Browse By

Kepergian Bapatua Lina

Pagi itu, sekitar pukul setengah 5 pagi, mama menelepon saya. Sebenarnya saya sudah bangun, namun keadaan yang masih mengantuk masih begitu menyergap di pagi itu. Mama memberitahukan bahwa rencana kedatangan ke kost-an saya di Bandung pada hari minggu esok harus dibatalkan. Sontak saya kaget, dan bertanya kembali kenapa harus dibatalkan. Sebenarnya, mama sudah berencana untuk ke Bandung sejak tanggal 16 September kemarin, namun tertunda karena mama harus memasak untuk arisan di rumah Tulang Iren. Rencana bergeser ke tanggal 23 September yang kemudian juga harus batal karena Bapatua dan Mamatua Friska menginap di rumah dalam rangka perjalanan ke Yogyakarta. Dan di pagi itu, rencana kedatangan mama papa besok kembali dibatalkan. Membuat saya kaget.

Kepergian Bapatua Lina

Namun kekagetan saya tidak berhenti di situ. Mama kemudian memberitahu bahwa Bapatua Lina telah meninggal. Saya menjadi lebih kaget lagi. Terakhir saya bertemu dengan Bapatua di bulan Juli, ia tampak begitu sehat. Bapatua Lina tertawa mendengar pengalaman kuliah saya di Bandung. Ia juga menanyakan kabar dari Nugroho yang ada di Jepang. Pada bulan Juni kemarin, Bapatua Lina kembali memasang ring untuk jantungnya. Patut diketahui, bahwa Bapatua memiliki riwayat yang lumayan panjang untuk penyakit pembunuh pertama di dunia ini.

Kepergian Bapatua Lina

Kepergian Bapatua Lina

Pada tahun 1993, Bapatua Lina melakukan operasi by-pass jantung. Kemudian, pada awal 2000-an kembali melakukan operasi untuk pemasangan ring. Hingga Juni kemarin, pemasangan ring kembali dilakukan. Keadaan yang ceria dan sehat saat terakhir kali melihatnya membuat saya tidak percaya akan kabar meninggalnya bapatua. Terlintas di dalam pikiran saya sebentar muka bapatua yang tersenyum, dan mengatakan beberapa hal kepada saya. Beberapa hal yang sampai kini tidak akan pernah saya lupakan.

Bapatua Lina adalah orang yang senang sekali dengan yang namanya acara adat. Sebenarnya bukan dengan acaranya, namun dengan orang-orang dan saudara yang turut serta di dalam acara itu. Ia senang sekali bertemu dengan saudara-saudaranya, terlebih keponakannya. Saya sebagai salah seorang keponakannya sudah mengenal bapatua sejak kecil. Ia kerap kali bingung membedakan antara adik saya dan saya. Jadi, setiap kali kami bertemu, dia selalu menyuruh saya menunjukkan telinga yang menjadi satu-satunya pembeda paling jelas antara saya dan adik saya. Bapatua begitu menyayangi kami berdua, bahkan menjelang masa-masa perkuliahan kami.

Saat itu, tanggal 5 September 2010, keluarga besar Ompu Mardarede mengadakan arisan sekaligus kebaktian keluarga melepas kepergian adik saya ke Jepang. Acara kebaktian selesai, Bapatua Lina dan Mamatua Lina mengungkapkan rasa bangga mereka melihat ada dari keluarga besar Sihombing yang dapat melanjutkan pendidikan secara luar biasa. Satu ke ITB, dan satu lagi ke Jepang. Saya masih ingat beberapa bagian dari kata-kata bapatua saat itu,

“Wah, mantap kali kalian berdua ya! Bapatua ama Bapak amat bangga ama kalian. Kami dari kampung dulu gak pernah terbayang buat kuliah di ITB bahkan di luar negeri. Ternyata kalian yang mewujudkannya. Jangan disia-siakan, ya amang.”

Waktu itu, adik dan saya hanya mengangguk pelan sambil mengiyakan perkataan Bapatua. Tangkasnya kemudian,

Buat keluarga besar Sihombing bangga ya. Kalian belajar yang rajin dan jadi orang yang sukses. Bapatua senang melihat kalian sukses.”

Pikiran itu terlintas begitu saja di sabtu pagi ini. Saya sudah tidak mengantuk lagi. Saya kemudiaan mengambil waktu untuk saat teduh dan ditutup dengan doa untuk bapatua. Rencananya saya akan kembali siang nanti setelah menyelesaikan beberapa kewajiban di kampus. Saya bergegas siap-siap, indekos telah saya rapikan, kemudian saya berangkat ke kampus pukul 07.15. Di kampus, saya membuat tandu untuk divisi medik pelantikan UKSU ITB. Pukul 11.50, saya meninggalkan kegiatan di kampus untuk kemudian langsung menuju ke Terminal Leuwipanjang. Saya memutuskan untuk pulang dengan menggunakan bus ketimbang dengan travel, karena jarak ke rumah Bapatua Lina yang jauh lebih dekat.

Pukul 14.00 bus Primajasa yang saya naiki mulai beranjak dari Terminal Leuwipanjang menuju ke Bekasi. Perjalanan terasa begitu singkat ketika saya terus mengingat pengalaman dan nasihat yang Bapatua pernah sampaikan. Keluar di pintu tol Bekasi Timur jam 15.50, saya langsung menuju ke rumah Bapatua Lina Perumahan Pondok Timur Indah dengan naik koasi 19A.

Catatan:
Bapatua (bahasa Batak) dalam bahasa Indonesia berarti Kakak Kandung dari Ayah.

Sumber Gambar : Facebook

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.