Browse By

Bagaimana Menyimpan Limbah Nuklir?

Into Eternity: Bagaimana Menyimpan Limbah Nuklir?

Into Eternity adalah film dokumenter yang didukung oleh banyak perusahaan dan produsen film Eropa, diantaranya the Danish Film Institute, Eurimaces, Finnish Film Foundation, Nordisk Film & TV Fond, Swedish Film Institute, Avek.

Film ini menunjukkan pada kita bagaimana sebenarnya limbah nuklir dari PLTN itu disimpan. Tiap hari, pembangkit listrik tenaga nuklir selalu menghasilkan limbah nuklir berbahaya. Limbah ini harus disembunyikan jauh dari manusia dan disimpan di tempat yang aman. Untuk sementara, limbah disimpan dalam penampungan limbah di kompleks PLTN. Tapi pada akhirnya limbah harus dibuang ke tempat penyimpanan lestari.

Film diawali dari Onkalo (artinya gua tersembunyi) di suatu wilayah gunung yang dirahasiakan di Finlandia. Tempat inilah yang menjadi penyimpanan lestari limbah nuklir pertama di dunia. Limbah akan dikubur hingga waktu 100 ribu tahun. Tempat ini dijadikan kuburan limbah nuklir karena lapisan batuannya yang kuat dan stabil. Tapi bagaimana? Apakah aman menyimpan limbah nuklir mematikan itu di sana sampai 100 ribu tahun?

100 Ribu Tahun Menyimpan Limbah Nuklir

Bisa membayangkan 100 ribu tahun? Inilah waktu yang diperlukan hingga limbah nuklir ada di level yang tidak membahayakan. Nabi Isa dikatakan mati pada 33 masehi, berarti ada 50 kali masa dari sejak kematian Nabi Isa hingga kini. Apakah limbah itu aman?

Dalam tempo 100 tahun, puluhan ribu bahasa dunia punah tidak berbekas. Dua kali perang dunia terjadi di atas tanah. Puluhan ribu situs sejarah digali untuk diteliti.

Coba kita bayangkan hal ini. Lokasi fasilitas limbah nuklir ini hanya diketahui oleh peneliti dan ilmuwan yang akan mati kurang lebih 50 tahun lagi. Bagaimana kelanjutannya? Apakah fasilitas limbah nuklir itu aman dari terjangan bom dan senjata kala perang terjadi? Apakah nanti orang-orang tahu di situ ada limbah nuklir berbahaya? Bagaimana cara memberitahukannya? Bahasa apa yang dipakai? Kalau pun bahasanya dimengerti, apakah mereka paham dan bisa menghindarinya? Inilah sederet pertanyaan yang jadi pokok perdebatan di Onkalo.

Menegangkan sekaligus menakutkan. Gemetar dan ragu. Kuatir dan rasa bersalah. Inilah yang akan kita hadapi ketika berurusan dengan limbah nuklir. Limbah dari kejayaan 40 tahun operasi PLTN, tapi juga limbah mematikan yang akan kita wariskan ke 3000 generasi berikutnya. Akankah generasi kita jadi saksi kebodohan kita menggunakan nuklir?

Link Video : Youtube

Recommended for you

2 thoughts on “Bagaimana Menyimpan Limbah Nuklir?”

  1. Sam Adhitia says:

    Hallo Pak, adakah solusi anda pengganti dari rencana PLTN selain energi baru terbarukan? Btw, kami sedang belajar jadi pengusaha wood pellet, yang notabene berusaha sendiri tanpa pemerintah RI mau mengulurkan bantuannya kepada kami. Padahal wood pellet tsb adalah bagian dari rencana energi baru terbarukan mereka. Yoroshiku…

    1. Daniel Sihombing says:

      pemenuhan kebutuhan energy ke depannya haruslah ke arah renewable (bisa berupa air/hidro, biomassa, solar/ cahaya matahari, angin, dan arus/gelombang laut. Pemerintah Indonesia sekarang memang sulit, karena keterbatasan anggaran dan “ketidakmauan” pemerintah untuk beralih ke energy terbarukan. Apalagi PLN juga seakan-akan tidak berpihak dengan “energy terbarukan” salah satunya dengan memperpanjang ijin dan proses jual beli listrik dari pengembang. Mari sama-sama berjuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.