Browse By

Bersukacitalah

Hidup di jaman sekarang ini apalagi berada di kota-kota besar telah memberikan tekanan tersendiri di dalam kehidupan seseorang. Tekanan dari pekerjaan, tekanan dari suasana jalanan yang macet, dan tekanan dari bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari hanyalah sebagian kecil dari contoh tekanan yang kita peroleh di dalam hidup. Manusia akan selalu berhadapan dengan masalah–sadar atau tidak sadar tiap masalah memiliki kekuatan untuk menekan kehidupan kita.

Apa Artinya Bersukacitalah?

Bersukacitalah di dalam Tuhan

Bersukacitalah di dalam Tuhan

Mengapa saya memilih judul Bersukacitalah ? Bersukacita adalah hal yang amat mudah diucapkan, namun ternyata sangat sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah dan persoalan yang silih berganti datang membuat banyak orang kehilangan sukacita. Kita harus memegang kunci untuk dapat bersukacita, yaitu: Allah adalah sumber sukacita abadi. Di luar Allah, sukacita yang kita rasakan atau peroleh mungkin adalah sukacita yang semu. Tetapi di dalam Allah, kita beroleh sukacita yang sebenarnya–dalam jumlah yang amat besar–sehingga kita mampu untuk memancarkannya.

Dampaknya, kita harus hidup dekat dengan Allah–Sang sumber sukacita abadi itu. Kita harus bergaul dengan-Nya. Caranya mudah, dengan berdoa, membaca Firman Allah, mengikuti persekutuan-persekutuan, dan masih banyak cara lain. Yang penting, kita dapat lebih mengenal Allah dan mampu mendengar dan melakukan apa yang Ia perintahkan kepada kita. Hidup dekat dengan Allah membuat kita menjadi bersukacita, bahkan di tengah pergumulan hidup sekalipun!

Jadi, bisa saya katakan di sini bahwa sukacita bukanlah sebuah keadaan. Bukanlah sesuatu yang berada di luar kekuasaan kita. Sukacita adalah sebuah pilihan dan ia berada di bawah kekuasaan kita. Maksud saya di sini adalah, kita dapat memilih apakah tetap bersukacita atau tidak–saat menghadapi masalah. Allah tidak pernah menjanjikan bahwa tidak akan ada masalah ketika kita mengikut-Nya. Kita akan tetap memiliki masalah, bahkan jauh lebih banyak daripada orang dunia. Namun, ada janji Allah yang dapat kita pegang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Bahwa sekalipun masalah ada, itu semuanya untuk kebaikan kita.

Dalam menghadapi masalah, hanya ada dua sifat dominan manusia. Menggerutu, bersungut-sungut, bahkan menyalahkan orang lain–atau bersyukur, berusaha, dan tetap bersukacita. Bedanya di mana? Biarlah saya memberikan contoh sederhana yaitu masalah menunggu. Andaikan Anda harus menunggu selama dua jam. Jika Anda bersungut-sungut, dua jam itu akan menjadi amat lama dan membosankan. Bukan tidak mungkin emosi memuncak dan membuat Anda tidak semangat lagi menjalani aktivitas. Bandingkan, Anda menerima kenyataan bahwa harus menunggu dengan sukacita. Anda dapat menulis bahan bacaan, Anda dapat membaca buku-buku, atau sekedar berbicara langsung dengan seseorang melalui telepon. Dua jam akan cepat berlalu, semangat dan tenaga masih ada untuk menjalani aktivitas.

Mungkin contoh di atas pernah Anda alami sendiri. Masih banyak contoh lain bagaimana sukacita dapat membuat kita dapat menghadapi masalah dengan lebih mudah. Masalah akan selalu ada dan ia akan selalu membawa efek berupa tekanan kepada kehidupan kita. Pilihan ada pada Anda. Sekali lagi saya tegaskan, pilihan ada pada Anda–meghadapinya dengan bersukacita atau tidak.

Mengikut Tuhan tidak membebaskan kita dari masalah. Namun, Tuhan yang memampukan kita memilih untuk tetap bersukacita. Karena kita imani, bahwa semuanya itu adalah demi kebaikan kita. Bersukacitalah! Sekali lagi bersukacitalah!

Sumber Gambar : BlogSpot

Recommended for you

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.