Browse By

Bermain Bulutangkis Bersama

Sore itu saya berjalan pulang ke indekos dari kampus. Setelah mengerjakan tugas akhir di laboratorium kampus, rasanya ingin cepat kembali dan beristirahat di indekos. Hari yang melelahkan setelah mencoba memprogram mikrokontroller yang akan saya gunakan dengan fitur tertentu. Hari itu juga saya sudah menyelesaikan beberapa modul komponen untuk tugas akhir saya.

Selama mengerjakan tugas akhir ini saya sering berjalan kaki untuk pulang ke indekos. Rasanya lebih mengasyikkan dapat melihat banyak hal dalam perjalanan pulang. Saya bisa mengistirahatkan pikiran saya sejenak dan berpikir untuk hal-hal lain di luar tugas akhir yang sedang saya kerjakan ini, mengamati hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar.

Bermain Bulutangkis Bersama

Dalam perjalanan pulang hari ini saya tergugah akan pemainan bulutangkis yang dilakukan oleh anak-anak di jalan. Empat orang anak bermain bersama dengan berganti-gantian. Jalanan mereka sulap menjadi lapangan indoor bulutangkis layaknya di gelanggang olahraga. Garisan tipis di jalanan dengan mengggunakan kapur menjadi batas lapangan sekaligus batas net yang memisahkan lapangan pemain yang satu dengan yang lainnya. Mereka bermain bergantian sore itu, mungkin karena raket bulutangkis yang tersedia hanya ada dua buah.

Bermain Bulutangkis Bersama

Bermain Bulutangkis Bersama

Pikiran saya sejenak terlontar ke masa-masa adik saya dan saya masih kecil. Mungkin sekitar kelas dua sekolah dasar. Saat menginap di rumah Tulang Iren, kami pertama kali mengenal permainan bulutangkis. Ada raket dan kok, juga lapangan yang membagi wilayah permainan menjadi dua dipisahkan oleh net “semu” yang ada di pikiran setiap pemain. Kak Iren dan Bang Niko mengajarkan cara permainan olahraga ini kepada kami. Mulai dengan service di awal permainan, kemudian mengembalikan bola dengan pukulan pelan (drive) dan juga cara smash¬†kok dengan kecepatan tinggi. Adik saya dan saya cepat belajar. Hari itu juga kami langsung berlatih bermain bulutangkis.

Kemudian saat Bang Niko dan Naomi menginap di rumah kami juga bermain bulutangkis bersama. Waktu itu papa memberikan uang Rp 50.000 untuk membeli raket. Saya masih ingat persis harga raket di warung “Engko” dekat rumah tempat kami membeli raket bulutangkis tersebut, yaitu Rp 11.000 untuk tiap raket. Kami juga membeli sebuah kok untuk permainan kami. Saya masih mengingat persis hari itu ketika kami menghabiskan uang terbesar untuk membeli sesuatu.¬†Waktu itu keadaan ekonomi keluarga masih dalam kondisi yang buruk, namun Papa rela membelikan raket itu agar kami bisa bermain bersama dengan Bang Niko dan Naomi. Kalau mengingat kejadian hari itu, saya terharu melihat kebaikan papa yang rela memberikan sejumlah uang dalam jumlah besar agar kami dapat bermain bulutangkis bersama.

Kami terus bermain bulutangkis bersama. Pagar rumah kemudian menjadi net yang memisahkan dua buah lapangan permainan: saya di garasi rumah, adik di sisi jalan. Bergantian bertukar lapangan, layaknya di dalam permainan bulutangkis yang sebenarnya. Kami juga begitu semangat menonton permainan bulutangkis di televisi: baik saat pertandingan Olimpiade, Thomas dan Uber Cup, Sea Games, dan pertandingan bulutangkis lainnya. Sering kami juga berteriak-teriak saat menonton pertandingan bulutangkis tersebut. Selama SMP, kami juga memilih ekstrakurikuler bulutangkis. Masih ingat dalam ingatan saya kami membawa raket hari selasa-kamis dan memasukkannya ke dalam tas tentengan. Hari-hari itu badan terasa lelah dan kami sering tertidur di perjalanan pulang.

Kelas tiga SMP hingga kini kami sudah tidak pernah bermain bulutangkis bersama lagi. Namun, semangat bermain bulutangkis bersama masih terus menggema sampai hari ini. Sampai di sore ini ketika saya melihat teriakan dan tawa anak-anak saat mereka bermain bulutangkis bersama. Teriakan dan tawa yang sama ketika kami bermain bulutangkis di masa kecil. Masa-masa yang kini saya tuliskan dalam kata-kata menjadi sebuah kenangan yang indah. Kenangan bermain bulutangkis bersama dengan adik, saudara sepupu, dan teman-teman di sekolah.

Sumber Gambar : www.jacksons-camping.co.uk

Recommended for you

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.