Browse By

Untukmu Sahabatku#5 Abraham Purba

Bram, adalah nama sapaan yang kami tujuan kepada salah seorang teman dan sahabat terbaik yang pernah kami miliki di dalam hidup ini. Abraham Mahesa Prana Purba, adalah nama lengkap dari orang bertubuh subur ini dan amat humoris ini. Sekali lagi, saya pribadi utarakan, tidak banyak orang yang dapat menempatkan diri menjadi sahabat bagi adik saya dan saya sendiri, salah satunya adalah Bram yang kini berkesempatan untuk kami tuliskan mengenainya.

Saya bersama dengan Abraham (kiri) dan Johannes (kanan)

Saya bersama dengan Abraham (kiri) dan Johannes (kanan)

Bram lahir dalam kondisi yang prematur. Ia baru berumur enam bulan tiga minggu ketika ia lahir ke dunia. Dan ia harus tinggal selama dua bulan lebih di dalam inkubator agar bisa tetap hidup. Kata mamanya, sewaktu Bram lahir, badannya hanya seukuran botol bir. Waktu itu, mamanya amat takut untuk menggendong Bram karena takut melihat ukuran badannya yang amat kecil.

Memang sudah ditakdirkan selalu saja ada orang humoris yang adik saya dan saya kenal, salah satunya Bram. Cara berbicara dan bertutur mengenai suatu hal yang mungkin biasa saja bagi orang awam, dapat dia buat menjadi begitu lucu yang membuat kami dapat tertawa. Hal itulah juga yang mungkin membuat Bram menjadi begitu istimewa di dalam kehidupan kami berdua.

Mengenal Abraham di SMA Negeri 8 Jakarta

Adik saya adalah orang pertama yang mengenal Bram. Mereka berdua bertemu di hari pertama masuk SMA Negeri 8, Juli 2007. Sewaktu itu, Bram dan adik saya sama-sama menggunakan celana pendek, di mana semua temannya yang lain mengenakan celana panjang, maklum Bram dan adik saya berasal dari SMP Katolik yang sewaktu itu masih menggunakan celana pendek biru sebagai seragam sekolah. Dan kebetulan mereka berada di kelas yang sama di tahun pertama. Bram dan adik saya duduk sebangku yang membuat mereka begitu akrab.

Saya pribadi baru mulai mengenal Bram sejak kelas tiga SMA, kami saling mengenal di INTEN, tempat les persiapan UAN dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Sejak pertemuan pertama itu memang ada sesuatu yang berbeda di dalam diri Bram, yang membuat dia cukup istimewa di mata adik saya dan saya. Singkat cerita, Bram diterima di FTTM-ITB melalui jalur bridging. Dan ketika adik saya harus meninggalkan Indonesia untuk kuliah di Jepang, ia sempat menitipkan Bram untuk saya jaga selama saya berkuliah di ITB juga. Saya masih ingat persis pertemuan kami berdua di Bandung saat itu adalah ketika dia baru saja pulang dari warnet di daerah Tubagus Ismail untuk bermain. Sewaktu itu, saya baru selesai menjilid buku pelajaran. Pertemuan yang biasa-biasa saja bukan? Namun, berawal dari pertemuan itu, kami sering berbincang bersama, pergi persekutuan bareng, saling membagikan beban doa masing-masing, hingga pada hari ini ketika saya berkesempatan untuk menuliskan siapa sebenarnya Bram di dalam blog kami.

Kalau bisa dibilang Bram memiliki tubuh yang cukup besar. Dan karena jurusannya adalah Pertambangan, karakter yang ia bangun dan kini ia miliki cenderung ke arah keras dan tangguh. Ketika berkesempatan untuk mengunjungi indekosnya sehari sebelum Jumat Agung kemarin, saya dapat melihat juga betapa ia mengasihi adik saya dan saya lebih daripada seorang teman biasa. Menjelang kepindahan saya ke indekosnya, ia dengan senang hati mengajak saya berkeliling, menunjukkan kamar yang ia rasakan tepat, bahkan juga turut berdoa bersama saya untuk kamar tersebut. Mungkin itu adalah salah satu pengalaman bersama dengan Bram yang tidak akan saya lupakan.

Dan ketika tulisan ini berakhir, bukanlah karena cerita mengenai Abraham telah usai. Namun, saya pribadi memerlukan waktu yang lebih banyak untuk dapat memikirkan dan menuliskan mengenai kehidupan Bram sendiri. Terima kasih Bram. Hanya itu yang mungkin dapat saya berikan untuk kali ini pada akhir kisah Untukmu, Sahabatku#5, Abraham Purba.

Sumber Gambar : BlogSpot

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.