Browse By

Menyelesaikan Konflik

Konflik atau pertengkaran atau cekcok amat mudah terjadi. Antara suami dengan istri bisa ribut hanya karena masalah uang belanja. Orangtua dengan anak bertengkar karena anak tidak mau belajar dengan rajin. Bos yang memarahi bawahannya karena kehilangan deal sebuah proyek besar. Bahkan pendeta dengan penatua atau jemaat bisa ribut hanya karena acara Natal yang terlampau mahal. Mengapa konflik begitu mudahnya terjadi dalam kehidupan kita?

Akar dari Konflik

Konflik muncul pada dasarnya oleh karena adanya dua hal. Pertama, ekspektasi yang tidak sesuai (utamanya ekspektasi yang berlebihan). Istri mengharapkan suami memberikan uang belanja yang lebih banyak. Orangtua berharap anak belajar dengan rajin sehingga bisa memperoleh nilai yang bagus kemudian bisa lanjut ke sekolah yang bagus. Bos berharap anak buahnya bisa memenangkan tender yang berarti memberikan keuntungan bagi perusahaan. Sementara itu, pendeta berharap para jemaat untuk berhemat demi pekerjaan misi yang rencananya diadakan.

Kedua, yang menjadi penyebab konflik adalah mementingkan kepentingan diri sendiri atau egois. Istri tidak menyadari bahwa suaminya mungkin lelah setelah seharian bekerja. Sementara orangtua juga tidak menyadari anaknya memiliki bakat di bidang musik. Para bos juga mementingkan target atau potensi keuntungan dan mengabaikan kerja keras dan loyalitas bawahannya selama ini. Sifat egois itu hakikat manusia, namun alangkah baiknya jika kita bisa belajar untuk mengerti orang lain.

Bagaimana cara Menyelesaikan Konflik

Saya mempelajari setidaknya ada tiga cara yang dapat kita lakukan untuk menyelesaikan konflik. Pertama, biasakan untuk memberikan respon (yang baik) dan bukan memberikan reaksi (yang buruk). Kadang, masalah bisa selesai jika kita mau sabar dan mendengarkan, kemudian memohon maaf. Tidak sulit bukan untuk memohon maaf? Kalaupun itu bukan kesalahan kita, tapi kalau suasana bisa menjadi lebih baik, mengapa kita tidak berani merendahkan hati kita?

Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:21).

Kedua, berfokuslah pada yang hal-hal baik dan bukan pada yang keburukan. Saat terjadi konflik atau pertengkaran, ijinkan saya meminta para pembaca untuk memikirkan hal-hal baik yang orang lain pernah lakukan kepada kita. Saat uang belanja kurang, istri jangan berpikir suami kurang kerja keras, ingat bagaimana ia sudah berjuang sejak menikah. Ingat bagaimana ia harus pulang malam atau beberapa kali mengambil lembur untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sekolah. Para bos atau pegawai, ingat juga bagaimana pekerjaan masing-masing selama ini. Jangan karena satu tender proyek yang gagal, pekerjaan baik selama setahun atau lima tahun terlupakan. Itulah sifat dasar manusia, yakni mengingat keburukan padahal ada banyak nilai-nilai baik yang sudah dilakukan. Hanya karena satu kesalahan, semua perbuatan baik musnah dari pikiran kita. Kok rasanya tidak adil ya?

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8).

Dan yang terakhir, pastikan untuk berbicara dan bukan lari dari konflik. Tentu, konflik harus diselesaikan dan bukan didiamkan atau diabaikan. Daya rusak konflik amatlah besar dalam khususnya dalam kerangka hubungan antara suami dengan istri, orangtua dengan anak, bos dengan bawahan, atau pendeta dengan jemaat. Daya rusak ini makin lama juga makin besar. Konflik yang tidak diselesaikan akan membuat suasana rumah, kantor, atau gereja menjadi tidak nyaman lagi. Mau ngomong takut salah, diam saja juga salah. Berbicaralah satu sama lain dan saling mendengarkan, pahami apa yang menjadi masalahnya dan terimalah kekurangan orang lain. Yang terutama, jangan lari dari konflik! Banyak perceraian terjadi karena konflik yang didiamkan bertahun-tahun. Banyak anak yang pahit hati kepada orangtuanya karena memendam konflik dari kecil hingga dewasa. Hidup di dalam konflik atau konflik yang tidak diselesaikan tidak pernah nyaman dan damai. Lakukanlah langkah-langkah di atas dan semoga semuanya dapat diselesaikan.

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis (Efesus 4:26-27).

Ada beberapa kesaksian yang masuk ke dalam email doa kami, yang mayoritas berisikan masalah atau konflik dalam keluarga. Kami terus berdoa, agar para pembaca dimampukan Tuhan menyelesaikan konflik itu.

Recommended for you

One thought on “Menyelesaikan Konflik”

  1. akbar says:

    Sudut pandang yang menarik, terima kasih untuk tulisannya yang membuka pandangan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.