Browse By

Karakter dan Integritas

Seperti kata pepatah “Talents and charisma can take you to the top, but only character and integrity can keep you there.” Lima tahun berlalu sejak diskusi di acara Indonesia Laywers Club (ILC) ini disiarkan, namun kita bisa lihat integritas Pak Ahok, tidak berubah hingga hari ini. Sungguh bangga bisa melihat contoh hidup dan berpolitik seperti Pak Ahok. Kalimat di atas adalah komentar saya mengagumi ucapan Pak Ahok tidak berubah sejak 5 tahun lalu acara itu disiarkan. Di artikel kali ini, masih hangat mengenai sepak terjang Pak Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama sebagai politisi dan Gubernur DKI Jakarta dan juga seputar pemilihan Gubernur DKI Jakarta mendatang, saya ingin membahas mengenai karakter dan integritas. Melihat Pak Ahok, saya ditegur betapa pentingnya memiliki integritas dalam hidup dan ijinkan saya membahasnya dalam beberapa artikel ke depan.

Karakter dan Integritas

Karakter adalah hal penting yang musti dimiliki oleh semua orang, apalagi bagi yang menjadi pemimpin. Bisa dibilang karakter adalah yang menentukan keberhasilan kita dalam hidup. Tanpa karakter yang baik, keluarga akan hancur, begitu pula dengan pekerjaan, bisnis, dan pemerintahan. Tapi ada hal yang lebih penting daripada karakter, itu adalah integritas. Lantas apa perbedaan karakter dan integritas?

Kita mungkin jarang mendengar kata integritas dalam kehidupan sehari-hari. Saya akan meminjam pelajaran dari bidang material untuk menjelaskan kata integritas. Orang-orang teknik sering menggunakan kata integritas atau integrity untuk membandingkan dua jenis baja. Kedua baja dari luar nampak sama dan tidak ada perbedaan mencolok, beratnya pun sama. Tapi ketika keduanya diberi beban yang sama, salah satu baja tidak dapat menahan beban dibanding yang lainnya. Baja yang bisa menahan beban dikatakan baja yang memiliki integritas.

Karakter dan Integritas: Apa Perbedaannya?

Karakter dan integritas

Karakter dan integritas

Karakter adalah kebiasaan baik. Dibiasakan melakukan sesuatu yang baik sejak kecil, sehingga terbiasa berbuat sesuatu yang baik. Ketika kita mengajarkan anak-anak dengan hal-hal yang baik, hingga mereka terbiasa melakukan yang baik, itulah sebenarnya pembentukan karakter. Kita mengajarkan anak-anak untuk bangun pagi, merapikan tempat tidur, pakai baju, memberi salam pada guru, belajar bagus di sekolah, mengerjakan tugas pekerjaan rumah dan belajar, membaca Alkitab dan berdoa, itulah pembentukan karakter. Lalu juga kita sering mengajarkan untuk sopan terhadap atasan, bekerja dengan teliti, menepati janji kepada anak buah atau bawahan. Mereka jadi terbiasa melakukan yang baik, dan itu juga pembentukan karakter. Jadi karakter bisa dibilang kebiasaan melakukan hal baik dan bisa diajarkan dengan cara membiasakan/ melakukan secara berulang-ulang.

Bagaimana dengan integritas? Menurut arti kata, integritas berarti kondisi sudah lengkap, tidak terpecah-pecah, atau sebagian. Integritas juga bermakna kejujuran atau nilai moral yang tinggi. Bagaimana membedakan karakter dan integritas?

Integritas sebenarnya jauh diatas melebihi karakter, jauh lebih penting daripada karakter. Integritas adalah karakter yang bukan muncul karena dibiasakan, namun muncul dari hati. Integritas adalah karakter yang kokoh dan tangguh, tidak berubah karena lingkungan dan kondisi. Sesungguhnya integritas yang membentuk karakter, bukan karakter/ kebiasaan yang membentuk integritas. Integritas adalah pokok karakter yang sebenarnya.

Kalau Anda punya karakter tapi tak punya integritas, semuanya omong kosong, nol besar. Itulah yang menyebabkan banyak orang kehilangan karakter dirinya karena terpengaruh oleh kondisi dan lingkungan sekitar. Mereka punya karakter bagus, namun tidak menopang karakter itu dengan “baja” integritas. Alhasil karakter dan kebiasaan baik akan dengan mudah tergerus dan akhirnya roboh oleh angin dan air yang merusak. Sebaliknya orang dengan integritas, dia akan tetap kokoh dan tidak berubah. Jika ada sesuatu yang mulai menggerus karakternya, dia akan tetap kuat karena ada “baja” integritas yang tetap menopang karakter baiknya. Ingat, saya tidak sedang membahas karakter, sebab semua orang pasti pernah mengalami tantangan dan kesulitan yang menggerus karakter baiknya. Yang sedang kita bicarakan adalah apakah orang tersebut punya baja bernama integritas atau tidak.

Jadi apakah integritas itu? Jika karakter adalah sesuatu yang dibiasakan, bagaimana membentuk integritas? Integritas bukanlah suatu hal yang bisa karena biasa, namun bisa karena menetapkan diri. Integritas adalah soal ketetapan diri, ketetapan hati. Karakter adalah tentang apa yang orang lain lihat terhadap diri Anda, sedangkan integritas adalah tentang siapa diri Anda sebenarnya.

Ketika saya takut, saya harus tetap berbuat benar. Ketika tidak takut pun, saya harus tetap berbuat benar. Ketika hati saya mendorong untuk menjalani hal yang salah, saya harus tetap teguh untuk berbuat benar. Ketika hati dan emosi senang, saya harus tetap berbuat benar. Ketika saya berada di antara sekelompok orang baik, saya harus tetap berbuat benar. Ketika berada di antara sekomplotan orang jahat sekalipun, saya harus tetap berbuat benar.

Ketika teman dan orang-orang mendukung, saya harus tetap berbuat benar. Ketika mereka menolak, memusuhi, dan coba menghabisi nyawa saya sekalipun, saya harus tetap berbuat benar. Ketika anak dan istri saya mendukung, saya harus berbuat benar. Ketika mereka memarahi dan meninggalkan saya sekalipun, saya harus tetap berbuat benar. Ketika segalanya terasa gampang, saya harus berbuat benar. Tapi dalam keadaan sulit pun saya harus tetap berbuat benar. Ketika orang-orang menyukai saya, saya harus tetap berbuat benar. Ketika orang-orang membenci dan memusuhi saya, saya harus tetap berbuat benar. Itulah integritas. “Saya harus berbuat benar. Titik. Tidak ada bla-bla-bla.”

Kita banyak menemukan pemimpin dengan karakter baik, namun berubah di tengah jalan, terpengaruh orang lain. Dan kalau dikatakan apa yang diperlukan pada jaman sekarang, jawabannya mungkin adalah integritas. Sebuah baja penopang hati bernama integritas, integritas untuk tetap berbuat benar.

Karakter adalah hal baik yang harus dipupuk dan diajarkan sejak kecil, dan ini bisa kita dapatkan dari orangtua dan dari agama kita masing-masing. Tapi integritas tidaklah demikian. Orang yang taat dan setia pada agama belum tentu punya integritas. Integritas adalah soal ketetapan dan keberanian hati, soal disiplin diri apapun resikonya. Beranikah Anda? Tegaskah Anda terhadap diri sendiri? Atau malah leyeh-leyeh, pengecut, takut kehilangan dukungan dan takut tidak disukai?

Sumber gambar: www.poemfish.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.