Browse By

Pergi ke Cup Noodle Museum Yokohama

Dari Yokohama Red Brick Warehouse kami melanjutkan perjalanan ke Cup Noodle Museum. Kami berjalan kaki ke arah barat. Kami menyeberangi jalan dengan jembatan penyeberangan. Bentuknya unik karena berbentuk lingkaran, dan menghubungkan pejalan kaki dari keempat arah. Jembatan ini juga langsung terhubung dengan Yokohama World Porter. Hari semakin sore dan angin bertiup dengan kencang. Papa dan Mama juga terlihat sudah agak kelelahan apalagi karena tadi harus menaiki tangga jembatan penyeberangan yang cukup tinggi. Kami langsung menuju ke Cup Noodle Museum. Di tengah jalan kami menjumpai para turis yang baru pulang dari Cup Noodle Museum, karena memegang cup noodles dan oleh-oleh lainnya dari arah berlawanan.

Begitu masuk, suasana terasa tenang dan nyaman. Warna putih mendominasi seluruh ruangan mungkin menjadi alasan utamanya. Selain itu, suhu udara di dalam bangunan juga terasa hangat, amat berbeda dengan kondisi udara di luar. Di sisi kanan pintu masuk, ada beragam suvenir yang dipajang. Mulai dari boneka anak ayam, gantungan kunci, dan masih banyak lagi. Mengapa ada banyak suvenir ayam? Padahal ini kan museum mie? Nanti saya akan menjelaskannya.

Cup Noodle Museum Yokohama

Adik langsung mengantri untuk membeli tiket masuk bagi kami berempat. Sesi tur pas sekali dimulai. Sekitar jam 15.30. Kami mulai masuk ke ruangan-ruangan museum, mulai dari sejarah pembuatan mie di Jepang hingga pembuatan mie di dalam cup pertama kali. Mie di dalam cup ini kemudian yang “booming” di dunia karena orang dapat dengan mudah makan mie di mana pun dan tanpa repot.

Museum ini juga sebagai pengingat akan Bapak Mie Instan, yaitu Momofuku Ando. Dalam plakat atau prasasti di dekat loket tiket masuk, disampaikan bahwa museum ini didesain untuk memicu kreativitas dan rasa ingin tahu anak-anak sekaligus memberi banyak ilmu pengetahuan baru. (gambar creative thinking)

Momofuku Ando mendedikasikan hidupnya untuk memikirkan jenis makanan baru yang praktis. Perjuangan dan percobaan terus menerus membuahkan hasil. Dia menemukan Chicken Ramen atau mie istan pertama di dunia. Kemudian dia juga menemukan mie instan dalam gelas. Motonya hidupnya adalah Creative Thinking (atau berpikir kreatif), persis seperti plakat mengenai museum ini.

Creative thinking

Creative thinking

Tur dimulai, pertama-tama kami berkumpul dalam satu ruangan auditorium. Kemudian diputarkan film yang berisi sejarah ditemukannya mie instan. Meskipun videonya berbahasa Jepang, namun dengan headphone yang tersedia, para pengunjung dapat memilih bahasa Inggris. Saya pun dapat mengerti video ini dan dapat menjelaskannya kepada Papa dan Mama. Dedek juga membantu menerjemahkan dari bahasa Jepang kepada Papa dan Mama. Video ini berkisah tentang hidup Momofuku Ando perjuangannya hingga menemukan Chicken Ramen. Chicken Ramen ini yang akhirnya menghentak dunia dengan makanan enak yang praktis disiapkan. Karena nama mie instan ini adalah Chicken Ramen, maka selalu ada unsur ayam dalam mie instan pertama (walaupun akhirnya muncul varian rasa mie yang lain kelak).

Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke ruangan di mana seluruh mi instan di seluruh dunia dipanjang dan diurut berdasarkan waktunya.  Kita dapat menemukan jenis-jenis mie instan dan cup noodle yang berasal dari berbagai negara, dan melihat sejarahnya. Mulai dari kemasan, varian rasa, hingga ukuran mi berubah dan menyesuaikan keinginan pelanggan. Oiya, ada merek Indomie juga (merek mi instan yang ada di Indonesia). Kami juga mengambil beberapa foto di sini.

Kami melanjutkan perjalanan ke ruangan berikutnya, di mana dipamerkan temuan-temuan bersejarah yang mengubah dunia. Ada helikopter yang terinspirasi oleh bentuk capung dan masih banyak lagi (saya lupa benda-bendanya). Kemudian kami juga masuk ke satu ruangan tipuan mata, di mana saat kami berada di dalam ruangan, dan orang melihat dari sudut tertentu badan kami menjadi mengecil.

Di lantai 3, ada ruangan tempat demo memasak mie instan. Tiap-tiap peserta dapat meracik dan kemudian menyantap mie instan yang dibuatnya. Atau juga membuat cup noodle dengan jenis mie, bumbu, dan rasa sendiri. Kita juga bisa membuat cup noodle sendiri dan nantinya bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Sungguh mengasyikkan, apalagi bagi anak-anak kecil. Terlihat mereka sangat antusias untuk meracik dan memasak mie instan pertama mereka. Tersedia banyak meja dan kursi untuk para pengunjung dapat menikmati mie instan yang mereka buat. Kami melewatkan tempat ini karena waktu datang agak telat sehingga waktu demo masak mie instan sudah terlewat.

Kami kemudian langsung menuju ke lantai 4. Di sini ada banyak restoran khas negara-negara yang ada di dunia. Menu utamanya ya tetap, yaitu mie instan. Ada stand dari Jepang, Spanyol, Thailand, Eropa, dan masih banyak lagi. Kami pun membeli mie instan dari Spanyol dan Vietnam dan juga Indonesia, kemudian menyantapnya bersama. Setelah beristirahat sejenak sambil mengabadikan beberapa momen, kami kemudian menuju ke balkon luar. Dari sini, kami dapat melihat pemandangan kota Yokahama sore hari. Terlihat pelabuhan Yokohama dan juga Red Brick Warehouse. Karena angin berhembus dengan kencangnya, hanya ada sedikit orang yang berada di balkon ini. Kami pun mengambil beberapa foto di sini.

Sudah jam 5.30 rupanya. Kami pun bergegas menuju ke lantai dasar. Di sini kami pun mengambil beberapa foto dengan ikon museum ini yaitu “Anak Ayam” dan juga “Cup” Benar, karena nama mie instan pertama adalah Chicken Ramen, makanya ayam identik dengan museum ini. Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan ke Yokohama Cosmo World.

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.