Browse By

Tertidur di Angkutan Umum

Saya banyak melakukan perjalanan keliling Bandung sekarang ini. Perjalanan keliling kota ini sering membawa saya kepada romansa masa lalu ketika saya masih bersekolah di SMP. Perjalanan yang saya tempuh bersama dengan adik ingin saya catat sebagai sebuah pembelajaran. Pembelajaran bagi anak kami dan juga bagi para pembaca. Kali ini saya ingin berbagi mengenai perjalanan saya menuju ke Hotel Holiday Inn hari ini untuk menghadiri sebuah seminar.

Saya naik angkutan umum dari kantor menuju ke Hotel Holiday Inn. Hotel ini berada di pinggir jalan protokol Bandung, yaitu Jalan Ir. H. Juanda atau Dago. Nah, saat naik angkot saya melihat seorang anak kecil yang tertidur di angkutan umum ini. Jam menunjukkan pukul 09.45, mungkin anak kecil ini baru pulang sekolah. Pikiran saya melayang sesaat mengenang masa-masa saat adik dan saya dahulu berangkat dan pulang sekolah. Serupa namun tidak sama. Pengalaman yang menyedihkan dahulu namun kini terlihat begitu baik bagi kami.

Adik dan saya hampir selalu tertidur di angkutan umum. Sejak SMP kami memang naik koasi, metromini, dan kopaja untuk sampai di SMP Kanisius Menteng Jakarta Pusat. Perjalanan jauh di pagi hari membuat kami mengantuk, begitu juga saat pulang sore harinya. Saya bersyukur karena Tuhan mengijinkan kami untuk dapat beristirahat di perjalanan sehingga setibanya di sekolah maupun di rumah, kami bisa dapat langsung belajar atau mengerjakan PR atau tugas. Puji Tuhan, sejak SMA, Papa sudah dapat mengantarkan kami sampai ke Banjir Kanal Duren Sawit dan juga ke Kampung Melayu.

Tuhan Membangunkan

Tertidur di angkutan umum

Tertidur di angkutan umum

Hari ini saya amat bersyukur mengingat saat-saat kami tertidur di angkutan umum dulu. Tuhan selalu membangunkan adik atau saya sebelum sampai di tujuan sehingga kami tidak pernah kelewatan. Kadang adik yang terbangun dan kemudian ia membangunkan saya dan mengatakan, “Bang, sudah dekat, ayo siap-siap.” Begitu juga sebaliknya, kalau saya yang terbangun, maka saya yang membangunkan adik. Kami segera bersiap-siap, memakai tas dan mengecek kembali apakah semua barang bawaan sudah di tangan dan tidak ada yang tertinggal.

Mungkin kedengarannya biasa saja, tidak ada hal istimewa, tapi ini mengingatkan saya akan hal lain. Sudah berapa kali Tuhan membangunkan kami? Tidak terhitung jumlahnya. Ratusan kali mungkin sudah. Tuhan membangunkan kami sangat tepat waktu, tidak lebih atau tidak kurang. Itulah kebaikan Tuhan yang kami rasakan sebagai siswa dahulu. Untuk hal yang kecil dan sepele seperti tidur dan bangun saja, Dia mengetahui waktu yang paling baik untuk kami. Dia mengerti dan memahami kami. Begitu pula dengan kita.

Masalahnya terkadang, Tuhan sudah membangunkan adik atau saya namun kami tetap mengeraskan hati. Masih ingin tidur padahal Tuhan sudah mengingatkan kami untuk bangun. Kami tetap terbangun, namun akhirnya kami jadi tergesa-gesa. Saya belajar bahwa jangan pernah menunda atau mengabaikan kesempatan yang Tuhan berikan.

Sumber Gambar : dephub.go.id

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.