Browse By

Kala Ban Motor Kempes di Tengah Jalan

Buat para pengguna motor, ban yang kempes di dalam perjalanan adalah hal yang biasa, apalagi jika tinggal dan bekerja di kota-kota besar. Banyak orang yang menganggap kempesnya ban berarti apes/ tidak beruntung, karena jelas akan menganggu jadwal yang sudah direncanakan. Inginnya sampai di kantor jam sekian, karena ban kempes, sampai satu jam lebih lama. Inginnya bisa menjemput teman, karena hal yang sama pula tidak jadi. Jangankan menjemput, untuk mencari tukang tambal ban saja sudah cukup melelahkan. Ban motor jelas berbeda dengan ban mobil. Kalau salah satu ban mobil kempes, mobil tetap dapat berjalan, namun cengkraman ban dengan aspal akan berkurang, sehingga pengendara mobil harus berhati-hati agr tidak slip. Namun, jika salah satu ban motor kempes, maka motor tidak mungkin dapat berjalan. Pengendara harus turun dan menuntun motornya ke tukang tambal terdekat.

Kala ban motor kempes di tengah jalan

Kala ban motor kempes di tengah jalan

Kala Ban Motor Kempes di Tengah Jalan

Sebagai pengguna motor, saya dan adik saya juga mengalami saat-saat di mana ban motor kempes. Selama tiga tahun awal, kami diantar ayah ke Rumah Sakit Duren Sawit, Jakarta Timur. Dan dua tahun terakhir ke Terminal Kampung Melayu. Sudah banyak pengalaman yang saya dan adik saya alami (baca juga: Hujan Deras yang Turun Subuh Hari dan Hujan Deras yang Turun Malam Hari), termasuk pengalaman yang saya bagikan melalui renungan kali ini.

Seperti yang sudah saya tuliskan di bagian awal renungan ini, ban motor yang kempes di tengah jalan seringkali membuat kami galau (dalam hal ini: gabungan dari bermacam-macam perasaan, seperti takut, khawatir, dan kecewa). Bagaimana tidak? Jika ban motor kempes, kami harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum, yang akan memakan waktu yang lebh lama. Sebagai perbandingan, kalau dengan naik motor, perjalanan dari rumah menuju Terminal Kampung Melayu dapat ditempuh 25 menit. Namun, jika harus naik kendaraan umum, perlu waktu hingga satu setengah jam, yang dapat membuat kami terlambat ke sekolah. Masih teringat dalam pikiran saya, sewaktu masih kelas 1 SMP, di mana kami harus naik kendaraan umum untuk ke Rumah Sakit Mitra Keluarga. Saat itu kami harus berangkat pukul lima tepat, dan jika lebih sedikit saja, kami akan terlambat. Namun, sejak kelas 2 SMP, kami dapat berangkat pukul setengah enam, memberi waktu sedikit untuk lebih banyak beristirahat.

Suatu saat, ban motor kempes di Flyover Pahlawan Revolusi, saat itu kami harus melanjutkan perjalanan dengan naik metromini 52 ke Terminal Kampung Melayu. Untuk jarak yang tidak terlalu jauh saja, waktu perjalanan bertambah hampir 20 menit, dan membuat kami cukup tergesa-gesa untuk sampai di sekolah. Pernah juga sekali waktu, ban motor kempes di daerah Bintara, tidak jauh dari rumah. Kami harus melanjutkan perjalanan dengan naik Koasi 03, lalu Metromini 506 untuk sampai ke Kampung Melayu. Kalau untuk yang kedua ini, dapat dipastikan saya selalu nyaris terlambat, jam 7 kurang 5. Beruntung bagi adik saya, dia dapat naik ojek dari Kampung Melayu menunju SMA 8, sehingga tidak terlambat, apalagi karena sekolahnya saat itu masuk pukul setengah tujuh pagi. Pernah juga ban motor kempes saat mama akan pergi ke luar kota. Mama di rumah menunggu papa yang harus menambal ban, kata mama saat itu mama sudah ingin berangkat, namun Tuhan berkata untuk menunggu sebentar lagi. Dan benar, papa pulang dan dapat mengantar mama ke kantor, sehingga tidak terlambat untuk ke luar kota.

Contoh di atas adalah sedikit dari pengalaman ban motor yang kempes. Saat saya menuliskan renungan ini, pikiran saya melayang dan memikirkan berapa kali kami mengalami pengalaman ini. Setahu saya lebih dari sepuluh kali, namun saya tidak tahu berapa pastinya. Yang saya tahu pasti, pengalaman ban motor yang kempes ini telah membuat kami, saya khususnya, menjadi lebih sigap dalam mengambil keputusan sekaligus lebih mengandalkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Tidak perduli berapa pun jauhnya jarak yang harus ditempuh dari lokasi kempesnya ban, kami harus tetap menuju ke sekolah. Jarum jam berkata bahwa tidak mungkin untuk tiba tepat waktu, namun kami harus tetap berusaha dan berharap kepada Tuhan. Langkah kaki cepat, air keringat yang membasahi wajah, dan jantung yang berdegup keras masih melintas dalam pikiran saya ketika saya mengingat kembali pengalaman saat itu. Sontak dalam pikiran ini, saya amat kagum kepada Tuhan Yesus.

Mengingat Kebaikan Tuhan Yesus

Mengapa kagum? Karena meskipun jarak yang ditempuh masih jauh dan waktu yang tinggal sedikit juga disertai perasaan galau yang merasuki pikiran, Tuhan Yesus tetap menuntun kami berdua. Hikmat dan perasaan tenang Dia berikan kepada kami berdua. Hikmat yang amat berguna untuk memilih angkutan mana yang lebih cepat atau apakah harus naik ojek, dirasa amat tepat ketika kami tiba di sekolah dengan tidak terlambat. Perasaan tenang juga Tuhan berikan sehingga kami dapat menjalani perjalanan dengan baik dan sejahtera sekaligus mengusir perasaan galau yang menyergap.

Pengalaman itu amat mendewasakan kami. Kami selalu belajar untuk berusaha dan berharap kepada Tuhan Yesus, tidak hanya saat ban motor yang kempes, namun juga saat kami menjalani kehidupan ini. Pengalaman ban motor yang kempes telah membuat kami menjadi lebih dewasa di dalam Tuhan. Meskipun saat itu kami sering kecewa dengan Tuhan; Mengapa harus ban motor kempes? Dan mengapa harus sekarang? Namun, kami percaya, bahwa segala sesuatunya terjadi untuk kebaikan kami berdua. Tuhan Yesus mengajari kami untuk berserah kepada-Nya, sekaligus untuk tetap berupaya mengejar yang terbaik, bukan menyerah untuk terlambat. Dan kami rasakan, meskipun pengalaman itu dirasa pahit, namun Tuhan Yesus tidak pernah membuat kami terlambat, bahkan satu kali pun tidak.

Saat saya tidak lagi naik motor untuk pergi ke kuliah, saya amat merindukan pengalaman itu. Pengalaman itu telah mengajar saya untuk dapat berusaha tidak terlambat dalam mengikuti kegiatan apa pun. Kalau dahulu saja, kami harus berkejaran dengan waktu agar tidak terlambat, mengapa saat kuliah saya harus terlambat, terlebih sekarang saya hanya berjalan kaki, yang mungkin tidak ada kendalanya. Begitu pula dengan adik saya, yang juga berjalan kaki untuk pergi ke kampus. Ha ha ha! Sungguh pengalaman yang amat indah, ketika kami diperhadapkan pada keadaan menekan dan terintimidasi akan keterlambatan, namun kami tetap dapat berusaha dan berharap kepada Tuhan Yesus.

Lebih jauh lagi, saya mengingat saat-saat kami saling mengingatkan untuk berdoa kepada Tuhan. Waktu itu, di Metro Mini, adik saya mengajak untuk berdoa kepada Tuhan supaya tidak terlambat, dan benar, Tuhan mengabulkan hal itu. Detik ini saya tersadar bahwa kita, manusia yang lemah dan tidak berdaya harus selalu berharap dan hidup dekat dengan Tuhan. Salah satu caranya adalah dengan berdoa. Saya yakin juga, bahwa berapa pun jumlah kejadian ban motor yang kempes ini kami alami, tidaklah penting. Yang penting dan amat penting adalah pengalaman spiritual yang kami dapatkan melalui kejadian itu. Yesus telah membuat kami bersatu, berusaha keras, dan terpenting, berserah kepada-Nya secara total.

Saat menuliskan renungan ini, saya teringat akan papa dan mama yang begitu keras mendukung pendidikan kami. Mereka bekerja keras agar kami memperoleh pendidikan terbaik. Setiap pagi mama menyiapkan makanan dan bekal, setiap pagi pula papa mengantar kami ke sekolah. Kiranya Tuhan Yesus yang membalas semua kebaikan mereka, karena kami sendiri tidak akan pernah mampu membalasnya. Sekian, pengalaman kami di dalam Tuhan. Kala Ban Motor Kempes di Tengah Jalan.

sumber gambar : Blogspot

Recommended for you

One thought on “Kala Ban Motor Kempes di Tengah Jalan”

  1. Mithy says:

    Terima kasih utk ketekunanmu dalam menulis kisah2 hidupmu. Tuhan memberkati kalian, Ayah, Ibu, Daniel dan Nugroho.

Leave a Reply

Your email address will not be published.