Share!

Ketidakpastian memang merisaukan. Saya pun mengalaminya. Tapi kalau dipikir, ketidakpastian tentang hari depan ada faedahnya. Justru karena ketidakpastian itu, maka hari ini saya bekerja keras menyiapkan diri untuk hari esok. Kalau sudah tahu hari depan mungkin saya akan menjadi pasif. Saya mungkin tenang-tenang saja. Tapi karena saya tidak tahu, saya harus melakukan segala sesuatu untuk mempersiapkan diri.

Hari depan memang merisaukan, tapi juga mengasyikkan. Kehidupan yang tidak saya ketahui habisnya. Kehidupan yang pasti sulit namun tetap menarik untuk dialami bukan? Banyak yang berpendapat bahwa hidup di negara lain itu sulit. Saya pun juga tidak pernah menyangkalnya. Apalagi, saya pun belum pernah bepergian ke luar negeri dan tinggal di sana sebelumnya. Pikiran saya kosong. Gambaran di kepala saya hampa. Tidak banyak yang saya ketahui. Mungkin hanya sebagian kecil informasi yang didapat dari internet dan para senpai. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi hari depan atau di ujung jalan, tapi saya yakin sejak sekarang saya mulai dapat berusaha “mewarnainya”.

Tulisan di atas adalah sebagian artikel yang saya tulis 2 tahun lalu sebelum keberangkatan saya ke Jepang. Dan kini setelah 2 tahun di Jepang, saya merasa sudah terbiasa dengan kehidupan di sini. Saya sudah terbiasa berbahasa Jepang dan sudah bisa berkomunikasi baik dengan orang-orang Jepang.  Saya juga sudah bisa memahami seluruh mata kuliah dengan baik. Begitu juga dengan pelayanan di Gereja, semuanya berjalan lancar dan baik. Saya sudah bisa melayani di multimedia dan proyektor dan menjadi panitia dalam acara-acara gereja. Semuanya hanya karena kasih karunia Tuhan saja.

Tapi keadaan ini membuat saya kembali berpikir. Jangan-jangan saya sudah terlalu nyaman dengan keadaan sekarang? Jangan-jangan saya sudah tidak mau lagi mengembangkan kemampuan? Ah, semua pertanyaan itu muncul dan bercampur aduk dalam pikiran saya.

Beruntunglah dua tahun lalu saya menulis artikel mengenai hal ini. Saya kembali membaca artikel-artikel tersebut dan saya kembali diingatkan tentang pentingnya mencoba hal-hal baru. Hal-hal baru atau pergi ke daerah baru memang terkadang menakutkan dan merisaukan, namun penuh dengan kejutan dan tantangan bukan? Masalahnya apakah kita mau melangkah atau duduk dan diam saja?

Pergi ke Daerah Baru

Bersama gembala pergi ke daerah baru

Bersama gembala pergi ke daerah baru

Manusia pada umumnya menyukai tempat-tempat lama yang sudah dikenal, susah sekali untuk pergi dan mengunjungi daerah baru. Takut untuk pergi keluar, melangkah jauh ke lingkungan yang sama sekali baru. Manusia kuatir akan hal-hal atau masalah-masalah baru yang mungkin muncul kemudian.

Untuk masalah ini pun Alkitab mempunyai jawabannya, dalam Yohanes 10:4 Yesus mengatakan hal ini. “Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” Saat Yesus mengibaratkan dirinya sebagai seorang gembala sesungguhnya Dia juga sedang mengatakan bahwa Dia akan berjalan di depan kita dan membimbing kita ke daerah baru.

Kita mungkin takut menghadapi hari-hari mendatang dalam hidup, tapi ada Yesus, Sang Gembala kita. Dia mengetahui jalan dan berjalan di depan kita, menunjukkan jalan tersebut. Bahkan terlebih lagi Dialah jalan itu. Jalan menuju ke daerah baru. Ke padang rumput yang hijau dan air yang tenang.

Maukah kita mengikut Yesus pergi ke daerah baru?

Domba pergi ke daerah baru

Domba pergi ke daerah baru

Sumber gambar : Ilustrasi seorang gembala menuntun dombaDomba di padang berumput hijau