Browse By

Dikasihi Tuhan

“Kamu dikasihi Tuhan Yesus,” begitu kata guru-guru sekolah minggu saat kita kecil. Lagu “Yesus sayang padaku” pun mengajarkan kita hal sama, bahwa kita dikasihi Tuhan. Tapi, pernahkah teman-teman merenungkan makna kalau kita dikasihi Tuhan? Lalu, bagaimana respon kita yang tepat?

Seperti Apa Rasanya Dikasihi Tuhan?

Kita dikasihi Tuhan

Kita dikasihi Tuhan

Sebelum masuk ke pembahasan, saya ingin agar teman-teman bisa membayangkan dan merasakan dulu seperti apa rasanya dikasihi Tuhan. Di Alkitab, kita bisa menemukan deskripsinya. Rasul Paulus dalam surat-suratnya dengan lugas menceritakan bahwa dirinya dikasihi Tuhan.

Dalam Galatia 2:20 dituliskan demikian. “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Dari sini kita bisa melihat Paulus tegas menyatakan bahwa dia hidup hanya karena kasih Tuhan.

Di bagian lain Paulus menyampaikan, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami…” (2 Korintus 5:14). Kita bisa melihat bahwa dikasihi Tuhan tidak berarti pasif, namun suatu hal aktif. Dengan dikasihi Tuhan, maka Tuhan yang menjadi nomor satu di hidup ini. Seluruh hidup kita dikontrol dan dikuasai oleh kasih Allah.

Sebegitu kuat pengaruh kasih Tuhan dalam hidup Paulus. Dia yang dulu mencela dan membunuh orang percaya, diubahkan seketika oleh kasih Tuhan. Kasih Tuhan tidak hanya mengubahkan hatinya saja, namun juga memperlengkapinya dengan hikmat sehingga Paulus bisa mengajarkan dan menulis surat tentang anugerah dan kasih Allah kepada banyak orang, di berbagai daerah, dengan latar belakang berbeda-beda.

Di suratnya kepada jemaat Efesus, Paulus betul-betul menginginkan setiap orang merasakan bagaimana dikasihi Tuhan. “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu…” (Efesus 3:18-19).

Bukti Kita Dikasih Tuhan

Alkitab mencatat banyak bukti-bukti dan penjelasan bahwa kita semua tak terkecuali dikasihi oleh Tuhan.

  1. “…karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita…” (Roma 5:5).
  2. “Akan tetapi Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).
  3. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah…” (1 Yohanes 3:1).
  4. “dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Efesus 5:2).

Paulus dengan apik menjelaskan bahwa Tuhan Yesus tidak hanya sekedar berkata-kata saja. Namun, Dia sungguh telah mendemonstrasikan dan membuktikan kasih-Nya kepada kita. Ketika dikatakan orang kasih adalah memberi, Yesus memberikan segala milik-Nya bahkan hidup-Nya sendiri. Ketika kasih adalah berkorban, Yesus dengan rela mengorbankan nyawa-Nya buat kita, orang-orang yang dikasihi-Nya.

Dikasihi Tuhan Meski dalam Pencobaan

Perlu dicatat, Paulus menyampaikan isi suratnya bukan dalam keadaan senang. Dia dipenjara, disiksa, dan mengalami banyak halangan dalam memberitakan Injil Kristus. Dia pun mempunyai sakit yang terus dideritanya hingga akhir hidupnya. Meskipun begitu, kita dapat melihat keyakinan Paulus bahwa dirinya dikasihi Tuhan meski dalam keadaan buruk sekalipun. Tak pernah Paulus menggurutu dan meragukan kasih Tuhan dalam hidupnya.

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Roma 8:35).

Yesus mengasihi kita, dalam hidup bahkan dalam kematian-Nya. Kita tetap dikasih Tuhan, dalam senang, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun. Kasih Tuhan abadi tidak berubah, tak berubah meski kita berubah sikap. Tidak berubah meskipun dimakan aus waktu. Kasih Tuhan begitu dalam, intensif, memenuhi seluruh rongga-rongga kehidupan kita.

Bagaimana Respon Kita terhadap Kasih Allah?

Di akhir artikel ini, saya mengajak kepada teman-teman untuk merenungkan terus betapa besarnya kasih Allah, dan menyadari bahwa seluruh hidup ini hanyalah karena kasih Tuhan saja. Dengan kesadaran bahwa saya dikasihi Tuhan dan saya tak bisa hidup tanpa kasih Tuhan, hidup kita akan senantiasa diperbarui dan dikuasai oleh kasih.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yohanes 4:16).

“Dan hidupku yang kuhidupi sekarang…adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Sumber gambar : http://musingssahm.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.