Browse By

Motor

Bagi banyak orang motor adalah penyelamat. Penyelamat dari himpitan ekonomi. Menyelamatkan keluarga dari mahalnya harga bahan bakar kendaraan dan mahalnya harga transportasi umum. Penyelamat dari himpitan waktu. Menyelamatkan keluarga dari kemacetan setiap hari dan waktu yang terbuang di jalan. Tapi tak bisa dipungkiri, di lain pihak, ia adalah sumber bencana. Banyak motor yang ugal-ugalan, seakan mengajak maut ikut naik Motor adalah sumber kesemerawutan. Banyak motor yang seenaknya saja memotong jalan, naik ke trotoar atau jembatan penyeberangan.

Tapi bagi saya, motor adalah bukti bisu sekaligus penyelamat. Bukti bisu perjuangan seluruh anggota keluarga. Penyelamat dari himpitan ekonomi sekaligus himpitan waktu.

Kisah Kenangan Tentang Motor

Dulu bagi keluarga kami, motor adalah hal yang amat penting. Tiap liter bensin yang dipakai sangat berharga. Tiap kilometer yang ditempuh tidak terlupakan. Bersama dengan majunya motor, perjuangan kami pun maju. Maju ke depan. Menembus sang waktu.

Awal saya dan abang SMP di Kanisius, kami selalu naik becak ke depan kompleks. Setelah itu dilanjutkan dengan naik Koasi 03, Metromini 506, dan kemudian turun di Mitra Keluarga Jatinegara. Dari sana kami akan dijemput oleh Tulang Iren dan diantar bersama Bang Niko sampai ke Kanisius. Tiap pagi kami harus keluar dari rumah pukul 5. Kalau lebih, sudah dapat dipastikan kami akan terlambat.

Sampai akhirnya sebuah motor Honda datang ke rumah. Waktu itu mama membeli dari Mamanya Lian Batubara. Papa yang sebelumnya tidak bisa menaiki motor akhirnya belajar otodidak. Setelah beberapa waktu, papa sudah bisa membawa motor. Papa sudah bisa mengantar kami hingga ke depan kompleks perumahan. Perlahan tapi pasti, papa semakin mantap mengemudikan motor. Kami pun bisa diantar sampai ke daerah dekat Rumah Sakit Duren Sawit bahkan sampai ke sekolah saya dan abang.

Kami betul-betul bisa merasakan keuntungan dari adanya motor. Kalau dulu kami harus keluar pukul 5 pagi, sekarang kami bisa keluar pukul 5.30. Mama juga bisa diantar papa ke depan kompleks untuk menghemat pengeluaran. Papa sendiri selalu membawa motor ke tempat kerjanya. Nah, kalau pas papa sudah tiba duluan, saya, abang, atau mama bisa dijemput papa ke depan kompleks. Sudah banyak keuntungan yang kami dapatkan dengan adanya motor itu.

Foto motor shogun biru

Foto motor shogun biru

Di kala hujan turun pun, motor tetap untung. Walaupun kami harus memakai ponco hujan atau membungkus sepatu dengan plastik, dengan motor kami dapat sampai ke sekolah tanpa terlambat. Ya, motor adalah teman kami. Teman saya dan abang ke sekolah. Motor selalu mengantar kami tiap pagi dan menjemput tiap sore. Motor menemani kami berjuang sebagai siswa untuk bisa datang ke sekolah tiap hari. Motor mengajar kami untuk tetap setia dan tidak putus asa walaupun angin, hujan, banjir menghalangi langkah kami ke sekolah.

Kalau sekarang saya dan abang bisa berjalan kaki ke universitas, semuanya hanya karena anugerah Tuhan. Kami tidak perlu repot mengeluarkan motor, memakai ponco hujan saat hujan lebat. Kami hanya perlu jalan kaki untuk bisa sampai ke sekolah. Sungguh mudah bila dibandingkan dengan perjuangan kami saat SMP-SMA dulu.

Tapi justru di situlah muncul syarat baru. Karena lebih mudah dibanding saat SMP-SMA, maka sudah seharusnya lah prestasi kami di universitas harus lebih baik dibanding dulu. Harus lebih tinggi dan lebih banyak ilmu yang diserap. Waktu yang ada harus dipergunakan sebaik-baiknya. Tiap jam, menit, bahkan tiap detik pun tidak boleh disia-siakan. Kalau sampai waktu itu terbuang percuma, kami bersalah kepada Tuhan. Kami bersalah kepada Papa dan Mama. Kami “bersalah” kepada motor kami itu.

Sumber Gambar : BlogSpot

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.