Browse By

Apa Sebenarnya yang Ahok Katakan?

Apa Sebenarnya yang Ahok Katakan? Mungkin itu adalah perbincangan hangat bagi masyarakat Jakarta–bahkan Indonesia–dalam seminggu belakangan ini.  Dalam kunjungannya ke Kabupaten Kepulauan Seribu (jangan lupa, wilayah ini masuk ke dalam Provinsi DKI Jakarta!), Ahok menyampaikan perkataan yang “menohok” umat muslim di seluruh Indonesia. Menohok? Ah, rasanya saya terlalu berlebihan. Nyatanya tidak loh! Banyak ulama dan orang Islam yang ramai-ramai meminta agar Ahok meminta maaf, melaporkan Ahok ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu DKI Jakarta), hingga petisi di change.org yang meminta untuk menangkap Ahok.

Apa Sebenarnya yang Ahok Katakan

Apa Sebenarnya yang Ahok Katakan

Weleh-weleh. Efeknya bisa sebesar ini yah? Saya masih geleng-geleng kepala. Ahok makin terkenal rupanya. Para lawan politiknya lupa, kejadian semacam ini malah membuat Ahok semakin terkenal dan berkibar. Tidak hanya di Jakarta dan Bodetabek saja, melainkan di seluruh Indonesia. Apalagi ada kesan, bahwa video yang berisikan “pernyataan Ahok bahwa umat Islam telah dibohongi ayat Alquran” diisukan merupakan hasil editan dan diragukan kebenarannya. Bahkan kabar terkini akun facebook yang dipercaya sebagai penyebar video pertama kali sudah ditemukan dan sudah diinterogasi.

Mari sejenak kita membahasnya dari sisi netral. Kita bahas kalimat demi kalimat Ahok. Acuannya ya tentu saja video yang asli, bukan yang 31 detik. Masak iya ngomong cuma 31 detik saat kunjungan. Mengucapkan salam atau ucapan terima kasih saja sudah habis tentunya. Jelas-jelas video ini dipotong dan dimanfaatkan untuk memfitnah atau menyerang pribadi Ahok. Ditambah Ahok adalah seorang non-muslim (Nasrani), gubernur Jakarta yang banyak musuhnya (pembencinya), termasuk dari golongan non-muslim Saya mengajak para pembaca untuk melihat dan menyimak video lengkapnya.

“Saya masih Gubernur sampai Oktober 2017 bapak ibu. Masih sempat panen,” kata Ahok.

“Jadi bapak ibu ga usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya ga terpilihpun bapak ibu, saya berhentinya Oktober 2017. Jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik, bapak ibu masih sempat panen sama saya. Sekalipun saya tidak terpilih sebagai Gubernur.”

“Jadi saya cerita ini supaya bapak ibu semangat. Ga usah kepikiran ‘Ah nanti kalau ga kepilih, pasti Ahok programnya bubar’nggak, saya sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pake Surat Almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya.”

“Jadi kalau bapak ibu perasaan ga bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gapapa. Karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu ga usah merasa ga enak. Dalam nuraninya ga bisa pilih Ahok, ga suka sama Ahok nih, tapi programnya kalo gue terima ga enak dong gue hutang budi, jangan!”

“Bapak ibu punya perasaan ga enak nanti mati pelan-pelan lho, kena stroke. Jadi angg….bukan anggap, ini semua adalah hak bapak ibu sebagai warga DKI, kebetulan saya Gubernur punya program ini. Jadi tidak ada hubungannya dengan bapak ibu mau pilih siapa. Ya!”

“Saya kira itu. Kalau yang benci sama saya, jangan emosi terus dicolok, waktu pemilihan colok foto saya, waaah jadi kepilih lagi saya. Hahaha….”

“Kalau benci sama saya colok berkali-kali, baru batal. Tapi kalau cuma colok sekali, kepilih lagi dong. Hehe saya kira itu, silahkan yang mau tanya,” kata Ahok mengakhiri.

Setelah membaca kalimat lengkapnya, apakah para pembaca masih ada yang mau bilang Ahok melecehkan Alquran? Saya mau ambil salah satu kalimat yang ramai: “Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pake Surat Almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya.”

Frasa “dibohongi pake Surat Almaidah” tentu berbeda dengan “dibohongi Surat Almaidah”. Frasa yang pertama adalah kalimat pasif dengan predikat “dibohongi pake” dan keterangan objeknya “Surat Almaidah”. Subjeknya mungkin tidak diucapkan langsung, hanya saja kita tahu pasti, yakni orang-orang yang menggunakan Surat Almaidah sebagai cara untuk menakut-nakuti orang agar tidak memilih pemimpin non-muslim.  Frasa yang kedua, tidak ada kata “pake” dan juga berarti [bapak ibu] dibohongi oleh Surat Almaidah. Inilah yang memicu kemarahan umat muslim.

Saya rasa, frasa pertama yang benar. Lah jangan sok ambil kesimpulan dong!

Kalau frasa kedua yang terjadi sebenarnya, mengapa orang-orang yang mendengar ucapan Ahok tidak bereaksi sama sekali? Orang-orang yang duduk di belakang Ahok maupun yang mendengarnya (para penduduk yang hadir) harusnya bereaksi dong. Kalau tidak protes ya…minimal risih atau gelisah. Ngobrol kiri dan kanan. Kok ya ini cuma diam saja? Atau memang tidak terjadi seperti yang dituduhkan? Bahwa Ahok bilang bahwa orang telah dibohongi ayat Alquran?

Daripada ribet dan malah berantem sendiri dan pusing sendiri, coba lihat lagi video aslinya. Memang udah kebiasaan atau hakekat orang Indonesia (saya pikir) yang terlalu mudah percaya dan tersulut. Hakekat ini bagus banget sih, saat kita punya musuh bersama yang ingin kita perangi, semisal penjajah Belanda dulu. Orang-orang gampang untuk digerakin, untuk melawan dan berperang, misalnya. Namun, saat kita sudah tidak punya musuh bersama? Inilah yang susah. Sampai ditemukanlah: Ahok sebagai musuh bersama dan harus diperangi. Wah…wah…kok jadi gini ya? 

Sebagai penutup, pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu saya yakin sudah di-edit dan digunakan untuk kepentingan beberapa pihak. Ahok menyampaikan bahwa politisasi agama, dengan mengutip ayat-ayat kitab suci, baik Alkitab, Al-Quran, Tripitaka, Wedha, atau lainnya adalah bentuk kebohongan kepada publik. Bukan kitab sucinya yang bohong, tapi politisasi kitab sucinya. Yang dibodohi adalah warga dan masyarakat. Pembodohan dengan memakai doktrin-doktrin agama yang dipolitisasi akan selalu berdampak buruk dan menghambat demokrasi.

Saya berandai-andai, apabila kita bertemu dengan Allah kelak, apakah yang akan Ia katakan, kalau kita mengutip ayat-ayat Kitab Suci untuk menebar kebencian. Padahal Firman-Nya diturunkan bagi kita semata-mata untuk menuntun kita kepada kebenaran dan hidup damai dengan sesama.

Ah, jangan mengada-ngada deh!

Sumber gambar: bbc.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.