Browse By

Pergi ke Tokyo Tower

Perjalanan dilanjutkan dengan menyeberang jalan ke arah sungai Sumida-gawa. Kami turun ke jalan di pinggir sungai, melihat keindahan kota Tokyo dari sungai Sumida-gawa, sungai besar yang mengalir di pusat kota Tokyo. Kami juga sempat mengambil beberapa foto di kebun-kebun bunga yang ditata rapi, dan juga foto dengan latar belakang Tokyo Skytree dan gedung Asahi-Beer yang terkenal. Saya sempat berpikir untuk mengajak Papa, Mama, dan Abang ke arah Tokyo Skytree, namun karena jaraknya yang lumayan jauh serta masih ada tempat lain yang ingin dikunjungi, saya pun mengurungkan niat untuk pergi ke sana. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 2 siang ketika kami kembali ke arah stasiun Asakusa untuk menuju ke tujuan berikutnya yakni Tokyo Tower.

Di pinggir sungai Sumida-gawa Tokyo

Di pinggir sungai Sumida-gawa Tokyo

Berfoto di Sumida-gawa Tokyo

Berfoto di Sumida-gawa Tokyo

Pergi ke Tokyo Tower

Jalan-jalan ke Tokyo Tower

Jalan-jalan ke Tokyo Tower

Dari stasiun Asakusa, kami naik kereta Ginza Line hingga ke stasiun Ginza, lalu berpindah ke Hibiya Line menuju ke Kamiyacho. Suasana kereta saat itu sudah relatif agak senggang karena sudah masuk jam kantor lagi. Sekitar 40 menit kemudian kami tiba di stasiun Kamiyacho. Dari sana kami berjalan kaki sebentar ke arah selatan dan menemukan Tokyo Tower di sebelah kiri. Syukurlah cuaca hari itu sangat cerah, sehingga pemandangan dari atas tentu dapat dilihat dengan jelas, pikir saya ketika berjalan ke arah pintu masuk Tokyo Tower. Udara juga lumayan hangat, sehingga Papa, Mama, dan Abang tidak merasakan angin musim dingin Jepang yang menusuk kulit.

Kami sempat berfoto bersama di bawah Tokyo Tower, meskipun agak sulit untuk mengambil sudut kamera yang tepat karena tingginya Tokyo Tower. Sambil Papa, Mama, dan Abang melihat-lihat arena permainan di halaman, saya membeli tiket untuk naik ke dek observasi Tokyo Tower seharga 900 yen untuk satu orang. Abang sempat berkata bahwa tiketnya mahal, namun saya menjawab “Tidak apa-apa, mungkin tidak ada lagi kesempatan untuk melihat Tokyo lagi dari atas.” Kami pun masuk bersama-sama ke dalam lift yang membawa kami ke ketinggian 150 meter atau kurang lebih setengah dari total tinggi Tokyo Tower 333 meter. Sebetulnya masih ada dek observasi di ketinggian 250 meter, namun karena tiketnya plus 700 yen lagi, saya pikir cukup di dek observasi tengah saja. “Nanti ketinggian malah jadi takut dan tidak bisa menikmati pemandangan,” pikir saya waktu itu.

Lift yang kami naiki berjalan sangat cepat. Hanya perlu sekitar 20 detik untuk tiba di ketinggian 150 meter. Kami pun melihat-lihat pemandangan kota Tokyo dari jendela yang ada. Beberapa kali saya menunjukkan dimana letak Asakusa, Tokyo Skytree, Shinjuku, Shibuya kepada Papa, Mama, dan Abang. Kami pun sempat berfoto bersama dengan maskot Tokyo Tower dan juga berkeliling dek observasi yang menyajikan pemandangan 360 derajat. Setelah puas melihat pemandangan, kami sempat beristirahat kurang lebih setengah jam di kursi-kursi empuk yang berada di dinding bagian dalam, selain karena jam tidur siang, kami juga sudah berjalan kaki lumayan jauh. Saya sendiri sempat beberapa kali beristirahat hingga menutup mata sejenak karena lumayan lelah.

Setelah tenaga terisi kembali, kami pun pergi menuju ke lift untuk turun ke bawah. Lift rupanya tiba di lantai 3 pusat perbelanjaan yang ada di kaki Tokyo Tower. Kami sempat berkeliling dan mengambil foto dengan latar belakang anime Naruto yang sedang mengadakan event di Tokyo Tower. Kami kemudian turun ke lantai 2 di mana terdapat toko oleh-oleh khas Tokyo Tower. Saya menunjukkan kepada Papa, Mama, dan Abang bahwa di sinilah saya sering membeli oleh-oleh ketika hendak liburan pulang ke Indonesia. Biasanya sepulang dari gereja, saya mampir ke sini dan membeli oleh-oleh berupa kaos, cangkir atau kue-kue khas Tokyo seperti pie dan Tokyo Banana.

Setelah berkeliling dan melihat toko-toko di lantai dua, kami pun turun ke lantai satu untuk menuju ke luar ingin kembali ke rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika kami keluar dari Tokyo Tower. Langit sudah lumayan gelap waktu itu mengingat matahari sangat cepat terbenam di saat musim dingin. Kami sempat mengambil beberapa foto dengan latar belakang kebun bunga-bunga sebelum menuju ke stasiun Akabanebashi di arah berlawanan dengan saat waktu kami datang.

Foto di bawah Tokyo Tower

Foto di bawah Tokyo Tower

Berfoto di halaman Tokyo Tower

Berfoto di halaman Tokyo Tower

Sumber gambar: Facebook 1, 2, 3, 4, 5

Recommended for you

2 thoughts on “Pergi ke Tokyo Tower”

  1. betharia sibarani says:

    Horas ito..
    Mw nanya2 nih, krn baru pertama kali ke Tokyo hihihi . Rencana sih mw kesana bulan Sep nanti.
    Dsana ada gereja batak nda y?or yg berbahasa english?

    Mauliate 🙂

    1. Nugroho2014 says:

      Horas juga ito..
      Di Tokyo tidak ada yang berbahasa Batak, tapi ada yang berbahasa Indonesia. Namanya GIII Tokyo
      Ini websitenya
      http://tokyo.giii-japan.org/

Leave a Reply

Your email address will not be published.