Browse By

Pelayan Cap Jempol (Excellent Servant)

“Anak-anakku, sekarang janganlah kamu lengah, karena kamu telah dipilih TUHAN untuk berdiri di hadapan-Nya untuk melayani Dia, untuk menyelenggarakan kebaktian dan membakar korban bagi-Nya.” 2 Tawarikh 29:11

Melalui ayat tema ini, kita kembali diajak untuk menyadari setiap panggilan Tuhan di dalam hidup kita. Dalam Yohanes 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”  Sebuah pertanyaan besar muncul, mengapa Tuhan memilih kita untuk melayani Dia, untuk berdiri di hadapan-Nya? Dan apakah kita sadar bahwa Tuhan sudah memilih kita?

Menjadi pilihan Tuhan berarti kita memperoleh hak, yaitu kita dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan Allah dan hidup kekal bersama Allah. Janji itu boleh kita tuntut dari Yesus. Tetapi… tunggu dulu!!, seperti yang telah dikatakan di atas, selain hak, kita juga mempunyai sebuah kewajiban. Kewajiban kita adalah melakukan perubahan di dalam hidup kita, perubahan ke arah yang jauh lebih baik, dari yang suka marah menjadi sabar, dari malas menjadi rajin, intinya, dari yang buruk ke yang baik. Kalau dalam ayat tema kita jumat ini, Tuhan berfirman agar kita tidak lengah. Orang percaya  sekarang ini mudah sekali lengah, saat pelayanan kita sedang di puncaknya, kita menjadi sombong, lalu jatuh ke dalam dosa. Saat Tuhan memberikan berkat yang lebih, kita sudah lupa akan Tuhan, bahkan hanya karena uang atau jabatan, beberapa orang rela mengingkari imannya. Ini adalah bukti bahwa kita, sebagai manusia mudah sekali lengah, apalagi di tengah arus dunia yang amat deras ini. Sebagai pilihan Tuhan, kita harus mampu tampil beda dan tidak lengah, dan itu tidak akan mungkin terwujud kalau  kita tidak kuat berpegangan kepada Firman Tuhan.

Sesungguhnya Tuhan bisa saja mengerjakan semuanya sendiri. Dengan segala kemahakuasaan-Nya, apapun dapat dilakukan oleh Tuhan. Jika melayani Tuhan, terkadang kita malah membuat Tuhan menjadi “repot” karena pelayanan kita. Namun, itulah kasih Tuhan yang mau menjadikan kita sebagai rekan sekerja-Nya. Dan, sukacita kita adalah ketika kita dapat melihat karya Tuhan melalui tangan kita, saat orang lain mau menerima Yesus di dalam hidupnya.

Karena Tuhan bisa kita ibaratkan sebagai seorang ibu yang mengizinkan anaknya memakan kue yang ada di atas meja, tetapi sebelum memakan kue, sang anak harus mencuci tangan terlebih dahulu. Dan setelah itu, ia harus memperlihatkan kepada ibunya, bahwa tangannya telah bersih, lalu menyantap kue itu.  Dalam  hal ini, mencuci tangan ibarat menyiapkan hati dan hidup kita, agar kita menjadi layak untuk memperoleh hak sebagai orang yang dipilih Tuhan. Tidak mungkin Tuhan mengizinkan kita masuk ke dalam Kerajaan Allah kalau kita masih iri, malas, mudah marah, dan banyak kelemahan lainnya. Tuhan ingin memastikan kita telah benar-benar siap menerima hak kita sebagai orang pilihan Allah. Kewajiban yang harus kita lakukan adalah sebuah proses untuk menyiapkan kita.

Melayani Tuhan tidaklah mudah, dan itu pasti. Akan ada banyak hal yang harus kita korbankan. Terkadang kita mengalami hal yang tiak mengenakkan seperti dijauhi bahkan dimusuhi. Namun, inilah hak istimewa kita, yaitu turut merasakan sukacita Tuhan saat melihat orang-orang yang kita layani bertobat dan bertumbuh di dalam Tuhan. Oleh karena itu, tetaplah giat melayani Tuhan karena itulah wujud syukur kita kepada Tuhan yang telah memilih kita.

Ingatlah, saat semua pelayanan kita di dunia ini berakhir, yaitu saat kita kembali ke Rumah Bapa di Sorga, kelak Bapa akan berkata “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; Masuklah dan turut dalam kebahagiaan tuanmu.” Sebuah pernyataan yang amat indah dari Tuhan untuk menutup pelayanan kita di dunia ini, sekaligus memulai pelayanan kita di dunia yang kekal.

Renungan ini menjadi Artikel Utama Warta Jumatan PMK-ITB tanggal 15 Oktober 2010, dengan judul “Pelayan Cap Jempol (Excellent Servant)”.

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.