Browse By

Memilih Pasangan Hidup | Seiman

Memilih pasangan hidup menjadi topik masalah pada pemuda sekarang bahkan oleh para remaja. Sebenarnya, bagaimana sih memilih pasangan hidup itu? Sejauh apa peranan saya, atau juga peranan Tuhan dalam proses memilih ini? Apakah semua keputusan mutlak di tangan Tuhan? Atau mutlak di tangan saya? Kan ini hidup saya… Atau bagaimana? Masalahnya, memilih pasangan hidup bukanlah pilihan yang dapat diulang atau setidaknya dicoba kembali. Ini pilihan sekali seumur hidup (jika kata perpisahan dan perceraian tidak masuk ke dalam kamus hidup Anda). Dalam tulisan ini kita akan mencoba menggali kebenaran Firman Tuhan mengenai pasangan hidup. Mengenai MEMILIH pasangan hidup.

INGAT kata kuncinya MEMILIH

Memilih pasangan hidup yang seiman

Air dan minyak tidak dapat bercampur. Ada banyak hal di dunia ini yang memang diciptakan untuk tidak saling bersama dan bersatu. Bukan berarti Tuhan salah atau gagal, namun Ia punya rencana. Dalam kehidupan ini juga, Tuhan menciptakan “kecocokan” itu diantara manusia. Seseorang yang takut pada ketinggian tentu tidak mungkin menerima ajakan seorang pendaki yang ingin mendaki lereng gunung yang terjal dan berbahaya. Seorang yang begitu pendiam mungkin bukan pasangan yang baik dengan seorang sosialita yang senang berkeliling dunia. Dan seorang pengikut Kristus tidak akan membangun pernikahan yang berhasil jika menikah dengan orang yang tidak percaya.

Tetapi Samuel berkata, ‘Manakah yang lebih disukai TUHAN, ketaatan atau kurban persembahan? Taat kepada TUHAN lebih baik daripada mempersembahkan kurban. Patuh lebih baik daripada lemak domba.’ (1 Sam 15:22)

Tuhan ingin kita berbahagia di bumi ini. Hidup bersama dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita. Namun terkadang, pilihan kita yang membuat kita tidak berbahagia. Pilihan kita yang “mengabaikan” rencana besar Tuhan.

Mengapa  harus meributkan apakah pasangan hidup saya seorang percaya atau bukan?

Memilih pasangan hidup dalam Tuhan

Memilih pasangan hidup dalam Tuhan

Kerohanian yang baik adalah bagian terutama dalam sebuah kisah pernikahan. Dalam kisah Ishak dan Ribka (Kej 24) Abraham mengetahui hal ini. la mengirim pelayannya berjalan jauh (lebih dari 640 km) untuk menemukan pengantin yang kerohaniannya sepadan dengan kerohanian anak laki-lakinya. Hal ini tidaklah sesederhana kenyataan bahwa ia seorang ayah yang melindungi dan mengawasi anaknya. Ia berharap anaknya dapat mengerti akan sebuah makna pernikahan dan kebahagiaan yang abadi. Abraham tahu persis bahwa pasangan Ishak–anaknya–haruslah seorang yang percaya dan takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan membawa implikasi yang luar biasa: mengasihi orang lain, keluarga, anak, orangtua, dan juga istri/suami yang dinikahinya. Takut akan Tuhan membawa damai sejahtera yang dibutuhkan oleh semua orang jauh melebihi harta berlimpah.

Abraham memberikan kepada pelayannya perintah-perintah tegas seperti ini: ” … supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam. Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku.” (ayat 3-4). Orang Kanaan adalah penyembah-penyembah berhala dengan nilai moral yang terkenal amat rendah. Penyembahan kepada dewa-dewi mereka juga meliputi pengorbanan manusia dan upacara kesuburan dengan menyelewengkan kekudusan seks. Abraham memberikan perintah itu kepada hambanya yang paling ia kenal (bandingkan dengan Eliezer, pada Kej 15:2) untuk tidak mencari calon istri dari orang Kanaan.

Siapa orang Kanaan zaman sekarang?

Oke, orang yang berkencan atau berpacaran dengan kita tidak menganjurkan pengorbanan manusia atau upacara seksual dan tidak memuja dewa-dewa kesuburan. Masalah terletak pada siapa yang disembahnya? Siapa yang menjadi yang terutama dalam hidupnya? Apakah orang yang kepadanya Anda tertarik ini mengenal Yesus Kristus sebagai Juruselamat? Apakah orang ini hidup untuk-Nya? Orang Kanaan zaman sekarang tidak selalu merupakan penyembah berhala yang terlihat dengan jelas. Mereka dapat saja menampakkan kehidupan beragama dalam segi-segi yang baik, tetapi orang yang religius tetap tidak cukup.

II Korintus 6: 14-15 menyatakan, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” Saya akui, konteks saat Paulus menuliskan kata-kata tersebut memang bukan mengenai pernikahan. Namun, prinsip yang terkandung di dalamnya sangat baik diterapkan dalam hal pernikahan. Seseorang yang menaruh imannya dalam Kristus sudah dilahirkan kembali (Yohanes 3:3-16), dan “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru” (II Korintus 5: 17). Perubahan dalam kehidupan rohani kita seharusnya berdampak sangat kuat terhadap prioritas, tujuan, gaya hidup, hubungan dengan orang lain, terlebih hubungan pada Tuhan.

I Korintus 7:39 menunjukkan bahwa seorang janda, jika ia memilih untuk menikah lagi, sebaiknya menikahi pria yang juga “di dalam Tuhan.” Pria itu haruslah seorang percaya, seorang yang hidup dengan iman di dalam Yesus Kristus. Hal ini berarti ketentuan tersebut tidak hanya berlaku untuk para janda tetapi untuk setiap orang yang ingin menikah.

Jadi, jika Anda adalah orang percaya, orang yang akan Anda nikahi juga harus orang percaya. Carilah seseorang yang mengenal Kristus sebagai Juruselamat, dan yang memiliki bukti-bukti pertumbuhan rohani.

Apakah salah jika saya menikah dengan orang yang kerohaniannya tidak sepadan dengan saya?

Tidak salah. Tokh hidup ini Anda yang menjalaninya. Namun, jika saya boleh memberikan pendapat, hidup Anda mungkin akan kosong. Kehampaan. Jika Anda dapat berbicara dengan Musa atau Raja Salomo, mereka akan menunjukkan bahayanya, baik bagi keluarga Anda maupun komunitas orang percaya. Musa mendapat perintah langsung dari Tuhan mengenai hal ini, dan Salomo mengalami sendiri kehampaan dan perasaan hidup yang sia-sia akibat menikah dengan orang yang tidak seiman.

Hukum Allah yang diberikan kepada Musa berisi larangan terhadap pernikahan dengan orang-orang penyembah berhala yang hidup di sekeliling bangsa Israel. Ulangan 7:3-4 menyatakan, “Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan la akan memunahkan engkau dengan segera.” Tuhan memerintahkan kita untuk menghabiskan hidup kita bersama-sama dengan orang yang percaya kepada-Nya. Tumbuh bersama dalam pengenalan akan Tuhan tentu mendatangkan sukacita dalam kehidupan pernikahan kita.

Meskipun Salomo mengetahui perintah Tuhan ini dengan lebih baik, ia menyalahgunakan hak istimewanya sebagai raja dan menikahi wanita-wanita dari bangsa asing yang menyembah berhala. Sebagai akibatnya, “… waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya” (I Raja-Raja 11 :4). Baik Salomo maupun seluruh bangsa pada akhirnya turut menderita (ayat 11-13). Bangsa Israel jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala, dan akhirnya kerajaan itu terpecah, dan Tuhan meninggalkan mereka.

Kita harus siap melawan pencobaan untuk melupakan hal yang paling mendasar dari kesepadanan rohani. Hanya karena ia “cantik,” “baik hati,” “ramah dan penuh perhatian,” atau kelihatan “betul-betul menyayangi dan memberikan perhatian kepadasaya,” jangan biarkan perasaan membuat Anda menginjak-injak hubungan Anda dengan Tuhan. Yakinlah, rencana Tuhan di atas semua rencana dan keinginan kita. Ia tahu siapa yang terbaik dan kapan waktu yang terbaik bagi kita. Bagian kita adalah dengan terus berserah kepadanya dan menjadi diri kita yang terbaik.

Sumber Gambar : http://www.pinterest.com/kemlindsay

Recommended for you

4 thoughts on “Memilih Pasangan Hidup | Seiman”

  1. ayu says:

    Amin.. Menguatkan prinsip hidup!

    1. Nugroho2014 says:

      Terimakasih atas komentarnya

  2. Mithy says:

    Syukur kpd Allah krn Roh Kudus menuntut Nugroho membuat tulisan ini.

    1. Daniel Sihombing says:

      Terima kasih, semoga semakin dikuatkan! Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.