Browse By

Bakat: Sebuah Pemahaman Alkitabiah

Menurut KBBI, bakat adalah dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yg dibawa sejak lahir.

Menurut S.C. Utami Munandar, bakat (aptitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.

Menurut Kartini Kartono, bakat mencakup segala faktor yang ada pada individu sejak awal pertama dari kehidupannya yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian, kecakapan, dan keterampilan khusus tertentu. Bakat bersifat laten potensial (dalam arti dapat mekar berkembang).

Menurut Suganda Pubakawatja, bakat sebagai benih dari suatu sifat, yang baru akan nampak nyata, jika mendapat kesempatan atau kemungkinan untuk berkembang.

Menurut Bingham, bakat adalah kondisi atau seperangkat sifat-sifat yang dianggap sebagai tanda kemampuan individu untuk menerima latihan (respon).

Bakat: Sebuah Pemahaman Alkitabiah

Dalam pembahaman alkitabiah tentang bakat, bakat tidak pernah benar-benar menjadi milik kita atau ditujukan untuk kita. Bakat memang kita terima, namun itu tidak kita miliki. Bakat kita mutlak adalah milik Allah, dan dapat saya katakan, kita adalah para “hamba”–yang bertanggung jawab untuk mengolah dengan cermat harta yang bukan milik kita. Inilah yang membuat bakat kita selalu “kita miliki untuk orang lain,” baik dalam komunitas rohani atau komunitas sekuler.

Bakat untuk kemuliaan Tuhan

Bakat untuk kemuliaan Tuhan

Siapakah kita? Dan apakah tujuan akhir hidup kita?–Jawabannya hanya dapat kita temukan dalam hubungan kita dengan Allah. Bakat dan tujuan hidup kita tidak secara spesifik ada dalam harapan-harapan orangtua kita, rencana-rencana bos dan atasan kita, tekanan-tekanan teman sebaya, maupun tuntutan masa kini. Kita perlu mengetahui rancangan pribadi kita yang unik, yang merupakan rancangan Allah bagi kita.

Bicara soal bakat memang selalu mempengaruhi cara pandang kita dalam memandang tujuan hidup. Ketika saya tahu bahwa bakat saya dalam menyanyi, ada baiknya kemampuan menyanyi ini saya asah dan kelak menjadi pekerjaan dan cara saya untuk melayani Tuhan dan sesama. Ketika merasa memiliki bakat dalam sains dan analisa, ada baiknya ini saya gunakan untuk kemuliaan nama Tuhan melalui pekerjaan saya kelak. Seperti itulah, Allah menciptakan kita dan dan memperlengkapi kita untuk suatu tempat yang dipilih-Nya–dan kita hanya akan menjadi diri kita ketika kita akhirnya tiba di tempat itu. Itu semua sudah direncanakan Allah sejak awal, bahkan sebelum kita ada di dunia ini.

Benar, ada banyak hal di dalam dunia yang tidak bisa kita pilih dan tidak bisa kita ubah. Di awal kehidupan, tidak seorangpun diantara kita memutuskan lahir dari keluarga mana, warna kulit, atau bakat kita. Dan pada akhir kehidupan, kita tidak memuruskan hari kematian kita. Diantara kedua hal itu, ada juga seribu satu kondisi yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, dengan mempercayai Tuhan sepenuhnya dan menyerahkan kehidupan kita kepada Dia, kita akan dapat melangkah dalam jalan yang sesuai dengan rencananya. Sesuai dengan tujuan hidup yang sudah dirancangkan kepada kita.

Tidak mengherankan jika fokus pada bakat bisa menjadi berbahaya sekaligus menjadi indah. Dorongan untuk “mengerjakan apa yang merupakan diri kita” dapat dipandang sebgai sebuah cara untuk memuaskan diri. Allah memang memanggil kita untuk “menjadi diri kita” dan “melakukan apa yang merupakan diri kita.” Tetapi, kita hanya benar-benar menjadi “diri kita” dan benar-benar “melakukan apa yang merupakan diri kita.” Ketika kita mengikuti panggilan Allah. Bakat yang “menjadi milk kita untuk orang lain” bukan keegoisan, tetapi pelayanan yang terbaik yang dapat kita lakukan.

Sumber gambar : http://images.firstcovers.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.