Browse By

Pertemuan yang Tak Terduga

Saya masih ingat persis hari jumat siang itu, pertemuan dengan seorang cewek yang saya tidak pernah temui sebelumnya. Sebuah pertemuan yang tak terduga karena memang tidak pernah saya pikirkan. Setelah cukup sengit mengejar jadwal, akhirnya saya dapat tiba tepat waktu di pusat perbelanjaan Grand Indonesia di kawasan Thamrin. Malam sebelumnya, saya mengajaknya bertemu. Kebetulan dia sudah libur karena ada cuti bersama menjelang lebaran. Dan diapun mengiyakan untuk bertemu. Saya tiba sekitar pukul 12 siang dan bertanya, kita ketemuan di mana ya? Dan ia menyebutkan “The People’s Cafe”

Tulisan-tulisan ini adalah catatan harian saya semenjak mulai berkenalan dengan Bertha. Hingga akhirnya pada tanggal 13 September 2017, she said “yes” untuk pemintaan saya hampir 1 bulan sebelumnya. Yakni, mendoakan hubungan dia dan saya ke arah yang lebih serius yakni pacaran.  Jadi buat beberapa orang yang masih bingung bagaimana proses pendekatan (istilah keren-nya: PDKT) saya hingga “sih, gimana kok bisa ceritanya? atau kapan kenalannya?” bisa menunggu tulisan-tulisan saya berikutnya (mohon menunggu ya, karena masih perlu disempurnakan lagi tulisannya, hehe)

Sebelum mem-publish tulisan ini, saya juga sudah meminta ijin kepada Bertha untuk menuliskan tentang dirinya. Soalnya, ya…sedikit banyak hal-hal pribadi akan saya bagikan di sini mengenai dia, karakter dan pribadinya, hingga keluarga dan pekerjaannya. Saya tambahkan sore itu, “Ya, tulisan ini sekalian buat iklanin kamu kok,” Tapi dia menolaknya dengan halus, “Duh.. aku kan udah taken [sama kamu] ngapain diiklanin lagi…” Benar juga pikir saya sejenak. Tapi, tak apalah pikirku, memang tujuan pembuatan tulisan-tulisan website ini juga sebagai cara adik saya dan saya untuk mengenang kebaikan Tuhan. Dan buat saya, kehadiran Bertha adalah salah satu kebaikan (bahkan anugerah) dari Tuhan.

Saya bergegas menuju The People’s Cafe yang terletak di lantai 5.  Siang itu, meskipun badan sedikit lelah siang itu, saya cukup bersemangat untuk bertemu langsung pertama kali dengan dirinya. Pikiran saya melayang ke masa 3 minggu sebelumnya, percakapan dengan menggunakan aplikasi Whatsapp dengannya saya mulai. Hari minggu siang itu, saya memberanikan diri untuk memulai perbincangan. Agak gimana rasanya, lah wong tidak pernah kenal sebelumnya, dan kini tiba-tiba harus memulai perbincangan. Namun, setelah berdoa sebentar, saya memberanikan untuk memperkenalkan diri sekaligus mengucapkan selamat hari raya pentakosta (hari minggu itu memang kebetulan hari Pentakosta). Semenjak saat itu, saya sering chat dengannya. Belum intens sih, namun dia selalu punya cara untuk menarik perhatian saya di tengah-tengah kesibukan bekerja, kuliah, dan juga mengerjakan proyek.

Tiba di depan tempat janjian kami, saya sempat mencari-cari. Saya tahu bagaimana tampak wajahnya, karena sering melihatnya melalui chat atau media sosial. Oiya, dia ini cukup suka update di medsos, dan seperti “ketinggalan informasi” jika tidak memantau lini masanya, hehe. Dia menepuk bahu saya dan bertanya, “Daniel ya?” seraya memberikan tangannya mengajak saya berjabat tangan. Seperti kenalan dengan pihak PLN atau owner pembangkit saja (IPP), pikir saya. Saya pun sempat terdiam sejenak lalu bertanya, Bertha ya? Salam kenal dan menjabat tangannya.

Saya sendiri lupa siang itu dia pakai baju warna apa…namun saya tidak bisa melupakan tatapan matanya yang tipis dan penuh semangat namun hangat itu. Saya juga tidak bisa melupakan gigi kelincinya yang membuatnya terlihat manis.

Saya akui, saya seorang introvert bisa setidaknya merasa nyaman setelah pertemuan pertama dan jabat tangan itu. Kami langsung mencari tempat duduk berdua dan duduk berhadap-hadapan. Untungnya siang itu suasana restoran cukup sepi jadi kami bisa berbincang dengan cukup nyaman. Mungkin karena sudah banyak yang cuti dan mudik lebaran pikir saya. Oiya, siang itu kami sama-sama memesan mie dengan porsi yang cukup besar dan berbincang mengenai banyak hal. Saya banyak bercerita tentang pekerjaan, sementara dia banyak bercerita mengenai keluarga besarnya. Maklum karena hari minggu nanti, dia akan kembali ke Porsea untuk liburan dan bertemu dengan keluarganya. Kami juga sempat saling bertukar cerita tentang pelayanan yang sama-sama kami lakukan di kampus. Wah, seperti yang dikatakan–oleh Ivani (adik kelas yang memberikan nomor Bertha kepada saya), “Kakak itu dulu ketua PMK bang, jadi oke lah soal pelayanan”–saya bisa melihat bagaimana sudut pandangnya mengenai pelayanan yang baik.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.40. Sudah hampir 3 jam Bertha dan saya berbincang. Kebetulan, saya harus kembali ke kantor untuk mengerjakan beberapa hal, dan dia juga sudah ditunggu oleh sahabatnya yang ingin menitipkan oleh-oleh sekalian dia pulang lusa. Kami sama-sama turun dengan menggunakan lift dan berpisah. Saya menjabat tangannya sekali lagi dan mengucapkan,  “Terima kasih, ya, Tha (panggilan saya kepadanya), nanti ketemu lagi.”

“Iya,” tuturnya. Lalu kami berpisah dan dia hilang di tengah keramaian eskalator turun. Jadi pertemuan pertama itu biasanya yang menentukan, apakah hubungan atau PDKT bisa berlanjut atau tidak. Kalau memang sedari awal tidak ada kecocokan atau interest, atau setidaknya  tidak ada keinginan untuk mencoba saling mengenal, bisa jadi tidak akan ada pertemuan kedua dan ketiga. Itu juga yang saya takutkan, apakah dia masih mau bertemu dengan saya?

Saya memberanikan diri untuk mengirimkan pesan melalui Whatsapp, “Udah dapat oleh-olehnya?”

Iya, udah sama temen-temenku. Aku ke GI lagi loh…” ujarnya.

Setidaknya, dia masih mau berkomunikasi. Dan dari saat itu, kami mulai intens untuk berkomunikasi, sampai dengan sekarang.

Pertemuan yang Tak Terduga

Pertemuan yang Tak Terduga

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan menarik mengenai Pertemuan yang Tak Terduga, yang saya temukan di intenet, “One day you will meet someone who will come in your life unexpectedly, takes your heart by surprise, and changes your life forever.”

“Suatu hari kamu akan bertemu seseorang yang akan datang dalam hidup kamu secara tidak terduga, mengejutkan hati kamu, dan mengubah hidup kamu selamanya.”

Baca juga kisah selanjutnya: Tuhan yang Menulis Cerita Cinta

Recommended for you

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.