Browse By

Haram : Larangan Bagi yang Cacat

Peristiwa dalam Kisah Para Rasul 10 memang membawa perubahan besar dalam pola makan masyarakat gereja hingga hari ini. Tapi, tetap saja masih belum bisa menjawab pertanyaan mula-mula saya, “Mengapa dahulu Tuhan Allah melarang udang?” Dan Allah memberikan alasan-Nya, “Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu…” (Imamat 11:44).

Haram Menurut Perjanjian Lama

Beberapa ahli juga menekankan manfaat kesehatan dari hukum dan aturan dalam Kitab Imamat. Larangan makan babi mencegah trichianosis. Larangan makan kerang juga mencegah penularan virus yang kadang-kadang terdapat dalam tubuh kerang. Atau juga penyebaran penyakit dari binatang-binatang yang tinggal di tempat kumuh atau binatang-binatang yang makan bangkai. Ada juga yang menyatakan bahwa aturan Allah itu untuk menjaga orang Israel dari kebiasaan ritual penyembahan yang dilakukan oleh orang Kanaan.

Mungkin penjelasan di atas membuat kita sedikit mengerti mengapa Allah “menghitamkan” binatang-binatang tertentu. Tapi mengapa udang tidak boleh? Bagaimana dengan kelinci, yang hanya makan rumput, tapi tidak boleh?

Imamat tegas dan jelas membagi binatang menjadi dua, binatang haram dan binatang tidak haram. Seorang antropologis, Mary Douglas berkata lebih lanjut. Apa yang Allah nyatakan haram adalah sekumpulan binatang-binatang dengan anomali, perbedaan dengan binatang sebangsanya. Karena ikan bersirip dan bersisik, maka udang, kerang, dan belut adalah HARAM. Karena burung bersayap dan bisa terbang, maka burung unta dan kelelawar adalah HARAM. Karena binatang darat berjalan dengan empat kaki, maka ular adalah HARAM. Karena hewan ternak berkuku belah dab memamah biak, maka unta, pelanduk, kelinci, dan babi hutan adalah HARAM. Jacob Neuscher menambahkan, “Jika saya harus menjelaskan apa yang menjadikan sesuatu itu haram, itu karena bendanya abnormal, berbeda dari yang lainnya, beda dari yang semestinya.”

Esensi Haram Menurut Perjanjian Lama

Kita kemudian akan sampai pada kesimpulan mengenai aturan dalam Kitab Imamat. Esensi dari hukum-hukum Kitab Imamat adalah: larangan terhadap sesuatu yang berbeda, yang cacat. Larangan bagi binatang-binatang “cacat”. Hal ini berdampak langsung pada pola makan dari bangsa Israel. Larangan bagi binatang-binatang “cacat” juga berlaku ketika membawa persembahan atau korban kepada Allah. Korban yang hendak dipersembahkan kepada Allah haruslah tidak bercela dan tidak bercacat (Imamat 22:19-20, Ulangan 15:21). Bahkan para Imam yang cacat badannya juga tidak boleh bertugas, dipecat dari jabatan Imam (Imamat 21:17-23).

Orang-orang Israel harus mengerti betul seluruh aturan yang ada atau persembahannya ditolak oleh Allah. Ya, Allah hanya menginginkan binatang yang “bersih dan sehat”. Allah menginginkan kesempurnaan. Allah mengingkan yang terbaik. TIDAK untuk yang CACAT. LARANGAN bagi yang CACAT.

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.