Browse By

Ceritakanlah Isi Hati dalam Doa

Orang Jepang, yang terkenal dengan sifat sulit ditebaknya. Waktu belajar mengenai bahasa Jepang di latihan penerjemah di Gereja, Kak Mie mengajarkan saya tentang memiliki dua kata yang memberi petunjuk tentang pembagian diri. Ada kata “tatemae”, isi hati saya yang saya biarkan orang lain lihat di bagian luar, dan kata “hon ne”, isi hati saya yang tidak bisa dilihat oleh seorangpun. Tatemae inilah yang ditampilkan saat belajar di sekolah atau kampus, atau saat bekerja di kantor. Bekerja dengan rapih dan teratur, tidak membuat masalah, atau menuruti perintah dari atas. Nah, apa yang terjadi di dalam, yaitu hon ne ini hampir tidak pernah terbuka keluar. Hon ne bisa saja keluar, namun itupun ketika orang itu sedang mabuk.

Itulah sebabnya mabuk di Jepang perlu. Dengan mabuk bersama dengan teman sekerja, semua perasaan yang terpendam bisa disampaikan. Dengan mabuk, kita bisa tahu apa yang sebenarnya orang lain pikirkan tentang kita. Dengan mabuk, katanya hubungan bisa menjadi dekat. Hanya ketika mabuk sajalah, isi hati yang sebenarnya bisa keluar.

Curahkan isi hati dalam doa

Curahkan isi hati dalam doa

Ceritakanlah Isi Hati pada Tuhan

Memang benar seperti kata pepatah: Isi hati orang tiada tahu. Isi hati orang siapa tahu. Tidak ada yang tahu isi hati, kecuali orang itu sendiri. Masih untung orang Jepang bisa mengeluarkan isi hatinya dengan mabuk, tapi tetap ada yang lebih parah. Sebab ada juga orang yang menutup-nutupi isi hatinya kepada Allah.

Saat berdoa, mereka bukannya merendahkan hati dan menyerahkan diri, mengaku dosa dan kesalahan pada Allah, malah menyebutkan kelebihan dan kehebatan. Menceritakan perbuatan yang telah dilakukan seraya menyombongkan diri. Mereka seperti orang-orang Farisi saat jaman Yesus.

Yang saya ingin pesankan dari renungan kita kali ini adalah, pentingnya mencurahkan segenap isi hati kepada Allah tanpa ada yang disembunyikan. Luapkanlah segala kecewa, amarah, kesedihan, penyesalan, seluruh isi hati kepada Allah dalam doa. Hanya dengan penyesalan dan penyerahan, saat kita benar-benar tidak berdaya dan berarti, justru di saat itulah hati kita dibaharui oleh Allah. Isi hati kita diubahkan, kita jadi baru.

Sumber Gambar : BlogSpot

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.