Browse By

Kebahagiaan

Untuk apa orang  belajar dan bekerja keras selama hidup? Untuk memperoleh kesuksesan. Lantas kalau sudah beroleh kesuksesan? Beli rumah, beli mobil, menikah, punya anak. Untuk apa semuanya itu? Supaya berbahagia. Lantas, kapan kita disebut berbahagia? Untuk sebagian besar orang, ukuran kebahagiaan adalah mempunyai. Orang yang mempunyai pacar, rumah, mobil, uang, jabatan, dan sebagainya adalah orang yang berbahagia. Pokoknya, dengan punya ini dan itu, senang lah hidupnya.

Anggapan itu ternyata patut kita lihat kembali. Apakah setelah memiliki pacar, orang otomatis jadi lebih berbahagia ketimbang sebelum berpacaran? Atau apakah setelah memiliki rumah dan mobil sendiri, orang pasti lebih berbahagia? Mungkin saja iya, mungkin juga tidak. Ada tokh orang yang malah tersiksa dengan pasangannya, atau malah jadi sering ribut dan bertengkar di rumah yang besar dan baru. Hanya satu yang pasti, semua orang di dunia ini selalu berupaya untuk bahagia. Segala cara dan upaya dia lakukan untuk mencari dan memperoleh kebahagiaan. Hanya orang gila dan lupa ingatan saja yang tidak ingin berbahagia. Benar bukan?

Kebahagiaan Menurut Alkitab

Kebahagiaan yang sebenarnya

Kebahagiaan

Mari kita lihat apa yang Tuhan Yesus katakan mengenai kebahagiaan. Di dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus menyebutkan ciri atau ukuran kebahagiaan, yaitu: “orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat.5:3), “orang yang berdukacita” (ay. 4), “orang yang lemah lembut” (ay. 5),  “orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (ay. 6), “orang yang murah hatinya” (ay. 7), “orang yang suci hatinya” (ay.  8), dan “orang yang membawa damai” (ay. 9). Wah, dari sini dapat terlihat, ternyata Tuhan Yesus memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda dengan yang dunia kenal di awal tadi. Selain itu, di Kisah Para Rasul 20:25, Tuhan Yesus juga berkata, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada  menerima.” Intinya, kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita punyai, melainkan pada apa yang mampu kita beri. Yang berbahagia adalah orang yang mampu memberi, yaitu memberi dirinya kepada Allah dengan melakukan kehendak-Nya juga memberi diri kepada orang lain dengan mengasihi dan membawa damai.

Kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita punyai, melainkan pada apa yang mampu kita beri.

Kebahagiaan itu ibarat seekor kupu-kupu. Kita kejar, kita buru, dia akan terus lari. Semakin kita kejar dan ingin tangkap dia, makin jauh juga dia dari jangkauan kita. Meninggalkan kita melihatnya terbang tinggi jauh ke angkasa. Namun, apabila kita diam tenang, dia akan mendekat. Dia bahkan bisa hinggap di tangan kita dan kita bisa menikmati keindahannya. Mencari kebahagiaan adalah sebuah frasa yang berlawanan, seperti: es panas atau air kering. Kebahagiaan tidak mungkin dapat kita cari, sehingga tidak mungkin juga dapat kita temukan. Kebahagiaan itu terpancar dari kehidupan yang memberi bukan mencari dan menerima. Ketika kita mulai memberi dengan tulus hati, di saat itulah, kita peroleh kebahagiaan yang utuh. Jauh melebihi besar pemberian kita.

Sumber Video : Youtube
Sumber Gambar : www.flickr.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.