Browse By

Pindah Rumah Naik Mobil Akabou

Angin berhembus masuk lewat jendela mobil Akabou yang sedikit terbuka. Jarang sekali ada hari cerah di pancaroba pergantian musim dingin ke musim semi. Biasanya hari mendung dan angin utara yang dingin bertiup kencang, membuat suram suasana musim dingin. Tapi tanggal 13 Maret 2015, saat saya pindahan itu, cuaca benar-benar cerah. Matahari bersinar terik di siang hari, membuat hari terasa hangat.

Menaiki Mobil Akabou

Foto Mobil Akabou

Foto Mobil Akabou

Mobil Akabou telah melaju dari asrama saya di Higashi Fushimi, Tokyo Barat, menuju ke jalan tol dalam kota dan masuk dari pintu tol Chofu. Jalan yang dilewati kebanyakan jalan kecil di daerah-daerah yang tidak pernah saya lewati. Pak Ikezaki-san dengan cekatan mengendarai mobil lewat jalan kecil mengikuti car navigation yang ada di dashboard. Ketika memperhatikannya, jalan tol dalam kota digarisi warna merah. “Untuk menghindari macet dek,” begitu sapanya ketika saya dengan serius memperhatikan car navigation.

Tiga puluh menit perjalanan saya bercakap-cakap banyak dengan Pak Ikezaki-san, supir yang membawa mobil Akabou. Dia bercerita tentang pengalamannya pergi liburan ke Bali bersama keluarganya dua minggu yang lalu. Saya pun menyahut, “Asyik ya Pak. Saya sendiri belum pernah ke sana,” jawab saya. Kami pun bercakap-cakap tentang pengalaman di Jepang, pengalaman pindahan rumah di Jepang, dan bagaimana kesan berkuliah di Jepang. Pak Ikezaki-san juga bercerita tentang pengalamannya jadi tukang Akabou.

Entah karena siang harikah, atau karena kelelahan merapikan barang-barang pindahan, saya pun terlelap tidur di kursi mobil Akabou. Saya terbangun karena suara radio yang sayup-sayup yang terdengar. Saat mata terbuka, saya melihat tol dalam kota Tokyo yang cukup tersendat karena padatnya kendaraan. “Wah sudah 40 menit saya tertidur,” begitu pikir saya ketika melihat jam di handphone. “Tenang saja dek, ini macetnya cuma di tol dalam kota saja, karena ada persimpangan dari tol luar kota. Begitu sudah lewat, lancar kok,” sapa Pak Ikezaki-san.

Betul saja, ketika sudah lewat persimpangan tol Tohoku Express Highway dan Keio Express Highway di daerah Asakusa, jalan tol jadi lapang sekali. Dibandingkan jalan tol dalam kota, jalan tol Keio menuju Chiba lebih luas dengan 4 lajur dan hanya sedikit kendaraan yang melaju saat itu. Pak Ikezaki-san pun menambah laju mobil Akabou makin cepat, katanya untuk menghindari jalanan yang macet di sore hari. Waktu itu saya pun menelepon Pisekon (teman yang pindahan rumah bareng saya), menanyakan kabar sudah sampai di mana. Karena Pisekon posisinya sudah lebih dekat, akhirnya dia yang mengambil kunci di agen rumah Aoi Fudosan. Saya juga berpesan untuk mengambil kunci rumah dua-duanya, agar begitu sampai bisa langsung memasukkan barang ke dalam kamar.

Mobil Akabou Sampai di Rumah

Tepat pukul 16.10, mobil Akabou tiba di rumah di Chiba. Sekitar 5 menit kemudian, Pisekon datang dan membuka pintu rumahnya. Pisekon berkata bahwa harus orangnya sendiri yang mengambil kunci di agen Aoi Fudosan dan tidak boleh diwakilkan. Saya sempat sedikit agak panik waktu itu, nanti ongkos tukang Akabou nya jadi nambah kalau lama waktu kerjanya. Tapi Tuhan memberikan hikmat, saya menyuruh Pak Ikezaki-san untuk menurunkan dulu sepedanya, dan dengan sepeda itu saya langsung menuju ke agen Aoi Fudosan. Sebelum pergi saya sempat berpesan kepada Pisekon agar barang-barangnya dipisahkan. Yang punya dia bawa masuk saja, sedangkan yang punya saya ditaruh di depan pintu dahulu.

Proses mengambil kunci di agen Aoi Fudosan tidak terlalu lama, itu karena saya sudah beberapa kali ke sana hingga para karyawannya sudah mengenal muka saya. Saya pun kemudian menuliskan nama, tanggal ambil kunci, nomor telepon, dan alamat rumah. Begitu selesai, karyawan itu pun memberikan buku catatan bukti pembayaran sewa rumah. Ketika membayar mesti membawa buku itu dan kemudian mendapatkan cap, begitu pesannya ringkas. Setelah semuanya selesai, saya pun pamit dan langsung menaiki sepeda yang diparkir di belakang gedung kantor agen Aoi Fudosan. Lewat jalan pintas, saya langsung menuju ke rumah.

Tiba di rumah, rupanya semua barang sudah diturunkan dari mobil Akabou. Barang-barang teman saya Pisekon sudah dimasukkan ke dalam kamarnya, sedangkan punya saya masih ditaruh di luar. Saya langsung membuka pintu, menyalakan lampu, membuka jendela dan memasukkan kardus-kardus itu ke dalam kamar. Sementara itu, Pak Ikezaki-san mengangkat lemari es dan rak-rak yang masih ditaruh di lantai 1. Setelah memastikan semua barangnya selesai diletakkan, saya pun kemudian membayar ongkos pindahan rumah. Saya menyerahkan 40 ribu yen dan Pak Ikezaki-san mengembalikan kembalian 20 yen dan kuitansi, sambil memberikan hadiah pindahan rumah berupa satu kotak tisu kepada saya dan Pisekon. Dia kemudian mengecek kembali isi mobil Akabou, dan sambil memundurkan kendaraannya dia pamit dan berterimakasih kepada kami.

Hanya beberapa detik kemudian, mobil tukang gas segera datang. Rupanya Pisekon sudah menghubungi dahulu tukang gas untuk menyambung gas guna keperluan masak dan mandi air panas. Saat Pisekon mengisi surat-surat yang diperlukan, tukang gas mengecek pipa gas dan peralatan pembuat air panas. Saya pun bertanya apakah saya juga bisa sekalian dipasang gasnya di kamar saya kepada tukang itu. Dia pun menjawab tidak bisa karena sudah ada jadwal pasang gas di rumah yang lain. Dia berpesan untuk menelepon tukang gas dan meminta jadwal di kemudian hari.

Sekitar 20 menit proses pengecekan pipa gas telah selesai. Air panas pun keluar dari keran tempat cuci piring kamar Pisekon. Saya pun kembali ke kamar saya di atas, mengecek barang-barang, menutup jendela, dan mengunci pintu. Barang-barang saya tetap biarkan di dalam kardus, biar sekalian disusun dengan barang-barang yang lain saat datang lagi minggu depan. Sekaligus minta petugas gasnya datang juga hari itu, begitu pikir saya.

Setelah semuanya selesai, kira-kira pukul lima sore saya dan Pisekon pun berjalan pulang bersama ke arah stasiun Nishi Chiba. Sempat berdiri dalam kereta dari Stasiun Chiba hingga Stasiun Funabashi Barat, beruntung kami berdua dapat duduk di kereta Tozai line. Mungkin karena kelelahan karena pindahan rumah, saya dan Pisekon pun terlelap tidur sepanjang perjalanan dari Funabashi Barat hingga ke Takadanobaba. Perjalanan masih dilanjutkan dengan naik kereta Seibu Shinjuku menuju ke asrama.

Waktu sudah menunjukkan jam 7 malam, ketika saya tiba di kamar asrama. Sambil merapikan barang-barang yang masih tersisa, saya makan malam, dan kemudian beristirahat dari hari yang panjang itu. Puji Tuhan semuanya berjalan dengan lancar. Barang-barang tidak ada yang tertinggal dan dapat dipindahkan dengan baik. Malam itu saya tidur cepat karena masih harus pergi ke kampus esok harinya.

Sumber gambar : http://www.akabou-ike.com/

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.