Browse By

Natal Bukanlah Akhir

Baru saja kita melewati Natal, sebuah peringatan akan kelahiran Juruselamat manusia, Yesus Kristus. Kelahiran tersebut adalah bentuk “inkarnasi” Allah ke wujud manusia untuk menyelamatkan manusia itu sendiri. Jadi, sebenarnya Natal hanyalah awal dari rencana besar Allah bagi dunia ini. Peristiwa kematian Yesus Kristus di kayu salib adalah rencana sesungguhnya. Jadi, Natal bukanlah akhir. Natal tidak mengingatkan kita hanya mengenai kelahiran Yesus saja, tetapi juga kehidupan-Nya di dunia, kematian-Nya di kayu salib, dan kebangkitan-Nya yang memberikan kita sebuah keselamatan.

Natal bukanlah akhir

Yesus disalibkan

Natal Bukanlah Akhir

Tercurah Darah Tuhanku, di bukit golgota
Yang mau bertobat, ditebus, terhapus dosanya
Terhapus dosanya, terhapus dosanya
Yang mau bertobat, ditebus, terhapus dosanya

Pertobatan adalah satu-satunya hal yang Dia minta dari setiap kita untuk dapat menerima keselamatan itu. Bertobat berarti kita mengakui semua kesalahan kita. Mengakui adalah hal yang begitu sulit dilakukan di dunia sekarang ini. Namun, mengakui kesalahan adalah langkah pertama untuk pemulihan, untuk sebuah hidup baru, untuk menerima sebuah kesempatan yang Dia telah berikan. Bertobat juga tidak berarti kita tidak akan pernah berbuat dosa lagi. Selama manusia ada di bumi, pasti dia akan terus berbuat dosa. Yang berbeda adalah, kita harusnya semakin ingin menjadi lebih baik. Dosa-dosa yang sebelumnya kita lakukan, tidak lagi kita lakukan. Ucapan kasar yang biasa kita lontarkan, mulai kita ganti dengan ucapan berkat. Itu baru yang mudahnya. Bagian sulitnya adalah mulai mengampuni orang yang membenci kita atau mendoakan orang yang memusuhi kita.

Penyamun yang di sisi-Nya dib’ri anugerah
Pun aku yang penuh cela dibasuh darah-Nya
Dibasuh darah-Nya, dibasuh darah-Nya
Pun aku yang penuh cela dibasuh darah-Nya

Masalahnya, hanya sebagian orang yang mau menerima anugerah keselamatan itu. Persoalannya, mereka yang tahu, menganggap itu tak terlalu penting. Di luar itu, ada juga orang yang mungkin tidak tahu mengenai apa itu keselamatan. Ada sebuah cerita sederhana yang mungkin bisa membawa kita kepada suasana tersebut. Begini ceritanya: para penyelamat di pantai dilatih untuk tidak langsung menyelamatkan orang yang tenggelam di laut. Mereka diajarkan untuk menunggu beberapa waktu hingga orang yang tenggelam tersebut mulai pasrah. Saat itulah saat yang tepat bagi para penyelamat untuk menolong orang yang tenggelam. Tidak terlalu cepat karena bisa membahayakan diri si penyelamat, tidak juga terlalu lama karena orang tersebut bisa tenggelam terlebih dahulu.

Prinsip proses penyelamatan ini cukup sederhana, sifat dasar manusia yang akan berusaha terus di saat ia mengalami kesulitan. Hingga suatu titik ia pasrah dan mengakui bahwa ia memerlukan seorang penolong untuk menolongnya. Begitu pula dengan urusan dosa. Manusia cenderung berusaha bagaimana untuk tidak melakukan dosa. Manusia juga semakin takut ketika menyadari bahwa upah dosa ialah maut dan kematian kekal. Manusia terus berusaha, hingga di suatu titik, manusia merasakan ia tidak dapat lagi menolong dirinya sendiri. Yesus datang dan menawarkan keselamatan tersebut bak penyelamat yang terjun dan mulai berenang mendekati kita yang tenggelam ini. Tinggal bagaimana sikap kita menanggapi keselamatan yang Yesus berikan, menerima keselamatan tersebut atau malah menolaknya? Tangan-Nya terus terulur menunggu kita mengulurkan tangan kita dan menyerahkan kehidupan kita kepada pertolongan-Nya.

Sejak kupandang salib-Mu dengan iman teguh
Kasih-Mu lah kupuji t’rus seumur hidupku
Seumur hidupku, seumur hidupku
Kasih-Mu lah kupuji t’rus seumur hidupku

Sekali lagi kita beroleh kesempatan untuk merayakan Natal. Kelahiran Yesus cukuplah satu kali untuk memberikan keselamatan dan hidup kekal itu kepada seluruh manusia. Kita boleh merayakannya setiap tahun, semata-mata untuk memperingati kebaikan Allah yang rela menjadi manusia untuk bisa menyelamatkan kita semua. Natal bukanlah peringatan kelahiran yang biasa, yang harus diwarnai dengan pesta meriah lengkap dengan pelbagai pernak-pernik yang mewah. Sebab Natal bukanlah akhir. Natal adalah saat di mana kita kembali merenung sejenak atas pengorbanan Allah yang tak ternilai. Menjadi pemersatu dan penolong manusia dari kandang binatang kotor di Betlehem hingga kayu salib di Bukit Golgota. Natal bukanlah akhir. Akhir dari kisah ini ternyata berada di tangan setiap kita.

Dan jika nanti lidahku tak lagi bergerak
Tetap kupuji kuasa-Mu di Sorga-Mu kelak
Di Sorga-Mu kelak, di Sorga-Mu kelak
Tetap kupuji kuasa-Mu di Sorga-Mu kelak

sumber gambar : blogspot

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.