Browse By

Hari yang Terasa Begitu Cepat

Saya, papa, dan mama kemudian pulang ke rumah sekitar pukul 00.45. Tubuh terasa begitu lelah namun tidak mengantuk. Mungkin ini dikarenakan kesedihan yang melanda di dalam diri saya. Tiba di rumah pukul 01.30, mama dan papa langsung tidur. Mama dan papa pasti lelah karena sudah sejak pagi berada di rumah Bapatua dan menyiapkan segalanya, mulai dari tenda, salib bunga, makanan, pekuburan untuk esok hari. Setelah mandi saya sempat duduk sebentar, kembali sambil merenungi semua kejadian ini, kemudian tertidur.

Hari yang Terasa Begitu Cepat

Paginya, pukul 06.15, saya terbangun mendengar obrolan papa dan mama. Papa dan mama telah beres-beres dan siap untuk pergi. Saya kemudian makan kue kecil dan minum sedikit air sebelum kemudian mandi dan bersiap. Pukul 06.45, kami berangkat menuju ke rumah Bapatua. Kami telah tiba pukul 07.30 dan kini Bapatua telah dimasukkan ke dalam peti jenazah. Mamatua dan Kakak serta Cynthia duduk di sebelah peti. Suasana kesedihan kembali merasuk ke dalam diri saya ketika menginjak masuk rumah tersebut.

Jam 07.45, dimulai acara keluarga. Di acara ini disampaikan pesan-pesan terakhir dari tiap keluarga. Dimulai dari Namboru, yaitu Bou Emon dan Bou Luhut. Kemudian dilanjutkan Bere, Bang Edwin dan Bang Freddy. Kemudian anak, di mana saya mengutarakan rasa terima kasih saya kepada Bapatua untuk semua dukungan dan semangatnya. Dilanjutkan dengan permohonan maaf saya karena belum sempat membahagiakan Bapatua. Saya kembali meneteskan air mata saat itu. Pesan saya diakhiri dengan memberikan dukungan bagi Mamatua dan Kakak dan Cynthia. Papa mewakili saudara juga menyampaikan rasa terima kasih buat semua perhatian dan dukungan Bapatua selama ini. Acara keluarga dilanjutkan dengan mandok hata dari anak-anak Bapatua dan Mamatua sendiri. Setiap dari mereka menutup mandok hatanya dengan mencium tangan Bapatua. Inilah yang membuat saya tidak berhenti meneteskan air mata. Bapatua benar-benar adalah seorang ayah dan suami yang baik. Acara keluarga ditutup dengan mandok hata dari hula-hula, yaitu Tambunan, yang adalah keluarga dari Mamatua. Acara keluarga ini memberikan kesempatan bagi keluarga memberikan salam perpisahan untuk Bapatua yang juga akan langsung dikubur nanti sore.

Selesai acara keluarga, dimulailah Ibadah Minggu di rumah Bapatua. Pendeta kali itu berkotbah menyatakan rasa syukurnya pernah mengenal Bapatua sejak tahun 1990. Bapatua begitu teguh dalam prinsipnya, apalagi saat gereja sedang dilanda masalah tahun-tahun belakangan ini. Ia juga mengingatkan bagi semua anak-anak Bapatua untuk tetap semangat dan membuat Bapatua bangga dengan kehidupan kalian selanjutnya. Sukses, menikah, kemudian mempunyai keluarga yang baru. Seluruh keluarga juga diingatkan untuk melepas Bapatua dengan hati yang rela. Sekarang Bapatua telah senang di Surga. Ia sudah bertemu dengan Tuhan Yesus. Tidak ada lagi sakit di dada karena jantung, tidak ada lagi perut yang maag, segala sakit penyakitnya telah ditinggalkan di dunia yang fana ini.

Ibadah Minggu selesai sekitar pukul 10.15, dan dilanjutkan dengan Martonggo Raja, acara adat kematian bagi orang Batak. Setiap keluarga, mulai dari tulang, pemerintah setempat, keluarga, dan yang lainnya bergantian masuk dan memberikan pesan kepada keluarga yang ditinggalkan. Di pertengahan acara, disajikan makan siang bagi seluruh yang datang. Saya makan bersama-sama dengan namboru dan mamatua tepat di depan peti jenazah bapatua. Makanan hari itu tidak terasa enak ketika kenangan-kenangan terkhir dengan bapatua kembali menyergap. Sop, ayam, dan saksang terasa hambar ketika saya mengenang seluruh kebaikan Bapatua. Semua keluarga makan dengan segera, karena acara akan berlangsung terus sampai sore hari, dan tidak mungkin ada lagi waktu untuk makan. Pukul 11.40, acara kembali dilanjutkan hingga menjelang kepulangan saya.

Sekitar pukul 13.30, saya meninggalkan rumah duka untuk kembali ke Bandung. Rencana perjalanan dipercepat dari yang seharusnya jam 3 karena kebetulan ada saudara yang juga akan kembali ke Bandung. Keadaan di luar rumah ternyata sudah sangat ramai. Bang Freddy mengantar saya dan Kakak Sahat ke Pintu Tol Bekasi Timur.

Catatan:
Bapatua (bahasa Batak) dalam bahasa Indonesia berarti Kakak Kandung dari Ayah.

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.