Browse By

Melayani Bersama dalam Persekutuan

Melayani bersama dalam persekutuan memang bukanlah hal yang mudah. Meskipun seluruh anggota persekutuan adalah orang yang sudah percaya, bukan berarti tidak ada pertengkaran atau perselisihan. Naif sekali ketika kita mengatakan tidak ada perselisihan atau perbedaan pendapat dalam persekutuan. Sebab kita juga adalah makhluk humanis, yang memiliki ego, cara pandang, dan pendapat sendiri-sendiri. Begitu pula dengan pendapat dalam persekutuan.

Kisah Persekutuan Rokris di SMA Negeri 8 Jakarta

Saya juga pernah mengalami hal serupa sewaktu melayani dalam persekutuan Rokris SMA Negeri 8 Jakarta. Waktu itu saya kelas 3, sekitar 3 bulan setelah pertukaran tugas pelayanan kepada anak kelas 2 SMA. Saat itu, banyak anak kelas 2 (yang punya tugas pelayanan memimpin doa pagi dan doa siang) meminta nasehat Johannes mengenai bagaimana cara menguasai kondisi yang sering gaduh saat doa bersama. Posisi Johannes saat itu adalah pembimbing doa pagi dan doa siang dan sering dimintai nasihat dan masukan oleh anak-anak kelas 2.

Puncaknya saat doa bersama saat jam istirahat siang di hari-hari menjelang peringatan hari Jumat Agung dan Paskah. Mungkin karena menjelang libur panjang, banyak siswa yang gaduh sehingga suara pemimpin doa tidak kedengaran. Jadilah ibadah dan doa siang itu diulur-ulur dan akhirnya tidak jadi. Selesai bel selesai jam istirahat, koordinator doa pagi dan doa siang meminta Johannes untuk membawakan renungan esok hari. Selain untuk menenangkan suasana sejenak, mereka berpikir kalau anak kelas 3 yang senior yang memimpin ibadah dan doa, maka suasana bisa lebih terkendali.

Selesai pelajaran hari itu, Johannes kemudian berbincang-bincang dengan saya mengenai tema renungan yang pas. Saya teringat tentang kisah telur dalam keranjang yang pernah dibahas oleh Pak Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Ribut Rukun”.

Pagi itu saya membawa piring dan Johannes membawa 2 butir telur. Johannes memimpin pujian dan doa sebelum renungan dan kemudian saya yang memimpin renungan di pagi itu. Sambil saya membawakan renungan kepada siswa dan para guru yang berkumpul di aula lantai 1, Johannes mempraktekkannya langsung dengan 2 butir telur yang dibawa. Berikut isi renungan yang saya sampaikan di pagi itu.

Dinamika Persekutuan Kristen

Hubungan orang-orang dalam keluarga atau persekutuan ibarat telur dalam keranjang. Telur-telur retak karena mereka ada dalam satu wadah yang sama. Kalau letaknya berjauhan, tentu tidak akan saling berbenturan dan retak. Begitu pula halnya dengan orang-orang dalam persekutuan. Karena berdekatan dan ada dalam wadah yang sama, kita bisa saling berbenturan. Makin dekat satu sama lain, beraneka ragam perasaan pun muncul. Misalnya, cinta, kecewa, butuh, amarah, rindu, peduli, iba, cemas, kesal, dan perasaan lainnya. Perasaan-perasaan seperti ini dapat menimbulkan kerukunan dan serempak juga keributan.

Hidup bersama dalam persekutuan Kristen

Hidup bersama dalam persekutuan Kristen

Dalam sebuah persekutuan, seiring berjalannya waktu kita tentu juga memiliki ekspektasi dan harapan kepada sesama anggota dan juga tentang visi persekutuan. Namun, tidak semua ekspektasi dapat terwujud. Ada yang akhirnya mesti mengalah dan menerima pendapat orang lain. Ada yang mesti mendengarkan ketika orang lain lantang berbicara.

Tapi itu bukan berarti persekutuan terpecah-belah. Sebab persekutuan bukanlah kumpulan orang-orang yang ingin kehendaknya didengar. Persekutuan bukan gabungan orang-orang yang keras berpendapat. Perkumpulan Kristen yang sebenarnya adalah perpaduan orang-orang dengan kelemahan dan kelebihan masing-masing, dan mau menerimanya satu sama lainnya. Dalam persekutuan, hak sendiri bukanlah hal terutama, melainkan bagaimana caranya mempertahankan visi dan misi persekutuan yang telah dibangun. Bukan diri sendiri yang ditonjolkan, melainkan kepentingan bersama di atas segalanya. Saya tidak menyuruh agar kita memendam perasaan dan menjadi acuh tak acuh dalam persekutuan, namun belajarlah menjadi dewasa dan pandai mengambil sikap.

Hidup dalam persekutuan adalah sebuah dinamika. Terus berjalan dan berubah setiap waktu. Permasalahannya adalah bukan bagaimana kita diterima dan nyaman dalam sebuah persekutuan, namun bagaimana kita dapat menyesuaikan diri dengan persekutuan yang telah ada. Ada saatnya kita kecewa, marah, atau tersinggung dengan situasi dan kondisi dalam persekutuan, namun ingatlah satu hal: orang lain mungkin juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kita rasakan.

Sebab bertahan atau runtuhnya suatu persekutuan ditentukan oleh anggota-anggotanya. Dan marilah kita terus berjuang sekuat tenaga mempertahankan persekutuan yang telah dibangun oleh Allah.

Sumber gambar: http://www.trianglepc.org

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.