Browse By

Merenung dalam Pesawat

Semester 5 sudah berlangsung sebulan lebih dan makin sibuk dari sebelumnya. Setelah merasakan liburan yang cukup panjang dari sejak tanggal 10 Februari hingga 31 Maret, saya merasa mendapatkan semangat yang baru. Selama seminggu pertama liburan, saya bisa menyelesaikan membaca buku-buku. Buku-buku yang rata-rata tidak dibaca sampai habis karena kesibukan dalam kuliah. Seminggu sudah cukup untuk menyelesaikannya. Dalam seminggu itu pun, saya sudah latihan 10 judul buku Persiapan TOEIC (semacam tes bahasa Inggris seperti TOEFL di Jepang) dan mengerjakan beberapa soal latihan Elektromagnetik Terapan. Puji Tuhan, saya bisa menyelesaikan semuanya sebelum kepulangan saya berlibur di Indonesia.

Sebulan saya berlibur di Indonesia, saya sangat puas dan bersyukur kepada Tuhan. Saya bisa bertemu dengan Papa, Mama, Abang, dan seluruh keluarga besar Sihombing dan Banjarnahor. Ada kebaktian Family Altar, Kubu Doa, Kebaktian Wijk HKBP, Arisan STM Duta Kranji, Kebaktian Bona Taon STM Duta Kranji, Arisan Datu Lobi Nasumurung, Arisan Sihombing Lumbantoruan, dan Ibadah Syukur Parmonangan. Puji Tuhan saya bisa mengikuti semuanya.

Saya juga bisa bertemu dengan teman-teman dan mendapati mereka tetap setia melayani dalam Tuhan. Saya juga bisa pergi ke HKBP Jakasampurna dan Sekolah Minggu ABI dan Youth Duta Kranji. Bahagia sekali ketika mendapati teman-teman satu pelayanan masih setia dan giat melayani Tuhan. Saya juga bisa melahap buku-buku yang ada di rumah, dan membuat beberapa catatan bagian yang saya anggap penting, misalnya buku-buku rohani dan pendalaman iman. Saya juga bisa pergi ke Toko Buku Kalam Hidup dan Gramedia Matraman untuk membaca buku. Sayang saya tidak bisa membaca semua buku di kamar abang, sebab hanya sebentar saja saya pergi ke Bandung.

Merenung dalam Pesawat

merenung dalam pesawat

merenung dalam pesawat Garuda Indonesia

Tanggal 18 Maret saya kembali lagi ke Jepang. Sedih memang meninggalkan keluarga, saudara, sahabat dan teman-teman lainnya. Sedih rasanya meninggalkan rumah untuk kembali lagi ke Jepang. Mungkin teman-teman sulit merasakan apa yang saya tulis. Tapi cobalah bayangkan saat keluarga dan sahabat mengantar sampai ke bandara, di sana suasana masih ramai. Tapi tidak sampai 10 menit, saat teman-teman masuk ke dalam pesawat. Suasana sudah berubah 180 derajat. Sepi, sunyi, tidak ada lagi keramaian. Dari pintu pesawat hanya kelihatan lampu-lampu landasan pesawat.

Sepuluh menit berikutnya, suasana sedikit berubah. Bukan suara gembira dan sukacita, suasana mendadak menjadi bising. Mesin jet pesawat sudah dijalankan ke kondisi maksimum hingga suara mesin menerobos masuk ke dalam kokpit. Badan pun terasa didorong ke belakang, sebagai timbal balik percepatan pesawat. Perut seakan ditekan oleh gaya timbal balik yang hampir mencapai 3 kali gravitasi. Posisi duduk pun tidak tegak lagi, namun sudah condong ke belakang, sebab moncong pesawat miring ke atas, mengambil posisi  tinggal landas.

Lima menit berikutnya, suasana kembali normal. Posisi duduk pun sudah kembali tegak. Saya sempat mengintip dari jendela pesawat. Lampu-lampu landasan yang makin kecil dan kecil dan tidak terlihat lagi. Lalu muncul lampu-lampu penerangan kota dari ketinggian. Indah memang. Tapi ketika lampu itu makin kecil, makin kecil dan tidak kelihatan lagi, saya mendadak jadi cemas. Suasana sudah jadi gelap. Dari jendela tidak terlihat apa-apa lagi. Hanya tinggal kegelapan malam. Kosong. Tidak ada apa-apa.

Saya kembali menegakkan posisi duduk saya, mengambil posisi bersiap untuk istirahat tidur. Namun ini posisi yang salah. Ini bukan membuat saya tidur, malah membuat saya berpikir keras dan terus merenung dalam pesawat. Berpikir membayangkan dalam 30 menit seluruh orang-orang yang saya cintai lenyap dari pandangan saya. Dalam 30 menit suasana hati berubah dari gembira menjadi murung. Dalam 30 menit suasana berubah dari terang benderang jadi gelap gulita. Saat itulah saya menyadari ketidakberdayaan saya. Keterbatasan saya dalam banyak hal. Saya terbatas dalam periode waktu, jarak, tempat, terbatas segala-galanya. Saya terbatas dan tidak berdaya apa-apa.

Perasaan yang sama sebetulnya saya alami juga tahun lalu, saat dalam pesawat kembali ke Jepang juga. Kalau kali kedua, saya pikir saya bisa menguasai diri dan tidak memikirkannya, namun apa boleh buat saya lemah dan kembali memikirkannya. Ahhh.

Di tengah kegelapan kokpit pesawat, saya teringat terangnya rumah dan langit depan rumah. Di tengah kesepian malam di atas langit, saya teringat meriahnya acara di rumah, obrolan-obrolan dengan saudara dan teman, ramainya kendaraan hilir mudik depan rumah. Di tengah dinginnya udara, saya ingat panasnya Jakarta dan rumah di Bekasi. Di tengah kesendirian, saya ingat senangnya bercengkrama dengan Papa, Mama, Abang, dan saudara lainnya.

Itu memori saya yang terakhir merenung dalam pesawat. Setelah itu saya tidak ingat lagi bilamana saya terjaga atau terlelap tidur.

sumber gambar : blogspot

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.