Browse By

Saat Kita Dipanggil untuk Memimpin-1

Allah berfirman kepada Musa, “Pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” “Siapakah aku?”, seru Musa. “Aku bukan orang yang cocok untuk tugas seperti itu!”

Pernahkah Anda merasa dipanggil untuk memimpin? Pernahkah Anda kemudian merasa tidak mampu untuk memimpin? Panggilan kepemimpinan merupakan salah satu tantangan terbesar yang mungkin Anda dan saya hadapi. Perhatikan kata “pemimpin” dan artinya. Bagi banyak orang, seorang pemimpin berarti seorang yang hebat dan istimewa. Implikasinya adalah bahwa kita harus bisa melakukan semua dan tahu semua. Tentu saja, beban mental ini terlalu berat bagi sebagian besar orang untuk ia pikul. Dan di saat itulah, kita ingin menolak memimpin seperti yang dilakukan Musa. Lantas, mengapa demikian?

Saat Kita Dipanggil Untuk Melayani

Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita dapat bertanya, “Gambaran apa yang dimiliki Musa tentang menjadi pemimpin dan mengapa ia menolaknya?” Ia tidak mematuhi panggilan Allah dengan mengatakan bahwa ia bukanlah pembicara yang baik dan bahwa ia menderita kelainan bicara. Sudah pasti orang tidak akan mendengarkannya. Yang sebenarnya terjadi adalah: Musa takut kelemahannya akan terlihat. Lantas, apa yang dilakukan Allah? Ia memberikan solusi: Ia akan mengizinkan kakak Musa, Harun, berbicara dengan petunjuk Musa. Jadi, meski pun Musa tidak memiliki keahlian berkomunikasi yang menurutnya harus dimiliki oleh seorang pemimpin, Allah masih memanggilnya untuk memimpin dan dalam prosesnya menyampaikan pesan bahwa kepemimpinan lebih dari sekadar keahlian berpidato¬† atau berbicara di depan orang banyak.

Namun, orang tetap ingin tahu apakah Musa lebih merasa tidak mampu ketika bertemu dengan Allah secara langsung atau ketika Allah menugasinya menjadi pemimpin orang Israel. Demikian besarnya tantangan dalam memimpin. Sesungguhnya Musa adalah orang yang memiliki integritas–tetapi apakah ia merasa bahwa ia memiliki pengetahuan, keahlian, dan kekuatan karakter untuk menerima tantangan kepemimpinan seperti itu? Jelas ia merasa bahwa dirinya tidak memiliki semuanya itu; mungkin ini merupakan kualifikasinya yang terbesar di mata Allah. Allah menginginkan seorang yang setia, bukan seorang pejuang yang mengandalkan kekuatan sendiri.

“Allah menginginkan seorang yang setia, bukan seorang pejuang yang mengandalkan kekuatan sendiri.”

Allah memilih Musa untuk memimpin karena kebajikannya: ia setia, berbelas kasihan, adil, dan seseorang yang memiliki integritas. Pengetahuan dan keahlian memimpin akan mengikuti jika Musa bersedia bekerja sama dengan Allah dan bangsanya untuk membebaskan mereka menuju ke tanah perjanjian. Bagaimana pun juga, bagi Musa–terlebih juga bagi kebanyakan orang–kepemimpinan memanggil kita untuk melakukan perjalanan di dalam lintasan dalam. Kita harus menghadapi pergumulan batin dahulu sebelum kita cukup diperlengkapi untuk menerima tantangan memimpin di dunia luar.

Musa setuju untuk menerima tantangan itu dan ia pergi ke Mesir. Namun, pergumulannya untuk memadukan ketidaksempurnaan manusianya dengan beragam tantangan yang harus dihadapi sebagai seorang pemimpin baru saja dimulai. Baru saja dimulai.

Sering tanggung jawab kepemimpinan terlalu berat untuk dipikul oleh satu orang. Musa harus belajar bekerja bersama dengan orang lain dalam menyelesaikan pekerjaan. Ia harus menyesuaikan diri untuk menjadi pemimpin yang bergantung pada orang lain yang menjadi penerus suaranya. Kelak, ketika Musa mendengar keluhan-keluhan orang Israel dari pagi sampai petang, Yitro, mertuanya, menasihatinya secara langsung. Ia bertanya kepada Musa mengapa ia berusaha bertindak sebagai hakim tunggal dalam menyelesaikan perkara-perkara bangsa itu. Ia bertanya mengapa Musa melakukan semua pekerjaan itu seorang diri.

Ketika Musa berusaha membela kepemimpinan yang dilakukannya seorang diri, Yitro menjawab bahwa semua hal itu tidaklah benar dan akan sangat melelahkannya. Ia memberi tahu Musa agar mencari orang-orang yang cakap dan jujur yang tidak tergoda akan suap untuk menjadi hakim. Satu hakim untuk seribu orang. Di mana ada lagi sepuluh hakim di bawahnya yang bertanggung jawab kepada masing-masing seratus orang.  Dan dibawahnya lagi ada dua hakim yang bertanggung jawab kepada masing-masing lima puluh orang, yang kemudian memiliki lagi lima bawahan yang akan menasihati sepuluh orang.

Apa pun yang terlalu rumit untuk ditangani oleh para hakim akan dibawa kepada Musa, tetapi untuk perkara-perkara yang tidak terlalu sulit akan ditangani oleh hakim di atasnya. Yitro mengajari Musa, bahwa kepemimpinan yang baik melibatkan dan memberdayakan orang-orang lain untuk membantu dalam prosesnya, bahwa seseorang pemimpin yang baik sebetulnya tidak perlu berusaha memikul seluruh bebannya seseorang diri.

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.