Browse By

First Journey to Japan–Part 2

First Journey to Japan

First Journey to Japan: berfoto di depan bus

Dari Narita ke Polytechnic University adalah perjalanan yang sangat mengesankan. Betapa tidak, jalan tol yang kami lalui sangat lancar. Walaupun hujan sudah turun sejak pagi, namun gunung dan hutan-hutan di sepanjang jalan masih terlihat. Karena sangat lelah, saya tertidur pulas di dalam bus yang luar biasa nyamannya. Bus yang terlalu besar untuk menampung kami yang hanya 12 orang, mahasiswa asing. Kami bisa memilih posisi tempat duduk yang diinginkan. Dari dalam jendela bus, saya bisa melihat bagaimana orang Jepang tetap dapat mempertahankan pepohonan di saat kebutuhan akan lahan semakin besar. Pohon-pohon tumbuh subur dan lebat, hijaunya daun sungguh sangat menyegarkan. Ini sungguh kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia.

Kota-kota besar di Indonesia “mengorbankan” lahan hijau untuk dijadikan lahan investasi, misalnya dengan pendirian gedung-gedung tinggi. Akibatnya, lama-kelamaan, ruang terbuka hijau lama-lama berkurang kuantitasnya. Sungguhh sayang bila harus “merusak” alam hanya karena alasan ekonomi. Itu pelajaran pertama yang saya petik. Perjalanan kurang lebih 2 jam yang melelahkan akhirnya berakhir juga. Dari Narita, bus mulai bergerak pada pukul 10.30, dan sampai di Polytechnic University pada pukul 12.30. Saat pertama kali sampai sudah banyak sekali senpai yang menunggu di depan gakuseiryou, dan membantu¬† para kouhai membawa barang-barangnya. Pokoknya semua berjalan dengan lancar.

First Journey to Japan

First Journey to Japan: bersama teman-teman

Pengalaman pertama melihat gakuseiryou dan senpai mungkin tidak pernah akan saya lupakan. Sayangnya, saya belum mempunyai kamera atau handphone yang dapat digunakan untuk sekedar merekam kejadian langka tersebut. Pengalaman pertama memang sangatlah mengasyikkan, sangat mengena di hati, dan mungkin tidak akan pernah dapat dilupakan. Tapi ada hal yang lebih penting daripada sekedar mengingatnya, tapi menjadikan pengalaman pertama itu sebagai batu pijakan untuk lebih baik dan lebih baik lagi. Itu pelajaran kedua sekaligus terakhir yang dapat saya petik dari perjalanan pertama saya di Jepang.

Mulai dari saat ini, saya akan berjuang!
Berjuang!

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.