Browse By

Bagaimana Kalau Saya Ingin Bahagia?

Dalam rubrik Parodi di Kompas Minggu tanggal 26 Juli 2015 yang lalu, Samuel Mulia mengisahkan tentang perbedaan bahagia dan senang. Awalnya Samuel merasa bahwa senang dan bahagia itu ialah hal yang sama, senang adalah ketika keinginan tercapai, ketika semua rencana berhasil. Namun ternyata ada banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan, sehingga terkadang Samuel merasa kecewa dan tidak dapat mengendalikan emosi.

Di suatu hari, entah dari mana, Samuel menyadari perbedaan senang dan bahagia. Dia akhirnya memutuskan memilih menjadi manusia bahagia, bukan menjadi manusia yang senang. Hal itu diawali dengan perubahan dalam isi doanya. Daripada meminta ini dan itu kepada Tuhan, dia memilih untuk mengucapkan syukur dan terimakasih, sambil mempercayai rencana Tuhan yang jauh lebih dahsyat daripada rencananya sendiri. Dan efeknya, Samuel mengakui bahwa kini dia tidak seemosi dulu, dan yang penting adalah dia mengerti berbahagia itu seperti apa. Senang itu karena diri berpikir positif atas hal-hal positif yang terjadi. Kalau yang negatif yang jadi, kesenangan itu mudah lenyap.

Selanjutnya dalam artikelnya, Samuel Mulia menjelaskan bahwa bahagia adalah bentuk proteksi terhadap hal-hal negatif yang dihasilkan dari penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahagia itu tidak melelahkan, karena bukan kita yang berusaha. Kita cukup menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika hasilnya baik kita bersyukur, namun ketika hasilnya buruk sekalipun kita tidak kecewa.

Bandingkan dengan kesenangan yang berawal dari berpikir positif. Semakin kita berupaya memikirkan hal positif, yang ada kita makin tertekan dan lelah. Akhirnya ketika tidak kuat lagi, yang ada hanya emosi yang meledak-ledak tidak terkontrol.

Ingin Menjadi Bahagia?

Menjadi bahagia dalam Tuhan

Menjadi bahagia dalam Tuhan

Nampaknya Samuel Mulia mengutip apa yang dikatakan Alkitab mengenai kebahagiaan. Misalnya saja yang dikatakan Pemazmur: “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dann Ia akan bertindak” (Mazmur 37:4-5). Dan juga dalam Mazmur 16:11, “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Kita bisa lihat bahwa bahagia itu bukan hanya keinginan kita, namun juga keinginan Tuhan! Tuhan ingin Anda menikmati kebahagiaan dalam-Nya! Pertanyaannya, mengapa Tuhan ingin kita bahagia? Itu karena kebahagiaan menunjukkan seberapa berharganya seseorang atau sesuatu bagi Anda.

Seperti ada tertulis “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu (kebahagiaanmu) berada” (Matius 6:21), hati kita berbahagia ketika ada harta sesuatu yang berharga. Dan jika kita berbahagia dalam Tuhan, itu menunjukkan betapa berharganya Tuhan bagi kita. Itulah sebabnya Allah ingin kita bahagia. Kebahagiaan dan Allah bukanlah dua hal yang berbeda, namun dua hal yang saling terikat.

Kebahagiaan bukanlah suatu hal yang dapat dikejar dan ditangkap. Kebahagiaan adalah saat kita menyerahkan seluruh rencana, pikiran, tindakan kepada Tuhan. Sebab hanya dalam Tuhan sajalah kita dapat menjadi bahagia. Di luar Tuhan, tidak ada yang namanya kepuasan atau kebahagiaan.

Sumber gambar: expressionsofinnerself.wordpress.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.