Browse By

Pendidikan dalam Keluarga

Mengenang hari ulang tahun Mama, sekaligus hari Ibu Internasional yang jatuh di bulan Mei lalu, ijinkan saya menulis tentang sebuah ayat di Alkitab yang paling sering Mama ajarkan kepada saya dan Abang. Ayat mengenai pendidikan dalam keluarga. Ayat tersebut adalah Amsal 1:7. “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Apa Kata Alkitab Tentang Pendidikan dalam Keluarga?

Pendidikan dalam keluarga

Pendidikan dalam keluarga

Pengetahuan saat kita masih anak-anak berasal dari keluarga. Pendidikan semenjak dini, begitu dibilang dalam dunia pendidikan. Jauh sebelum kita belajar matematika, ilmu pengetahuan alam dan kesenian di taman kanak-kanak atau sekolah, pendidikan tentang kehidupan telah diajarkan kepada kita semua lewat keluarga. Bisa dibilang keluarga adalah guru pertama kita, yang membentuk kepribadian kita pertama kali.

Pendidikan dan pembentukan akal budi, mungkin inilah tugas dan tanggung jawab keluarga. Sebuah tanggung jawab yang berat sekali. Namun, Puji Tuhan, Allah menunjukkan caranya kepada keluarga. Seperti ayat yang Mama sering ajarkan di atas, Allah menyatakan bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Dengan kata lain, takut akan Tuhan seharusnya yang menjadi dasar pendidikan dalam keluarga. Ketika ayah mendidik dan ibu mengajar, ketika ayah tegas dan ibu disiplin, semuanya harus dilandaskan “takut akan Tuhan”. Takut akan Tuhan, menghormati dan mempercayai Tuhan, inilah maksud dan tujuan keluarga.

Tapi tunggu dulu, keluarga tidak hanya sebatas ayah dan ibu saja. Ada juga anak! Bagaimana dengan anak? Apakah anak hanya sebagai objek pasif penerima didikan dan ajaran orangtua? Tidak begitu.

Kalau kita meneruskan ke ayat yang ke-8, tertulis demikian: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu…” (Amsal 1:8). Dari ayat ini kita tahu bahwa Tuhan juga punya tugas dan panggilan bagi anak-anak.

Saya merenung-renungkan apa maksud sang penulis Amsal membagi dua ayat tersebut. Bukankah didikan dan ajaran adalah satu paket dan diajarkan oleh ayah dan ibu? Saat membaca versi bahasa Inggrisnya, saya jadi tahu apa maksud penulis Amsal. Dalam bahasa Inggris dituliskan demikian: “Hear, my son, your father’s instruction, and do not forsake your mother’s teaching.

Perintah tersebut sebenarnya adalah peringatan untuk tidak membantah orangtua kepada anak-anak. Bagian pertama adalah saat ketika anak berada dalam rumah, sedang yang kedua adalah saat anak berada di luar rumah. Saat berada di rumah, anak cenderung tidak mendengarkan kata-kata orangtua. Untuk itulah penulis Amsal memperingati, “Dengarkanlah didikan ayahmu!” Sedang saat berada di luar rumah, anak cenderung lupa akan apa yang telah diajarkan orangtua. Makanya penulis Amsal menegur, “Jangan menyia-nyiakan atau jangan lupa ajaran ibumu!”

Mungkin ini juga yang dimaksud Allah dalam 10 perintah Allah yakni “Hormatilah ayahmu dan ibumu…” Menghormati ayah dengan mendengarkan apa yang ia didik tentang takut akan Tuhan. Menghormati ibu dengan selalu mengingat dan mengerjakan apa yang telah diajarkan tentang takut akan Tuhan. Inilah sesungguhnya hakekat pendidikan dalam keluarga. Orangtua mengajar dan mendidik anak, sedangkan anak mendengar dan tidak melupakan ajaran orangtua.

Sumber gambar: http://god.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.