Browse By

Misi Pembebasan Kristus

Mengapa pembebasan menjadi suatu hal yang begitu penting dalam hidup ini? Mari kita sejenak belajar dari kehidupan Bangsa Israel. Pembebasan selalu berhubungan erat dengan kehadiran dan keikutsertaan Tuhan untuk melepaskan bangsa-Nya. Di dalam Kitab Ulangan diceritakan bagaimana Bangsa Israel mengalami pembebasan itu,

Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Allahmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya. Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat, maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami. Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat. Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya“(25:5-9).

Sebuah kesaksian yang terus menerus diwariskan, di mana mereka sungguh-sungguh merasakan bagaimana Tuhan membebaskan mereka.

Misi Pembebasan Kristus

Misi Pembebasan Kristus

Misi Pembebasan Kristus

Pembebasan tidak diperlukan seandainya tidak ada perhambaan. Kenyataannya, justru ada banyak orang yang sudah menjadi “pasrah” deengan keadaan diperhamba. Perlahan-lahan, “kepasrahan” itu membentuk rasa nyaman meski berada di bawah perhambaan. Semangat juang demi kemerdekaan pun surut dan pembebasan dianggap sebagai beban dan menyusahkan diri sendiri. Sikap seperti ini dilakukan oleh Bangsa Israel ketika mengetahui ada banyak tentara Firaun yang mengejar mereka. Pada saat-saat genting itu, Bangsa Israel memang berseru kepada Tuhan, namun di saat yang sama mereka menyesali misi pembebasan yang dilakukan Allah. Mereka berkata kepada Musa, “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini” (Kel. 14:11-12).

Terbiasa dalam suasana perhambaan membuat mereka “menolak” pembebasan yang ditawarkan Allah. Ini menjadi mentalitas yang begitu lekat di dalam kehidupan Bangsa Israel. Mereka telah keluar dari Mesir, namun Mesir masih ada di dalam pikiran mereka. Ada begitu banyak perhambaan lain yang begitu erat mendekap mereka, seperti perhambaan kepada ilah lain dan dewa-dewi buatan tangan serta perhambaan kepada ketidakadilan dan rasa iri. Akhirnya, kehidupan mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan terpuruk dan tidak berdaya. Kerajaan Israel yang begitu besar dan ditakuti, akhirnya terpecah-pecah dan menjadi tawanan bagi bangsa lain. Mereka hidup di dalam pembuangan dan menyaksikan kejayaan mereka tinggal puing-puing belaka.

Yesus yang datang ke dunia 2000 tahun yang lalu, membawa misi pembebasan bagi bangsa tersebut. Ketika hari Sabat, di sebuah rumah ibadah di Nazaret, Yesus membacakan sebuah nats dari Kitab Yesaya, “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung.” Ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah pernyataan bahwa misi pembebasan Tuhan tidak akan pernah berhenti. Janji-Nya akan selalu ditepati. Pembebasan dari kemiskinan, keterbelengguan, kebutaan, rasa tertindas hanya mungkin digenapi melalui Yesus Kristus. Di akhir pembacaan nats itu, Tuhan Yesus dengan tegas mengakhirinya dengan berkata, “Pada hari ini genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarnya.

Ia pun berkata hal yang sama pada hari ini kepada Anda dan saya. Ia menawarkan pembebasan dari segala perhambaan dosa dan menawarkan kehidupan kekal bagi yang percaya kepada-Nya.

Sumber gambar : BlogSpot

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.