Browse By

Mengenal dan Merasakan Kasih Allah

Masih seputar kasih, kalau sebelumnya saya telah membahas apa makna mengasihi Tuhan, kali ini saya ingin menulis tentang merasakan kasih Allah. Kita mungkin sudah sering mendengarka khotbah atau renungan berisi kasih Allah, tapi pernahkah kita merenungkan makna kasih Allah yang sesungguhnya itu? Dalam artikel ini, saya akan menuliskan sedikit dari banyak dimensi mengenai kasih Allah, dirangkum dari khotbah di gereja dan beberapa sumber literatur rohani.

Kasih Tuhan adalah Sumber Kasih Kita

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yohanes 4:8).

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19).

Allah adalah kasih. Kasih adalah Allah. Kita tidak pernah merasakan kasih sejati di luar Allah, dan sebaliknya, tanpa kasih Allah kita hanyalah kosong tak berarti. Lebih dalam lagi, kasih identik pula dengan Allah. Sama halnya dengan Allah yang tak kelihatan dan tak bisa disentuh, kasih pun begitu, hanya dapat dirasakan di dalam hati.

Begitu Besarnya Kasih Allah

Mengenal dan merasakan Kasih Allah

Mengenal dan merasakan Kasih Allah

Kasih Allah memang hanya bisa dirasakan dan dinikmati. Kasih Allah bukan sesuatu yang bisa diukur atau disejajarkan atau dibandingkan dengan lainnya. Ingatkah teman-teman ketika Allah menjanjikan keturunan kepada Abraham? Allah menggunakan bintang di langit dan pasir di laut sebagai metafora akan kasih Allah yang tak terbatas.

Pemazmur menyatakan kasih Allah seperti berikut, “Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan” (Mazmur 36:6).

Paulus sendiri mendeskripsikan kasih Allah yang begitu besar dalam suratnya kepada jemaat di Efesus. “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus…”(Efesus 3:19).

Yesus juga menjelaskan dimensi kasih Allah lewat perumpamaan mengenai anak yang hilang dalam Lukas 15. Dalam perumpamaan ini, digambarkan mengenai kasih seorang Bapa kepada anak-Nya. Walaupun sang anak sungguh telah berdosa terhadap sang Bapa, Namun Bapa tidak berhenti berharap dan berbaikan dengan anaknya. Saat dia melihat anaknya dari jauh, dia berlari, memeluk dan mencium anaknya. Yesus menjelaskan sifat Allah sama seperti bapa dalam kisah perumpamaan. Allah begitu mengasihi kita dan selalu menunggu kita kembali kepada-Nya.

Di lain kesempatan, dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus menjelaskan begitu besarnya kasih Allah kepada dunia, sehingga Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya yang percaya kepada Allah tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Kasih Allah adalah kasih yang sempurna! Kasih Allah memberikan kepada kita segalanya, bahkan hingga mengorbankan Yesus untuk menebus dosa manusia.

Lewat serangkaian ayat-ayat di atas kita dapat menyimpulkan kasih Allah yang dinyatakan kepada seluruh suku bangsa, seluruh manusia! Tidak hanya itu, kasih Allah juga dinyatakan dalam sejarah. Dari jaman dahulu hingga ke masa depan, saat Yesus datang kembali ke dunia. Sungguh benar kasih Allah tidak terukur dan tak dapat dihitung.

Kasih Allah tanpa Syarat

Dan yang terakhir, yang tak boleh dilupakan adalah bahwa kasih Allah adalah kasih tanpa syarat dan tanpa kondisi. Ketika kita bisa saja bermusuhan dengan orang lain karena salah ucap dan sebagainya, kasih Allah tidak pernah berubah meskipun kita sering lalai dan melupakan Allah.

Kasih Allah tetap sama. Kasih Allah tetap setia, meskipun kita kadang berubah setia. Sebuah kasih tanpa syarat, yang bersumber dan berasal dari Allah sendiri. Nabi Yeremia dalam kesedihannya karena bangsa Israel yang berubah setia pada Allah bahkan tetap berseru, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Ratapan 3:22-23).

Kasih yang sama berlaku juga bagi kita. Di hari indah ketika orang menyampaikan rasa terimakasih dan kasih kepada orang tercinta, marilah kita juga merenungkan kasih Allah bagi kita. Kasih tanpa syarat, tiada berubah, dulu kini hingga selama-lamanya.

“Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu-bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? – tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu… TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya…” (Ulangan 7:7-9).

Sumber gambar : http://heckyeahjesussaves.tumblr.com

Recommended for you

2 thoughts on “Mengenal dan Merasakan Kasih Allah”

  1. Merry Amelia Bell says:

    saya rindu skli tuk mmbaca artkl2 sperti ini

    1. Daniel Sihombing says:

      Terima kasih bu Merry

      Salam dan selamat membaca artikel-artikel lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.