. Yesus jelas lebih dari sekedar nabi. Jadi, siapa itu Yesus sebenarnya?

Yesus berhasil melakukan seluruh kehendak Allah. Seluruhnya. Bagaimana mungkin? Menurut saya, satu-satunya jawaban paling logik adalah sebab Yesus adalah Allah. Tidak mungkin ada alasan lain. Itulah dasar iman saya. Mengapa saya berani menulis: YESUS ADALAH ALLAH.

4 thoughts on “Jika Yesus adalah Allah, Mengapa Ia Dikendalikan Bapa?”

  1. Humala Pontas Silaen says:

    Pada waktu Yesus dilahirkan didunia pada 2013 tahun yang lalu, hanya cara itulah yang mungkin dilakukan oleh Yesus untuk menjelaskan dirinya. Karena selain dari pada nama Anak Allah mungkin dia harus mengatakan Saya adalah dia Penjelmaan Allah yang tidak mungkin dimengerti oleh orang banyak pada waktu itu. Kasih dan Penebusan juga merupakah bahasa yang dimengerti oleh bangsa Israel pada waktu itu, khususnya cara orang Israel dalam memberikan Hewan Korban, untuk meminta pengampunan dosa.

    1. Nugroho says:

      Terimakasih Lae Silaen atas komentarnya. GBU

  2. Rusdi Mardani, S.Kom says:

    Saya mau bertanya, kita sering membaca bahkan mendengar kalau Yesus naik kesurga duduk disebelah kanan Allah… Yg jadi dilema sampai saat ini dihidupku adalah, kenapa yesus duduk disebelah kanan…???? Kenapa tidak di tengah”..? Apa karena allah sudah di tengah” duduknya? Karena peperangan batin ini, hingga skrg sy masih anggap Yesus itu juruselamat yg di utus Allah dan bukan Allah…. Mohon penjelasan nya bagi saudara~saudariku yg lebih tahu tentang ini….

    1. Daniel Sihombing says:

      Dalam kebudayaan orang Indonesia, Duduk di sebelah kanan adalah wujud dari orang penting, yang dikasihi, yang dipercaya. Ungkapan di duduk sebelah kanan itu mirip dengan ungkapan tangan kanan yakni orang kepercayaan atau orang yang dipercaya.

      Dalam kebudayaan Yahudi, ungkapan “Duduk di sebelah kanan” adalah suatu ungkapan alegoris. Kata “kanan” sering digunakan oleh orang-orang Yahudi sebagai simbol kekuasaan/ kekuatan (Mazmur 118:16). Ungkapan “di sebelah kanan” (kenapa tidak disebelah kiri, belakang, depan, atau tengah seperti yang Rusdi katakan) adalah : “Diam dalam Kerajaan Sorga” (bahasa Tradisi Yahudi, sisi kanan identik dengan kebaikan atau kemuliaan. Maka “Duduk di sebelah kanan Allah” dalam Alkitab adalah lambang dari kekuasaan Yesus Sang Mesias sebagai pemegang otoritas keallahan sejati. Penggunaan “sebelah kanan” sudah banyak dipakai di perjanjian lama, lihat Keluaran 15:6, Ulangan 33:2.

      Jika masih bingung bisa ditanyakan lagi lebih lanjut.

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.