Browse By

Kenangan tentang Bekal Makan Siang

Seperti yang saya tuliskan di artikel sebelumnya, mulai dari semester ke tujuh saya jadi lebih sering berkunjung ke perpustakaan. Kalau sebelumnya saya hanya membaca buku terbitan terbaru atau majalah sains dan nature mingguan, sekarang saya lebih sering mencari buku soal-soal persiapan ujian. Dibandingkan buku-buku yang ada di lab yang kebanyakan mengenai detail motor, buku di perpustakaan lebih pas ketika ingin belajar soal-soal ujian. Sebab di perpustakaan ada banyak buku dengan penerbit yang berbeda-beda, lengkap dengan pembahasan soal-soal ujian. Oleh sebab itulah saya sering menghabiskan waktu untuk belajar serta mengerjakan soal-soal di tempat ini.

Perpustakaan sendiri bertempat di lantai 6 dan 7 gedung nomor 2 di kampus. Letaknya sangat dekat dengan lab penelitian saya, hanya beda gedung saja. Saya paling sering mengunjungi perpustakaan saat jam makan siang atau sore hari setelah jam lima. Saat jam 12, setelah makan siang sebelumnya, saya sering membawa kalkulator dan alat tulis serta buku ke perpustakaan dan mengerjakan soal-soal. Lalu ketika ada soal yang tidak dimengerti, saya bisa langsung mencari buku petunjuk. Saya biasanya kembali sebelum jam 3, karena ada pertemuan dengan teman lab lain dan sensei mengenai apa yang dikerjakan satu hari.

Kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman ketika mengunjungi perpustakaan dalam dua minggu terakhir. Saat berkunjung pada jam makan siang, saya sering melihat dengan orang Jepang yang sedang makan di meja bulat dekat pintu masuk. Tanpa canggung dia makan siang dengan bekal yang dibawa dari rumah, meskipun pakaiannya licin seperti orang kantoran. Dengan rapi, ia melipat tas bekal dan menjadikannya alas supaya meja tidak kotor. Kotak bekal makan siang pun ditata rapi sehingga tidak berantakan dan mudah menyantap makanan. Sambil melihat pemandangan luar dari jendela besar di lantai 6, dia terlihat senang menikmati santap siangnya.

Dua minggu berselang, hari Senin kemarin orang itu tidak ada lagi. Begitu pula dengan hari Selasa dan Rabu kemarin. Mungkin orang Jepang itu adalah pegawai kantor yang sedang mengikuti training singkat di kampus dan training-nya mungkin telah berakhir minggu lalu, begitu pikir saya. Tiba-tiba rrrt, rttt, handphone saya bergetar. Seorang teman berpesan bahwa sebentar lagi dia akan kembali ke Indonesia dari Narita. Saya pun membalas pesannya dan mengucapkan selamat tinggal.

Selesai membalas pesan tersebut, saya masih termenung. Pikiran saya justru melayang kembali ke saat berada di Indonesia. Apakah mungkin karena teringat orang Jepang yang makan siang dengan bekal, saya teringat saat-saat bersekolah di SMP Kanisius.

Kenangan tentang Bekal Makan Siang Semasa SMP

Saya masih ingat betul saat saya dan Abang pergi ke sekolah pagi-pagi buta, membawa tas yang berat karena banyaknya buku pelajaran, dan juga tas bekal. Tas bekal itu biasa kami pegang bergantian sepanjang perjalanan menuju sekolah. Tas bekal bewarna merah dan hijau itu berisi 3 buah tupperware yang disusun di bagian bawah dan sebuah kotak bekal bewarna ungu di atasnya, lalu ada resleting untuk menutupnya. Bekal makan siang dan minum inilah yang saya dan abang nikmati untuk makan siang di sekolah.

Bekal makan siang

Bekal makan siang

Bekal makan siang yang saya dan Abang bawa isinya biasa saja, hanya nasi putih dan lauk-pauk. Lauknya sendiri terkadang telur dadar, daging arsik, atau rendang. Jarang sekali ada sayur-sayuran. Itu karena biasanya bekal makan siang yang dibawa adalah lauk yang dimasak Mama semalam sebelumnya. Hanya sesekali saja ada sayur ketika Mama memasak mie goreng.

Jadilah kami makan bekal satu kotak itu berdua, entah di kursi panjang di depan kelas atau di belakang hall kala istirahat siang pukul 12.00-13.00. Meskipun nasi dan lauk-pauk itu telah jadi dingin, kami tetap semangat menyantapnya karena rasa lapar yang menyengat.

Selain itu kalau ada ekstrakulikuler di hari Selasa dan Kamis, kami harus sedikit-sedikit minum air. Itu karena kami harus menghemat air minum untuk ekstrakulikuler yang berlangsung hingga sore hari. Begitu pula hari Senin dan Rabu saat kami harus pergi ke les di LIA Galaxy sepulang sekolah. Sebab perjalanan dari Menteng ke Galaxy tentunya menguras tenaga dan dahaga.

Pernah saat pagi hari, Mama melihat tidak ada nasi di Magic-jar. Jadilah kami panik pagi itu. Mungkin Mama atau Papa lupa masak nasi pada malam harinya, sehingga tidak ada nasi yang tersisa. Abang yang biasanya bangun jam 4 pagi langsung membantu Mama mencuci beras dan menanak nasi. Seringkali nasinya tanak sesaat sebelum pergi ke sekolah, namun kalau memang tidak sempat, Mama biasanya meminta nasi ke Tante Ester. Tapi Puji Tuhan, kami tidak pernah tidak membawa nasi ke sekolah.

Saya juga masih ingat betul tupperware itu pernah salah disusun sehingga tutupnya terlepas. Jadilah air minum di dalamnya mengucur keluar dan membasahi lantai metromini. Sewaktu menyadarinya, saya bilang ke Abang, “Bang air tupperware-nya keluar.” “Ya sudah dek, nanti kalau memang airnya tidak cukup, beli air mineral saja,” begitu jawab Abang di dalam metromini yang penuh penumpang. Tapi Puji Tuhan, siang itu kami bisa makan bekal dan minum air sedikit-sedikit sehingga tidak usah sampai membeli air mineral.

Kenangan tentang Bekal Makan Siang Semasa SMA

Saat di SMA pun, saya dan Abang tetap membawa bekal makan siang. Namun kami membawa bekal makan dan minum sendiri-sendiri dalam porsi lebih banyak. Kotak bekal dan tupperware yang dibawa juga tidak berubah hanya berbeda warna. Saya dan abang juga tidak lagi membawa tas bekal terpisah, namun memasukkannya ke tas bagian depan. Awalnya saya sempat malu dan segan ketika makan bekal di sekolah. Itu karena saat kelas 10 (1 SMA), hampir semua teman sekelas makan siang di kantin. Jadilah saya seorang diri di kelas, menikmati bekal makan siang. Namun seiring berjalannya waktu, banyak teman yang akhirnya membeli makan di kantin dan membawanya ke kelas, untuk menemani saya makan. Saya pun jadi tidak sendirian lagi makan siang.

Ahh, pikiran saya kembali kala itu. Dari jendela di muka, saya melihat gumpalan awan hitam yang mendekat pertanda hujan segera turun. Akhirnya saya memutuskan untuk buru-buru kembali ke rumah sebelum hujan turun. Selama berjalan menuju ke lab, saya merasakan betul kebaikan Tuhan dalam hidup, terutama soal bekal makan siang dan air minum.

Kini saya bisa menyantap makan siang di kantin kampus. Tidak perlu capai bangun pagi dan menyiapkan bekal makan siang. Tidak perlu capai membawa botol minum dan bekal yang berat ke kampus. Kalau mau makan siang, tinggal beli dan langsung santap. Ada nasi hangat, sayur mayur dan lauk pauk yang berbeda-beda tiap harinya, juga sup miso yang lezat. Air minum pun tinggal ambil dari dispenser kantin tanpa bayar. Mau teh panas atau air dingin, boleh minum sepuasnya. Sungguh mudah dan enak sekali bisa makan siang setiap hari.

Tapi justru di situlah muncul syarat baru. Karena lebih mudah dan enak dibanding saat SMP-SMA, maka sudah seharusnyalah prestasi saya di universitas harus lebih baik dibanding dulu. Harus lebih tinggi dan lebih banyak ilmu yang diserap. Waktu yang ada harus dipergunakan sebaik-baiknya, tidak boleh disia-siakan. Kalau sampai waktu itu terbuang percuma, saya bersalah kepada Tuhan. Saya bersalah kepada Papa dan Mama. Saya “bersalah” kepada kotak bekal makan siang dan tupperware itu.

Sumber Gambar : www.iyaa.com, dessyana.wordpress.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.