Browse By

Nusa Penida Part-1- Pengalaman Pertama

Hari ini adalah hari di mana saya mengalami hampir sepuluh pengalaman baru dalam satu hari. Ya, tidak kebetulan memang, namun bagi saya ini rasanya seperti mustahil untuk dapat terjadi. Setidaknya itulah yang kurasakan ketika aku menuliskan kisah ini di malam pertama aku berada di Desa Toyapakeh, Nusa Penida, Bali ini.

Pengalaman Pertama ke Nusa Penida

Ditemani dengan bunyi-bunyian jangkrik dan kemaram malam yang cukup menyengat karena sedikitnya sarana penerangan, aku mencoba menuliskan kata demi kata untuk menjadi kenangan di masa depan.Hari ini dimulai sekitar pukul 02.30, aku terbangun dari tidur nyenyakku sejak jam 8 malam. Hemm, mungkin aku harus bersyukur kepada Tuhan untuk sebuah kesempatan yang Ia berikan untuk mengecek kembali semua barang dan peralatan yang harus kubawa. Perut yang tiba-tiba keroncongan memaksakaku untuk makan sejenak, untung saja masih ada nasi yang tersisa. Setelah mengisi tenaga, kusempatkan untuk memeriksa kembali seluruh barang bawaan, yang kupisahkan menjadi dua bagian besar. Seluruh pakaian dan charger berada di tas ransel, sedangkan laptop, alat-alat, dan dompet kuletakkan di tas slempang yang akan kupegang.Waktu berlalu dengan cepat, jam delapan lebih sedikit, aku dan temanku, Kharisma sudah berjalan menuju tempat di mana kami akan berkumpul, yaitu di LPIK ITB, letaknya di seberang Parkiran Sipil ITB. Ternyata, belum ada orang sama sekali di sana, alhasil kami harus menunggu. Saya mengambil sejumlah uang, sedangkan Kharisma sarapan bubur ayam dahulu. Om Deus dan Mbak Entin akhirnya datang dan menemani kami menunggu yang lain sambil ngobrol-ngobrol ringan mengenai masyarakat Desa Toyapakeh di sana.

Menunggu masuk pesawat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung

Menunggu masuk pesawat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung

Di depan pesawat Lion Air, Bandara Husein Sastranegara, Bandung

Di depan pesawat Lion Air, Bandara Husein Sastranegara, Bandung

Waktu berlalu dengan cepat ketika akhirnya kami bersama-sama menuju ke Bandara Husein Sastranegara. Perjalanan menuju bandara cukup lancar, setidaknya itu yang menghilangkan perasaaan khawatir Jam 10.20 WIB kami lepas landas menuju ke Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Ini adalah pengalaman pertama saya bepergian dengan pesawat dari Bandung. Sepanjang perjalanan yang terlihat mayoritas awan-awan berwarna putih dengan sesekali diselingi oleh pemandangan rumah dan bukit yang indah dari kejauhan. Saya kemudian tertidur dan terbangun ketika Kapten pesawat melalui pengeras suara menyampaikan bahwa pesawat akan mendarat sebentar lagi.

Pengalaman Pertama Pergi ke Bali

Kami sudah beralih batas waktu WIB dengan WITA, itu yang saya sadari ketika kami melintasi Selat Bali yang membatasi Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Ini adalah pengalaman pertama saya juga bepergian ke daerah yang memilki perbedaan waktu. Bali termasuk ke dalam Waktu Indonesia Tengah, yaitu GMT +8 yang membuatnya satu jam lebih cepat dibandingkan waktu Bandung yang termasuk ke dalam Waktu Indonesia Barat. Setelah mendarat, saya segera menyesuaikan jam handphone saya.

Wah, Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali sangat besar. Dibandingkan dua bandara lain yang pernah saya kunjungi, yaitu Polonia, Medan dan Husein Sastranegara, Bandung, Ngurah Rai adalah bandara terluas. Di ujung penglihatan terlihat juga pembangunan terminal internasional yang sedang digenjot untuk dapat menampung jumlah penumpang yang meningkat setiap tahunnya. Desain atap bergelombang dengan warna dasar biru membuatnya mudah diingat oleh siapa pun nantinya. Oiya, sebelumnya, perjalanan ini kami lakukan bersama dengan dua orang teman lainnya, yaitu Oky dan Mukti. Di beberapa kesempatan, kami sempat bersenda gurau mengenai beberapa hal. Oiya, ini pengalaman saya yang pertama juga loh berada di Bali.

Perjalanan dari Bandara Ngurah Rai menunju ke Pantai Sanur kami tempuh dengan menggunakan taksi. Jalanan yang bersih dengan banyak pertokoan dan ruko di sepanjang jalan menjadi kesan pertama yang begitu indah buat Kota Bali. Para pengendara motor dan mobil saling menghormati, sehingga tidak terjadi kejadian ribut-ribut seperti yang saya lihat selama ini.

Perjalanan menuju Pantai Sanur, Bali ditempuh selama satu jam. Kami harus turun di pintu masuk pantai karena ada upacara yang sedang dilakukan. Wah, deburan ombak dan birunya laut begitu meneduhkan tubuh ini di tengah-tengah siang hari yang begitu terik.

Pemandangan di Pantai Sanur, Bali

Pemandangan di Pantai Sanur, Bali

Pemandangan di Pantai Sanur, Bali

Pemandangan di Pantai Sanur, Bali

Sumber Gambar : Blogspot 1, 2, 3, 4

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.