Browse By

Rumah di Atas Bukit

Ini adalah kisah dari daerah Asia mengenai seorang anak laki-laki yang bernama Nong. Nong tinggal bersama dengan keluarganya di sebuah desa yang kecil. Semua penduduk di desa tersebut adalah petani, begitu juga dengan keluarga Nong. Hanya bedanya, bila orang-orang lain tinggal di lembah, keluarga Nong tinggal di rumah di atas bukit. Setiap hari menjadi hari yang melelahkan bagi keluarga Nong. Ayah dan ibunya harus bolak-balik naik turun bukit untuk mengurus kebun dan sawah mereka. Nong dan adiknya pun harus naik turun bukit saat pergi dan pulang sekolah.

Gambar rumah di atas bukit

Gambar rumah di atas bukit

Suatu hari, Nong berkata kepada ayahnya: “Ini tidak adil ayah. Masa kita harus cape-capean naik turun bukit, padahal orang-orang lain tidak. Mereka enak saja.” Ayahnya terdiam sejenak. “Nong, kita sudah tinggal di sini sejak kakek masih hidup. Dan dulu ayah juga mengalami hal sama seperti kamu. Pikirkan ini saja: Kalau kita tinggal di atas bukit, kita akan jadi yang pertama melihat matahari terbit, juga jadi terakhir melihat matahari terbenam. Hebat bukan! Syukurilah hal itu”

Nong tetap tidak puas. Dia menganggap semuanya tidak adil. Beberapa saat kemudian, cuaca berubah. Awan gelap meliputi semua daerah itu. Akhirnya, hujan lebat terus-menerus turun tanpa henti. Air mulai naik dan akhirnya menggenangi seluruh rumah orang-orang yang ada di lembah. Tapi rumah Nong tetap tidak apa-apa. Orang-orang di lembah itupun terpaksa harus pergi meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke bukit. Di sana mereka menginap di halaman rumah Nong. Dalam keramaian orang banyak, Ayah Nong berkata kepada Nong, “Apakah kini kamu bersyukur tinggal di rumah di atas bukit?” Nong hanya mengangguk dan tersenyum saja.

Hal ini mengingatkan saya juga akan peristiwa tsunami yang menyerang Jepang, Maret 2011. Tsunami yang datang begitu cepat dan ganas sekejap menghancurkan rumah yang ada di pinggir pantai dan di lembah. Tapi, orang yang tinggal di atas bukit tetap aman dan selamat. Malahan bisa menjadi berkat bagi para pengungsi lainnya. Para pengungsi bisa masuk dan menginap di rumah sambil menunggu pertolongan datang.

Kita terkadang hanya bersungut-sungut atas segala kesusahan yang kita alami. Kita sering berkata, Allah tidak adil. Tapi kalau kita mengijinkan Allah bertindak dan berkuasa atas hidup kita, kita akan melihatnya nanti. Saat di mana Allah bertindak mengubah semua rintangan dan kesulitan menjadi berkat bagi kita.

Sumber Gambar : adyanphotos.wordpress.com

Recommended for you

Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.