Browse By

Ibadah Penghiburan “Mangapuli”

Kematian, suatu hal yang paling mendukakan selama kita hidup. Rasa kehilangan, rasa penyesalan, rasa sedih, rasa tidak rela, terluka, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Memang kita tahu, ada waktu untuk lahir, tumbuh besar, menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Ada pula waktu untuk merelakan kepergian seseorang untuk selama-lamanya. Tapi sayang beribu sayang kita selalu tidak pernah siap ketika saat itu datang tiba-tiba. Dan rasanya tidak seorangpun pernah siap ketika tahu ternyata momen tersebut adalah detik-detik yang terakhir….

Pernah saya baca di salah satu buku Pak Andar Ismail dalam artikel berjudul “Selamat Tinggal”, rasa kehilangan itu tidak langsung muncul di hari kepergian orang terkasih. Mungkin tidak langsung muncul juga di hari pemakamannya. Namun selang tiga hari. Saat kita makan pagi, tidak ada sosoknya. Saat akan pergi bekerja, tidak mendengar lagi salamnya. Saat pulang bekerja, tidak ada lagi yang menjemput. Tidak ada lagi yang membaca koran atau mendengarkan berita di malam hari. Tidak ada lagi yang memasak makanan kesukaan atau mencuci piring di dapur. Tidak ada lagi yang mendengarkan keluhan atau memarahi lagi. Disitulah kita baru merasakan kehilangan. Kehilangan yang begitu dalam karena ditinggalkan pergi oleh orang terkasih.

Ibadah Penghiburan dalam Adat Batak

Ucapan Ibadah Penghiburan

Ucapan Ibadah Penghiburan

Makanya saya sangat senang dengan budaya adat Batak yang selalu mengadakan “Mangapuli” atau Ibadah Penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan. Memang semua saudara dan kerabat hadir saat ibadah tutup peti dan pemakaman, namun orang Batak tidak hanya sampai di situ. Entah satu minggu atau sebulan setelahnya, para saudara dan kerabat akan kembali berkumpul di rumah keluarga untuk melakukan ibadah penghiburan. Budaya adat Batak tahu bahwa hari-hari setelah pemakaman itulah sesungguhnya hari yang terberat bagi keluarga yang ditinggalkan.

Ibadah penghiburan dalam konteks aslinya bukanlah bertujuan menghibur keluarga karena ditinggalkan orang terkasih, namun menguatkan iman bahwa orang terkasih telah berada bersama dengan Bapa di sorga. Ibadah penghiburan juga bukanlah untuk mengenang dan menangisi orang yang meninggal, namun mengingat kembali kasih Tuhan dalam keluarga dan mempercayai bahwa rencana Tuhan ialah rencana yang terbaik. Jadi, bukan keluarga yang ditinggalkan atau orang yang meninggal yang jadi fokusnya, namun Tuhan yang menjadi fokus dalam ibadah penghiburan.

Alkitab sendiri menunjukkan kepada kita makna ibadah penghiburan yang sesungguhnya. Pertama, tidak ada lagi dosa dan roh kita akan menjadi sempurna. Kehidupan selama di dunia adalah hidup yang terbatas, namun kelak kita akan hidup kekal bersama dengan Bapa di surga yang mengasihi kita. “Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna” (Ibrani 12:22-23).

Kedua, kita bersyukur karena Allah telah melepaskannya dari penderitaan di dunia kepada penghiburan dan kelegaan (Lukas 16:25, sabda Yesus dalam kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin).

Ketiga, kita bersyukur karena orang terkasih telah menetap dan bersama dengan Tuhan dalam sorga kekal. Harus kita sadari bahwa tempat kita bukanlah dunia ini, melainkan di sorga. Kesadaran akan hal inilah yang dapat membuat kita terhibur karena mereka telah kembali ke rumah Bapa (2 Korintus 5:8).

Keempat, kematian menjadikan kita hidup bersama dengan Kristus, sama seperti yang Paulus katakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Paulus memahami betul adanya pengharapan akan kehidupan yang abadi bersama dengan Allah setelah kematian.

Tiga tahun belakangan ini, saudara dan kerabat dekat telah banyak yang dipanggil Tuhan. Teman-teman bisa membaca beberapa kisahnya yang ditulis dalam blog ini dalam kategori Selamat Tinggal. Lewat kepergian mereka, saya merenungkan kembali betapa hidup ini bukanlah milik saya, melainkan milik Tuhan. Hidup di dunia sepenuhnya hanyalah untuk Kristus, namun saat semuanya berlalu jangan biarkan kesedihan dan penyesalan yang tinggal, sebab selalu ada sukacita dan janji pengharapan yang Allah berikan. Ingatlah selalu rencana Tuhan ialah rencana terbaik dalam kehidupan kita dan hidup keluarga kita.

Artikel ini saya persembahkan khusus bagi Namboru, Amangboru, Mamatua, kakak dan adik-adik yang ditinggalkan. Salam dari kami yang mengasihimu selalu.

Sumber gambar: http://media.salemwebnetwork.com/ecards

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.