Browse By

Apakah Maksud Allah yang Kudus?

Manusia berupaya keras mencari Allah namun terperangkap pada allah menurut gambarannya sendiri. Kita bisa melihat apa yang dilakukan oleh Bangsa Israel di kaki Gunung Sinai. Dalam Keluaran 32:4-6 diceritakan bahwa Bangsa Israel menyuruh Harun untuk membuat allah dari lembu emas. Kemudian mereka makan dan minum dan bersukaria. Mereka bernyanyi dan bersorak di depan allah buatan tangan mereka, dan melupakan Allah yang kudus yang membawa keluar dari tanah Mesir. Mereka menciptakan allah sendiri dan menduakan Allah yang kudus.

Respon Terhadap Allah yang Kudus

Berbicara mengenai Allah yang kudus, kita dapat melihat dua respon berbeda. Satu respon adalah seperti yang dilakukan oleh Bangsa Israel, melupakan dan tidak menghormati kekudusan Allah. Satu lagi ialah terlungkup dan ketakutan terhadap Allah yang kudus. Ketika berhadapan dengan Allah yang kudus, Musa gemetar dan takut (Keluaran 19-20, Ibrani 12:21). Yesaya dalam penglihatannya akan Allah yang kudus ketakutan hanya bisa berucap, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam” (Yesaya 6:5). Petrus seorang yang temperamen begitu kagum akan kuasa Yesus, dan iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (Lukas 5:8).

Mengenal dan mengakui Allah yang kudus tidak cuma berarti kuantitatif, namun juga kualitatif. Allah yang kudus tidak hanya lebih baik dari manusia, lebih hebat, lebih berhikmat, lebih kuat, lebih kasih. Allah yang kudus juga berarti Allah yang tidak terbayangkan, Allah yang tidak terpikirkan, dan Allah yang terselami akal pikiran manusia. Kita mengenal Allah hanya karena Allah berkenan memperkenalkan diri-Nya lewat bahasa, sosok, dan pribadi yang bisa dilihat dan dimengerti.

Apakah Makna Allah yang Kudus?

Mengenal Allah yang kudus

Mengenal Allah yang kudus

Satu hal yang ditekankan Allah mengenai pribadi-Nya ialah pribadi Allah yang kudus. Alkitab menekankan beberapa hal mengenai pribadi Allah yang kudus. Pertama, Allah memperkenalkan pribadi-Nya yang kudus kepada manusia, dan menuntut kekudusan pada umatnya. “Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku” (Imamat 20:26). Juga dalam Imamat 11:44, “Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus…” Dari ayat ini kita mengerti bahwa Allah tidak hanya kudus, namun kekudusan hanya terdapat dalam pribadi Allah saja.

Kedua, Allah yang kudus berarti Allah yang tidak kompromi akan dosa. Allah tidak bisa membiarkan dosa begitu saja, namun harus menghukum dan membinasakan dosa. Karena Allah kudus, segala yang tidak kudus dan yang berbuat dosa harus dihukum mati. Tidak bisa tidak.

Di sinilah kita memahami aspek kedua pribadi Allah yang kudus. Karena Allah adalah kudus, kita tahu mengapa Yesus datang dan mati disalibkan. Karena Allah adalah Allah yang kudus, Dia mesti memberikan hukuman mati. Dan Yesus datang untuk menggantikan kita semua menerima hukuman mati akibat dosa.

Allah yang kudus juga adalah Allah yang kasih dan mahakuasa. Daripada menimpakan seluruh hukuman akibat dosa dengan menghukum mati semua manusia, Allah menimpakan hukuman dosa itu kepada Yesus Kristus.

Ketiga, Allah yang kudus adalah Allah yang mengundang kita menuju kekudusan. Kita bisa melihat contoh dari Musa dan Yesaya yang begitu ketakutan ketika Allah menyatakan kekudusan-Nya. “Celakalah aku!” kata Yesaya ketika begitu terpana melihat Allah lewat penglihatannya.

Allah yang kudus, Dia berbeda dengan kita. Dia jauh melebihi apa yang kita dapat bayangkan dan pikirkan. Kekudusannya membuat semua ciptaan gemetar dan seluruh musuhnya tumbang. Namun, di saat yang sama Allah yang kudus juga mengajak kita ke dalam kekudusan. Dia menginginkan umat pilihan-Nya menjadi kudus sama seperti-Nya.

Dalam Perjanjian Lama kita melihat bahwa lewat korban sembelihan dan bakaran, Allah mengadakan pengudusan bagi umat-Nya. Dengan pengudusan inilah, manusia dapat mendekat dan berdoa kepada Allah. Di Perjanjian Baru kita melihat bahwa Yesus sudah menjadi korban itu. Dengan kematian Yesus Kristus, kita semua dikuduskan dan dilayakkan mendekat dan bersekutu pada Allah.

Allah yang kudus adalah suatu hal yang sulit untuk dimengerti. Allah yang kudus adalah Allah yang tidak terjangkau, Allah yang terpisah dan jauh dari ciptaan. Namun, Allah yang kudus berkenan memperkenalkan diri lewat pribadi Yesus dan mengajak kita masuk ke dalam kekudusan-Nya yang sejati.

Sumber gambar : blogs.blueletterbible.org

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.